Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Makam di Bukit Jubel Diperluas, Warga Desak Pemkab Menghentikan

04 Maret 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Area makam di Bukit Jubel, Dusun Belor, Kembangbelor, Kec. Pacet yang kini menjadi perbincangan warga setempat.

Area makam di Bukit Jubel, Dusun Belor, Kembangbelor, Kec. Pacet yang kini menjadi perbincangan warga setempat. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Warga mendorong pemerintah segera mengambil langkah menyikapi pemakaman di Dusun Belor, Desa Kebang Belor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Selain belum ada tanda-tanda permukiman, sebagai alasan diadakannya fasilitas umum (fasum) tersebut, hingga kini lokasi pemakaman justru diperluas. Pengasuh Vila Durian Yatim Sejahtera, Mukhidin, menjelaskan, makam yang dibangun dia atas lahan milik Sofyan Rahman, warga asal Surabaya itu memang belum dihentikan.

Secara diam-diam, pengerjaan makam terus dilakukan, meski sebelumnya pernah dihentikan pemerintah daerah tahun 2016 silam. ’’Perluasan makam kurang lebih sekitar 3 ribu meter persegi dari sebelumnya hanya 500 persegi,’’ ungkapnya.

Menurutnya, pelebaran makam sudah  berlangsung selama dua bulan. Awalnya, dia mengira aktivitas pembangunan yang diperoleh dari para pekerja menyebutkan akan dibangun vila. Seiring berjalannya waktu, dia mengetahui bahwa yang dibangun ternyata bukanlah permukiman.

Selain itu, dikembangkan lagi dengan memugar pagar kembali. ’’Tidak tahu sebenarnya apa yang menjadi dasar pembangunan makam itu. Yang jelas, itu tidak masuk akal,’’ tandasnya. Padahal, semestinya ada sebuah permukiman dan penghuninya lebih dulu, baru dilengkapi dengan penyediaan fasilitas makam.

’’Itu juga perlu dipertegas, jelas tidak hanya pembangunan rumah- rumah kosong,’’ tambahnya.Begitu juga, meski itu tanah milik pribadi, bukan berarti dapat sepihak menjadikan lahansebagai area makam. Hal itu dikhawatirkan justru menimbulkan keresahan.

’’Itu baru di sini, hal itu diterapkan,’’ tuturnya. Berbeda lagi jika permukiman tersebut sudah jelas adanya. Secara otomatis, fasum makam juga akan mengikuti. ’’Lha ini, kompleks pemakaman terus diperluas, tapi permukimannya tidak jelas,’’ imbuhnya.

Dengan demikian, dia meminya pemerintah, termasuk Muspika Pacet segera mengambil langkah sebelum polemiknya kian meluas. Apalagi, keberadaan makam baru belakangan ini dirasa cukup meresahkan. Puluhan penghuni Vila Doa atau Vila Durian terpaksa diungsikan.

Mereka yang rata-rata masih anak-anak, balita dan penghuni perempuan dikhawatirkan mengalami trauma. Menyusul, lokasi makam tersebut berdekatan dengan Vila Doa. Selain berada di dekat sumber mata air Jubel, keberadaannya juga berada di atas Makam Mbah Demung, sesepuh desa.

’’Jadi, stop pemakaman,’’ tandasnya. Mulanya, memang ada hal yang ganjil. Yakni, ditemukan belasan nisan lain yang sudah terdapat nama. Namun, belum pernah digali atau terkubur jenazah di dalamnya. Terlebih, lahan milik Sofyan dan sekelompok jamaahnya sampai saat ini belum berdiri.

Kejanggalan itu kembali terjadi usai ditemukan esok harinya. Dalam sekejap, 12 nisan makam mendadadak hilang. Penelusuran Jawa Pos Radar Mojokerto, makam diduga fiktif tersebut hanya tersisa satu pasang nisan saja.

Padahal, sebelumnya di lahan seluas 45 x 30 meter ini terdapat belasan pasang nisan yang berjajar lengkap dengan nama. Sementara Camat Pacet, Mokhammad Malik belum memberikan keterangan resmi. Beberapa kali Jawa Pos Radar Mojokerto mengonfirmasi belum juga ada tanggapan.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia