Jumat, 24 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Sportainment
Nasib Pemain Pasca PSMP Disanksi Tiga Tahun

Kembali Berdinas hingga Fokus Kumpul Keluarga

28 Februari 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Para penggawa PSMP usai berlaga di babak 64 besar Piala Indonesia di Stadion Jala Krida, Kodikal AAL, Bumimoro, Perak, Surabaya, Desember lalu.

Para penggawa PSMP usai berlaga di babak 64 besar Piala Indonesia di Stadion Jala Krida, Kodikal AAL, Bumimoro, Perak, Surabaya, Desember lalu. (dokumen radarmojokerto.id)

Nasib dan masa depan seseorang tidak ada yang tahu. Sempat di atas angin dengan capaian prestasi, skuad PS Mojokerto Putra (PSMP) kini justru terperosok tajam pasca disanksi Komding PSSI larangan berkompetisi selama tiga tahun.

Lantas, bagaimana masa depan para pemain Laskar Majapahit asli Mojokerto?

MASIH terngiang betul dalam ingatan pemain bernomor punggung 87 ini ketika peluit panjang berbunyi tanda berakhirnya pertandingan leg kedua babak 32 besar Piala Indonesia, Rabu (6/2).

Riuhnya pendukung Laskar Pesut Etam di Stadion Segiri Samarinda kala itu seperti dianggap ocehan tak penting. Semua penggawa pun tertunduk lesu. Tidak hanya lapangan, di bench pemain mereka turut merasakan kehampaan atas situasi yang terjadi.

Bukan hanya soal kekalahan telak 0-6 atas tuan rumah, sehingga langkah mereka harus terhenti di babak 32 besar. Tapi, juga soal nasib tim kebanggaan yang mereka bela selama semusim ke depan. Seolah ikut merasakan kepahitan mendalam atas sanksi yang dijatuhkan.

Bahkan, capaian prestasi tim yang menembus babak 8 besar Liga 2 selama dua musim berturut-turut tidak lagi menjadi kebanggaan. Semuanya kembali seperti kala PSMP masih menapaki di level bawah. Dan, hari itu sekaligus menjadi hari terakhir 19 penggawa PSMP yang tersisa berkumpul.

Esok harinya, mereka sudah pulang ke kampung halaman masing-masing atau bertolak ke kota lain untuk mengadu karir di klub yang lebih baik. ’’Setelah pertandingan itu teman-teman langsung bubar sendiri-sendiri. Termasuk kita ya langsung pulang ke Mojokerto,’’ tutur Dwi Yusuf Purnomo, pemain PSMP asli Mojokerto.

Ya, Yusuf memang salah satu produk lokal asal bumi Majapahit yang beruntung bisa membela skuad tim merah-hitam di Liga 2 musim 2018. Pria asal Desa Kembangringgit, Kecamatan Pungging ini telah dua kali membela PSMP di kompetisi profesional.

Selain di Liga 2 musim 2018, Yusuf juga pernah berseragam merah-hitam saat PSMP berkompetisi di ISC B 2016 lalu. Sebuah kebanggaan tersendiri baginya bisa membela tim tanah kelahiran.

Sebab, saat merintis karir sepak bola sejak usia dini, Yusuf tidak pernah merasakan sentuhan pembinaan sepak bola ala klub Mojokerto. ’’Sejak usia 12 tahun, saya justru ikut latihan di klub internal Persebaya. Terus pas remaja ikut diklat di Perseba Bangkalan. Jadi, bukan asli binaan klub internal Mojokerto,’’ ungkapnya.

Namun, prihatin mendalam tak bisa ia sembunyikan ketika tim yang dibanggakan kini harus diganjar hukuman berat oleh PSSI akibat dituding terlibat match fixing. Hingga membuat dirinya dan rekan pemain lain harus mencari klub sebagai pelabuhan karir berikutnya.

Akan tetapi, kesedihan Yusuf lambat laun mulai terlupakan. Sebab, ada tugas lebih penting yang tak bisa ia tinggal. Statusnya sebagai prajurit TNI di Pomdam V/Brawijaya membuat pria 24 tahun ini harus setia terhadap korps.

Sehingga ia kini harus kembali berdinas seperti halnya prajurit TNI lain di masing-masing kesatuan. ’’ Sejak kontrak bersama PSMP habis saya dinas lagi. Tapi, sekarang saya pindah di Kodam V/Brawijaya agar dekat dengan rumah,’’ tambahnya.

Selain Yusuf, ada satu lagi pemain lokal Mojokerto yang juga berdinas sebagai TNI. Reni Pujianto, pemain asli kelahiran Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo ini juga harus kembali berseragam dinas TNI AU di skuadron Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Meski jarang diturunkan sebagai starter, namun Reni cukup profesional dalam menjalani karirnya di sepak bola. ’’Ya Reni juga sudah balik ke Jakarta. Pokoknya setelah pulang dari Samarinda langsung balik ke kesatuan,’’ tandas Yusuf.

Selain berstatus prajurit, ada dua pemain PSMP yang asli lokal Mojokerto. Yakni, Kartanto yang asli Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, dan Ari Budiawan asal Bangsal. Saat dikonfirmasi soal karir setelah PSMP diganjar sanksi, Memet sapaan akrab Kartanto mengaku masih ingin menikmati liburan bersama keluarganya di rumah.

Bahkan, beberapa hari ini ia mengaku bolak-balik Mojokerto-Lombok hanya untuk mempererat tali silarahim dengan keluarga besar disana. Ia mengaku ingin menebus hari-hari lalu yang hanya terkonsentrasi pada tim kebanggaannya sejak kecil, PSMP.

Meski begitu, pemain bernomor punggung 8 ini tetap memikirkan karirnya setelah tidak mungkin lagi berseragam merah-hitam lantaran diganjar sanksi larangan bermain tiga tahun. ’’Saya masih di Lombok dengan keluarga. Kalau soal klub, sudah ada komunikasi, tapi belum bisa saya kasih tahu sekarang,’’ pungkasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia