Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Zona Muda
Cerita Pendek

Penghasut Itu Bernama Iblis dan Setan

25 Februari 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Desain grafis Nadzir/radarmojokerto.id)

ENTAH mengapa di suatu masa, Iblis dan Setan mengalami kesulitan menghasut manusia. Iblis pun akhirnya berdiskusi dengan Setan. Mencari tahu penyebabnya.

’’Apa sebabnya kita jadi sulit menghasut manusia?” tanya Iblis.

’’Itu karena kita salah pilih korban.”

’’Seharusnya orang-orang berniat jahat bukan mereka yang niatnya baik.”

’’Karena bila niat jahatnya digoda, bukan tak mungkin mereka bisa jadi kalap.”

’’Teman kita di Neraka pun akan tambah jumlahnya,” jelas Setan. Iblis serius memperhatikan.   

’’Caranya?” Iblis bertanya.

’’Tuhan tak suka yang palsu-palsu. Jadi kita beri manusia harapan palsu, impian palsu, harga diri palsu hingga pilihan palsu.”

’’Bisa dicoba.” Iblis tampak senang. Setan pun juga senang.

’’Oke, kalau begitu siapa yang bakal jadi teman kita di Neraka berikutnya?” tanya Iblis. Setan pun mulai menyeleksi.

’’Ini saja.”

’’Ia punya niat jahat untuk korupsi.”

’’Tinggal kita perbesar saja niat jahatnya itu,’’ jawab Setan yang langsung memilih seorang laki-laki yang tak pernah mensyukuri nikmat apapun dari Tuhan. Iblis langsung sepakat. Keduanya segera mengatur strategi.

Kali ini, peran penghasut diserahkan pada Setan. Mengimingi calon temannya di Neraka itu dengan jabatan dan uang banyak. Serta tak lupa menghasutnya untuk korupsi.

***

Hingga beberapa minggu kemudian, si laki-laki itu tertangkap tangan oleh KPK. Lalu sebulan berikutnya, ia disidangkan.

’’Hari ini sidang korupsi dibuka.”

’’Terdakwa, apakah anda siap disumpah?” Bu Hakim bertanya tegas kepada seorang laki-laki yang berdiri di depan meja sidang. Ia hanya terdiam. Tampak ada secercah rasa takut di matanya.

’’Tak perlu takut disumpah.”

’’Buatlah sumpah palsu. Karena sesungguhnya sesuatu yang palsu itu terasa nikmat dan menyenangkan.” Setan mulai penghasutan.

’’Jadi berdustalah.”

’’Kami selalu ada dibelakangmu, jangan takut.”

’’Jadilah teman kami, maka kamu akan aman.”

Sikap si laki-laki perlahan mulai tenang. Tampak senyum tipis di bibirnya.

’’Terdakwa, apakah anda siap disumpah?” Bu Hakim mengulangi perkataannya.

’’Siap, Bu Hakim.” Ia menjawab tanpa ragu. Tak ada lagi rasa takut di matanya. Lalu seorang rohaniawan datang dan langsung mengangkat sebuah kitab suci di atas kepalanya.

’’Ikuti kata-kata saya.” Ia pun mengikuti setiap perkataan Bu Hakim dengan jelas.

Lalu persidangan pun segera dimulai. Namun sepanjang jalannya persidangan, si laki-laki itu selalu menjawab dusta setiap pertanyaan Bu Hakim. Jaksa penuntut menjadi kesal dibuatnya. Para pengunjung sidang mulai terpancing emosi. Namun petugas keamanan berhasil mengendalikan suasana.

’’Akhirnya, ada juga yang bisa kita hasut.” Iblis kegirangan ketika Setan mengabari keberhasilan dalam menghasut. Setan juga sama senangnya, Karena kini teman keduanya di neraka jadi bertambah satu.

’’Teruskanlah… agenda menghasut manusia, Setan.”

’’Semakin banyak yang berhasil kita hasut maka semakin penuh neraka ini. Jayalah kita,” kata Iblis penuh percaya diri. Lalu Setan pun mulai bergerilya melakukan penghasutan.

***

Sudah sepekan lamanya, suara-suara Setan itu terngiang di dalam rongga telinga Adi. Entah darimana datangnya, Adi tak tahu. Tapi yang jelas, suara-suara Setan itu membuatnya susah memejamkan mata di malam sebelum hari pencoblosan. 

’’Berikan suaramu. Berikan suaramu.” Bunyi suara-suara Setan itu menyeru. Terus berulang-ulang. Kini seakan sudah masuk ke dalam alam bawah sadar Adi. Lalu kemudian inggap dan bercokol di sana.

Adi diam. Tak menjawab maupun bertanya kembali. Mencoba menerka suara apa yang dimaksudnya.

’’Apa suaraku di pemilukada ya?” Ia  mencoba menebak.

Setelah berhenti sepersekian menit, suara-suara Setan itu kembali terdengar lagi. Terus memperdengarkan kalimat sama yang diulang-ulang.

’’Berikan suaramu.”

’’Berikan suaramu.” Seakan-seakan mengelilingi Adi. Kadang lirih, terkadang keras. Ia berusaha tak mempedulikannya.

Adi bangkit dari tempat tidur. Berjalan ke kamar mandi. Ambil air wudu. Kembali ke kamar. Berbaring, mencoba menenangkan diri.

Tiba-tiba, suasana menjadi hening sejenak. Suara-suara Setan itu tak terdengar lagi. Adi menghela napas. Menarik selimut dan tidur.

Tapi di alam mimpi, suara-suara Setan tiba-tiba berubah menjadi sesosok makhluk yang mengerikan. Wajahnya tampak menyeringai buas. Kedua bola matanya lekat memandang. Mempunyai taring-taring tajam yang ingin mencabikku. Kuku-kukunya yang runcing juga siap menguliti.

Adi benar-benar ketakutan sekali. Lalu berusaha bangun. Tapi tidak bisa. Adi terus meronta. Tangan dan kakinya, ia gunakan untuk melawan. Tak lupa doa pun disematkan.

’’Di, bangun. Kamu kenapa?” suara ayah membangunkan Adi.

’’Aku ra popo,” katanya sambil menggelengkan kepala.

’’Sudah pagi, bersiap ke TPS,” perintah ayah. Adi tidak menjawab. Terpana melihat bajunya penuh keringat.

’’Aku nanti saja, Yah,” kata Adi sambil berganti baju,

’’Masih keringetan,” lanjutnya. Ayah mengangguk. Meninggalkan Adi sendiri dalam kamar.

Suara-suara Setan itu kembali terdengar lagi. Berulang kali.

’’Berikan suaramu.”

’’Berikan suaramu.”

Adi menutup kedua daun telinga dengan tangannya. Malah semakin keras terdengar. Tangan pun dilepaskannya. Suara-suara Setan itu jadi terdengar pelan. 

Akhirnya, Adi tak pedulikan. Duduk di pinggir tempat tidur, termenung sendiri. Menunggu tubuh kering dari keringat.

’’Apa baiknya aku golput saja?”

Pikiran Adi menerawang kembali ke pemilukada tahun 2005 dan 2010 lalu. Ia masih bersemangat ketika itu. Semua janji para calon bupati  dipercayainya. Walaupun tak seratus persen.

Tak pernah terbersit untuk golput. Adi masih percaya ketika itu.

’’Konyolnya aku.” Adi tersenyum mengingat kejadian di masa lalu.

’’Kini habis manis, sepah dibuang,” gerutunya sendiri.

Aneh Adi rasakan, suara-suara Setan itu tiba-tiba mengecilkan volumenya. Mungkin lelah sendiri karena tak ia tanggapi.

’’Di, ayo siap-siap.” Ayah kembali mengingatkanku. Handuk di atas kursi, ia ambil. Bergegas ke kamar mandi. Walaupun keringat belum benar-benar kering, Adi tetap mengguyurkan air ke seluruh tubuh.

’’Ah segarnya.” Adi sudah berganti baju. Memakai baju yang terbaik, itu saran ayah. Ia hanya menuruti. Lama mematut diri di cermin. Menyisir rambut, membetulkan kerah baju dan menyemprotkan minyak wangi.

’’Berikan suaramu.”

’’Berikan suaramu.” Suara-suara Setan itu nyaring kembali volumenya. Kali ini dengan iramanya lebih menyayat hati.

Adi berusaha tenang. Tapi suara-suara Setan itu semakin tambah nyaring saja bunyinya. Lalu ia mencoba mengajak berbicara baik-baik.

’’Hentikan!” kata Adi. Suara-suara Setan mendadak terhenti,

’’Apa yang kalian mau?”

’’Suaramu di pemilukada.” Setan menjawab

’’Untuk siapa?”

’’Nanti kamu tahu.”

’’Aku tak mau.”

’’Baiklah, aku terus bersuara sampai kamu berikan suaramu.” Adi terdiam, tak menanggapi.

’’Berikan suaramu!”

’’Berikan suaramu!!”

’’Berikan suaramu!!!” suara-suara Setan itu semakin tambah nyaring bunyinya. Gendang telinga Adi sakit sekali mendengarnya. Terus bergaung keras.

’’Oke.. Oke, aku turuti mau kalian.” Adi akhirnya mengiyakan. Suara-suara Setan itu pun kembali mengecilkan volumenya. Nyaris tak terdengar.

’’Di, ayo berangkat.” Ayah menepuk bahu Adi. Mengajaknya berangkat ke TPS. Tak begitu jauh dari rumah. Hanya berjalan sepuluh menitan sudah sampai.

Tiba di sebuah TPS yang berada dalam bangunan kampus kecil. Di sampingnya, ada masjid yang tak begitu besar tapi dua tingkat. Adi masuk ke ruangan TPS. Menunjukkan kertas undangan memilih kepada panitia. Lalu disuruh duduk menunggu.

Di tempat duduk, Adi lagi-lagi termenung. Pemilukada lima tahun sebelumnya, ia juga memilih di tempat ini. Ruangannya sama sekali tak berubah. Masih berbau perkuliahan.

Belum lima menit duduk, terdengar nama Adi dipanggil. Panitia menyodorkan kertas suara. Diperiksanya sebentar. Tak didapati ada yang rusak. Lalu masuk ke bilik suara.

’’Pilih saja itu.”

’’Pilih saja itu.” Suara-suara Setan itu kembali nyaring terdengar. Menghasut Adi untuk mencoblos pilihannya. Ia jelas menolak karena kutahu track record-nya tak baik. Tapi suara-suara Setan itu tak mau tahu. Semakin mengeraskan volume bunyinya. Dan ia pun terpaksa menurutinya.

Seakan sudah terpuaskan, suara-suara Setan itu mulai menghilang. Entah hilang kemana, bagi Adi tak penting. Karena yang terpenting, ketenangan hidupnya sudah kembali seperti semula.

Setelah mencelupkan jari kelingking, Adi berjalan lesu keluar dari TPS. Pilihannya kali ini palsu, karena tak sesuai kata hati. Sesal memang selalu datang terlambat.

Tiba-tiba terdengar sang ayah memanggil namanya dari belakang. Menyuruhnya berjalan sedikit lebih pelan. Adi berhenti sejenak. Menunggu ayah menghampirinya. Lalu berjalan beriringan.

Tampak oleh Adi, wajah semringah ayah. Ia hanya bisa menduga pilihannya sudah sesuai kata hati. Beda jauh dengannya.

Di atas langit, Setan dan Iblis pastilah tampak senang melihat Adi sudah menuruti keinginannya. Keduanya seolah sudah bersiap menyambutnya di pintu gerbang neraka nanti, tempat yang jelas tak mau Adi masuki. (*)

Cerpen Herumawan P.A.

Jogjakarta, 18 Februari 2019

*Herumawan Prasetyo Adhie. Seorang pejalan kaki yang lebih memilih naik trans Jogja atau becak ketimbang kendaraan pribadi, dan juga pemerhati sepak bola serta suka sekali menulis apapun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita anak, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram). Karya cerpen saya pernah dimuat di Apajake.com, Bangka Pos, Banjarmasin Pos, Harian Jogja, Harian Analisa Medan, Harian Rakyat Sultra, Inilah Koran, Joglosemar, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Majalah Kuntum (Muhammadiyah), Majalah Story, Minggu Pagi, Republika, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Jombang, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Serambi Ummah, Solopos, Tabloid Nova dan Utusan Borneo.

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia