Sabtu, 21 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Herman Efendi, Pegiat Wayang Beber

Angkat Cerita Panji, Pelajari Karakter hingga Telusuri Relief Candi

23 Februari 2019, 20: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Herman Efendi menunjukkan wayang beber yang belum rampung saat ditemui di rumahnya di Balongrawe, Kel. Kedundung, Kec. Magersari.

Herman Efendi menunjukkan wayang beber yang belum rampung saat ditemui di rumahnya di Balongrawe, Kel. Kedundung, Kec. Magersari. (Fendy Hermansyah/radarmojokerto.id)

Satu lagi pegiat kesenian tradisional wayang. Adalah Herman Efendi warga Lingkungan Balongrawe Baru, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari.

Dia menggeluti kesenian wayang beber cerita Panji. Disebut satu-satunya seniman yang angkat budaya Panji di Mojokerto.

TAK banyak barang berukuran besar di ruang tamu salah satu warga Balongrawe Baru ini. Kebanyakan adalah tumpukan kertas gambar dan beberapa sketsa yang belum rampung. Meja kecil yang disandarkan tembok berisi koleksi sketsa dan contoh karya gambar.

Rumah bertembok bata itu kediaman Herman Efendi. Dengan gaya santai, dia menemui Jawa Pos Radar Mojokerto. Menggunakan celana pendek dan kaus putih lengan panjang bertuliskan Berteman dengan Kematian. Pergelangan tangan kiri penuh gelang kayu dan aksesoris.

’’Awalnya saya iseng saja,’’ jawab Herman ketika ditanya tentang kegemarannya akan wayang beber. Namun, jawaban itu mungkin sekadar pemanis atau sikap rendah hati. Pasalnya, ketika diminta bercerita lebih jauh, ternyata banyak hal yang mendasari kesukaannya akan wayang disebut-sebut lebih tua dari wayang purwa tersebut.

Bapak dua anak ini dulunya seorang pegiat seni rupa. Lukisan, patung, hingga barang kerajinan lainnya, kerap dia bikin. Namun, lebih banyak didominasi lukisan. Itu diawali hobi sejak masih muda. Herman muda berlatih menggambar menghabiskan kertas satu rim tiap harinya. ’’Tiap hari pergi ke tempat entah itu pasar, warung kopi, atau lainnya membuat sketsa, saking inginnya bisa menggambar,’’ ujar pria asal Sambiroto, Kecamatan Sooko, Mojokerto ini.

Hobi menggambar berkembang menjadi melukis. Lukisan kanvas didalaminya betul. Selain belajar sendiri, dia kerap bersentuhan dengan pelukis-pelukis senior. Dari situ, pengetahuan kerap diserap meski secara tidak langsung. Karya lukisnya pun sempat masuk pameran dan galeri.

Hanya saja, suatu ketika, sekitar tahun 2013-2014, dirinya mengalami traumatik parah. Itu terjadi lantaran salah satu lukisan yang dipesan seseorang dijadikan media sembahyangan. ’’Dari situ, saya merasa malas untuk melukis lagi,’’ cetusnya.

Di sisi lain, Herman dikenalkan salah seorang koleganya dengan wayang beber. Wayang yang mengangkat cerita budaya panji. Cerita budaya tentang sosok raja di daerah Kediri sebelum Kerajaan Majapahit. Ketertarikannya itu tak lepas dari bentuk wayang beber yang berbeda dengan bentuk wayang lainnya.

Wayang beber berupa babakan cerita wayang yang dituangkan dalam media kertas-kalau sekarang kain-berisi beberapa episode cerita wayang. ’’Saya merasa karya budaya ini jauh lebih bisa bercerita dibanding lukisan. Sehingga saya sangat tertarik,’’ ungkap Herman.

Dari situ, pergulatannya dengan wayang beber dimulai. Diketahui, wayang beber yang asli hasil tinggalan era Majapahitan, tinggal dua yang berada di Pacitan dan Gunung Kidul. Di dua kawasan itu, pegiat wayang beber banyak berkembang. Herman banyak bersinggungan dengan komunitas pencinta wayang beber di situ.

Empat jagong, istilah satu gelaran wayang beber, sudah dibikin Herman. Meski, keempatnya belum selesai sempurna. Bisa dikatakan baru 50 persen wayang beber bikinannya rampung. ’’Ini sudah saya buat beberapa tahun lalu. Masih proses sampai sekarang,’’ tukasnya yang kemudian membeber satu jagong bertemakan Ande-Ande Lumut.

Selain itu, Herman juga tengah membikin karakter wayang beber khas Mojokertoan. Satu per satu karakter wayang dibuatnya. Seperti, wayang Raden Panji, Dewi Sekartaji, Kelono, Tembem, sampai rakyat jelata. ’’Karakter wayang ini saya berupaya tidak menjiplak wayang beber Soloan ataupun Pacitan mentah-mentah,’’ sambung pria yang juga pekerja kreatif ini.

Karakter wayang bikinannya sebagaimana mungkin dibikin atas dasar yang kuat. Salah satunya riset. Baik pengamatan langsung bentuk wayang hingga penelusuran di komunitas, hingga literasi.

Bahkan, untuk mengetahui karakter Panji atau Dewi Sekartaji, dia bahkan mengamati langsung ke candi yang memuat arca dua sosok tersebut. ’’Jadi di candi-candi di Penanggungan, Candi Penataran Blitar itu ada relief sosok wayang itu,’’ bebernya.

Di samping itu, dia juga kerap berdiskusi hingga berkorespondensi dengan antropolog maupun peneliti budaya panji, Lydia Keiven asal Jerman. ’’Dari beliau saya dapat banyak referensi. Beliau bilang saya ini masih satu-satunya seniman budaya Panji di Mojokerto,’’ tukas penyuka naik gunung ini.

Dia pun juga mengakui, pembuatan wayang beber adalah sebuah pencapaiannya sebagai pengkarya, lantaran enggan disebut seniman. Sehingga, dia enggan menilainya dalam bentuk uang. ’’Wayang beber itu warisan leluhur. Cikal bakal komik itu dari situ,’’ sambungnya.

Meski begitu, dirinya merasa riset dan penggalian informasi terkait wayang bebernya belum sepenuhnya rampung. Dia merasa masih banyak karakter yang perlu disketsa ulang. Disesuaikan dengan karakter Mojokertoan. ’’Ini proses panjang. Karena ingin membuat wayang beber yang khas Mojokertoan,’’ tukas dia. 

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia