Kamis, 17 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Harga si Pedas di Kalangan Petani Anjlok

22 Februari 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Petani di Desa Temuireng, Kec. Dawarblandong, menunjukkan cabai yang dipanen di sawahnya.

Petani di Desa Temuireng, Kec. Dawarblandong, menunjukkan cabai yang dipanen di sawahnya. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Memasuki masa panen cabai kali ini membuat petani di wilayah utara Sungai Brantas belum bisa tersenyum lega. Menyusul, harga si merah di tingkat petani sekarang dirasa tidak bersahabat atau jatuh hingga Rp 9 ribu per kilogram.

Seperti yang terpantau di Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Memasuki awal panen ini, harga komoditas bumbu dapur tersebut menunjukkan tren yang cukup murah. ’’Harganya hanya Rp 9 ribu per kg,’’ ungkap Kasto, salah satu warga. Dengan harga serendah itu tentu membuat para petani mengalami kerugian.

Sebab, hasil penjualan panen tidak sebanding dengan biaya perawatan. Apalagi, tanaman cabai selama ini membutuhkan perawatan ekstra. Untuk sekali tanam, mereka harus melakukan penyemprotan pestisida secara berkala. Hal itu sekaligus menghindari serangan hama pada tanaman. ’’Kalau tidak dilakukan, pasti banyak hama menyerang,’’ terangnya.

Belum lagi biaya yang harus dikelurkan untuk proses pemupukan tidak murah. Selain itu, cuaca ekstrem belakangan ini membuat tanaman cabai rentan mati atau terpapar penyakit. ’’Termasuk buah cabainya juga rentan membusuk,’’ tuturnya.

Menurut Kasto, ketimpangan harga cabai cukup terasa pada musim panen kali ini. Sebab, terjadi ketimpangan harga di tingkat pedagang cabai di pasar.  Pedagang masih bisa menjual dengan harga Rp 25 per kg. Dengan demikian, kalangan petani berharap, pemerintah segera menstabilkan harga agar tidak mengalami kerugian. ’’Apalagi, wilayah utara sungai ini, komoditas cabai cukup besar,’’ pungkasnya.

Komari, petani lainnya mengaku cabai yang menjadi komoditas andalan petani utara sungai sekarang tidak bisa diandalkan lagi. ’’Padahal, tahun lalu tidak begini. Sekarang tidak tahu, kok hanya Rp 9 ribu-Rp 11 ribu per kg. Itu pun untuk cabai merah,’’ tuturnya. Ironinya lagi, belum kembali modal, buah cabai milik para petani sudah banyak terserang penyakit petek. Serangan jamur gloesporium hingga buah cabai membusuk diduga karena faktor cuaca ekstrem.

Bahkan, hujan disertai angin yang masih terjadi juga membuat tanaman cabai banyak yang mati dan mengering. ’’Selain buah, cabainya membusuk berwarna hitam, tanamannya tiba-tiba mengering,’’ tegasnya. (ori/ris)

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia