Jumat, 19 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Kuliner Belalang di Kabupaten Mojokerto

Hanya di Musim Semi, Tembus Rp 1 Juta Per Hari

20 Februari 2019, 22: 06: 35 WIB | editor : Mochamad Chariris

Belalang yang sudah digoreng kering siap dijual.

Belalang yang sudah digoreng kering siap dijual. (Fatmawati for radarmojokerto.id)

Tidak semua hama bersifat merugikan. Adakalanya justru menjadi tumpuan manusia dalam meraup pundi-pundi rupiah. Salah satunya belalang yang kini banyak diburu orang untuk dijadikan kuliner khas bernilai jual tinggi.

TIDAK perlu ribet. Cukup dihilangkan kakinya lalu dimasak. Bisa digoreng kering atau ditumis dengan bumbu pedas. Atau jika ingin lebih mewah, bisa dimasak dengan bumbu krispi. Setelah matang, tiriskan sebentar lalu sajikan dalam piring bersama nasi hangat. Atau bisa juga disajikan sebagai cemilan atau makanan ringan sembari mengisi waktu kosong.

Ya, belalang akhir-akhir ini memang tengah nge-hits sebagai makanan unik yang banyak diburu. Khususnya bagi masyarakat Kabupaten Mojokerto yang tinggal di utara Sungai Brantas. Berburu belalang untuk dijadikan santapan kuliner seolah telah menjadi tradisi kala musim semi tiba.

Di mana, serangga herbivora dari keluarga caelifera dalam ordo orthoptera ini banyak bertebaran di sawah dan hutan. Sifatnya sebagai hama pun tak menyurutkan sejumlah petani untuk berburu serangga musiman ini untuk dijual kepada para pembeli.

Salah satunya Fatmawati. Perempuan asal Desa Suru, Kecamatan Dawarblandong ini sengaja berburu belalang untuk dijual kembali ke masyarakat luas. Namun, penjualannya dalam bentuk matang atau tinggal disantap dan disajikan.

Meski awalnya sempat menjijikkan, namun santapan belalang ternyata mampu menghasilkan pundi-pundi uang hingga jutaan rupiah. ’’Saya sudah tiga minggu ini usaha jual beli masakan belalang. Nilai jualnya tinggi karena belalang tidak muncul setiap saat atau musiman,’’ tuturnya.

Fatma memang tergolong pintar dalam membaca peluang. Bahkan, ia pun berinovasi dengan segala rupa agar kuliner belalang miliknya memiliki nilai jual tinggi. Termasuk soal pemasarannya yang tidak lagi mengandalkan cara konvensional dengan dititipkan di toko atau dijual langsung ke pembeli.

Namun, ia pasarkan secara online. Baik di medsos maupun di grup jual beli online. Tidak hanya satu jenis media, pola pemasaran pun ia buat viral dengan memberikan tagar makanan unik, Sehingga menyita perhatian banyak netizen. ’’Biasanya lewat facebook, dan Instagram. Kita kirim lewat paket kiriman atau bisa juga COD (cash on delivery),” ujarnya.

Terang saja, baru tiga minggu berbisnis, perempuan 25 tahun ini mengaku telah mendapatkan pundi-pundi uang hingga jutaan rupiah. Dalam sehari, ia pun bisa mendapatkan omzet dari produk makanannya senilai Rp 1,5 juta.

Namun, pendapatan sebanyak itu tidak menentu. Ketika sepi, ia masih bisa mengantongi uang Rp 400 ribu sampai Rp 800 ribu. Untuk nilai produk, ia bisa menjual seharga Rp 30 ribu per bungkus seberat 1 ons.

Dalam sehari, ia bisa menjual setidaknya 3 sampai 4 kg belalang dengan semua bentuk kemasan. ’’Kalau ramai ya bisa lebih dari satu juta. Beli mentahnya Rp 150 ribu per kg, dijual eceran per satu ons harganya Rp 30 ribu,’’ tambah aktivis muda NU Dawarblandong ini.

Tidak hanya lokal Mojokerto, pelanggan produk belalang milik Fatma ternyata mampu menembus luar kota, bahkan luar pulau. Mulai dari Kalimantan, Sulawesi hingga Sumatera. Namun, ia mengaku bisnis kuliner unik khususnya belalang tidak bisa bertahan lama.

Selain bukan jenis produk primer, pasokan bahan baku berupa belalang cokelat dan hijau ini tidak selamanya tersedia alias musiman. Sehingga ia berbisnis ketika musim semi atau awal musim hujan tiba. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia