Senin, 14 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Tahun Ini, Tren Tertinggi Kasus DBD di Kota Mojokerto

18 Februari 2019, 22: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Balita pasien DBD saat masih menjalani perawatan di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto.

Balita pasien DBD saat masih menjalani perawatan di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

MOJOKERTO - Sepanjang 2010, tren kasus DBD di Kota Mojokerto menjadi yang paling tinggi. Betapa tidak, selama kurang dari dua bulan ini sudah tercatat 12 warga yang dirawat akibat tergigit nyamuk aedes aegypti.

Itu dikatakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto Ch Indah Wahyu. Menurutnya, adanya selusin warga kota yang terjangkit di awal tahun ini menjadikan tren kasus DBD tertinggi selama hampir satu dekade terakhir.

"Sejak 2010, belum ada tren kasus di periode Januari-Maret sampai sebanyak ini,’’ paparnya. Menurutnya, meningkatnya kasus DBD tidak lepas saat peralihan musim penghujan. Yakni pada periode Oktober hingga Desember. Namun, selama triwulan akhir 2018 lalu itu justru tidak ditemukan adanya kasus.

Data grafis kasus DBD di Kota Mojokerto.

Data grafis kasus DBD di Kota Mojokerto. (Grafis Nadzir/radarmojokerto.id)

Akan tetapi, pada periode awal tahun 2019 ini justru terjadi kenaikan yang signifikan. Selama Januari sudah terlaporkan 7 kasus. Bahkan, sampai pertengahan Februari ini bertambah 5 kasus. ’’Dua bulan ini sudah ada 12 kasus DBD,’’ bebernya.

Sebaran warga yang terjangkit DBD tersebut hampir tersebar merata di tiga kecamatan. Di antarnya, di Kelurahan Pulorejo, Surodinawan, dan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon.

Selain itu juga terdapat di Kelurahan Balongsari dan Kedundung, Kecamatan Magerasi. Warga yang terjangkit DBD juga ditemukan di Kelurahan/Kecamatan Kranggan.

Menurutnya, angka tersebut melonjak drastis dibanding temuan kasus tahun sebelumnya. Sepanjang 2018 lalu, Dinkes Kota Mojokerto hanya menerima laporan 11 kasus (selengkapnya lihat grafis). Atas kondisi tersebut tentu menjadi ancaman bagi warga Kota Onde-Onde.

Disinggung terkait upaya yang dilakukan pemkot, pihaknya mengaku telah menggalakkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Upaya untuk memburu jentik itu dilakukan rutin setiap pekan.

Terkait desakan sejumlah pihak untuk dilakukan fogging, indah mengaku PSN masih menjadi menjadi cara yang paling efektif untuk memutus perkembang biakan nyamuk. Sebab, pengasapan hanya mampu memberantas nyamuk dewasa.

’’Ketika masyarakat tidak kerja bakti dan masih ada jentik, fogging menjadi percuma. Karena jentik akan menjadi nyamuk dewasa lagi,’’ paparnya. Kendati demikian, pihaknya menyatakan tetap memberlakukan fogging.

Namun, cara itu hanya dilakukan ketika dinilai ada kondisi penyebaran DBD yang berpotensi mewabah. Yaitu, jika memenuhi kriteria terdapat tiga warga DBD yang terjangkit dengan satu wilayah dan waktu yang sama. ’’Karena ada penyebaran yang cepat, maka itu harus fogging,’’ tandasnya.

Indah menegaskan, PSN tidak hanya mengantisipasi dari ancaman DBD. Melainkan juga dari penyakit lain yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Salah satunya adalah chikungunya yang virusnya juga dapat terbawa oleh nyamuk aedes aegypti.

Selain itu, juga ada penyakit malaria. Namun, kata Indah, penyakit yang disebabkan oleh parasit plasmodium ini ditularkan oleh jenis nyamuk berbeda, yaitu anopheles. ’’Nyamuk itu ada di luar rumah dan kebun,’’ tandasnya.

Dia menyebutkan, tahun ini sudah ada laporan satu warga kota yang terjangkit penyakit berbahaya itu. Namun, Indah memastikan bahwa warga tersebut terjangkit saat berada di luar kota. Akan tetapi, baru diketahui saat kembali pulang ke Kota Onde-Onde.

’’Kebetulan dia relawan. Kena malaria saat membantu bencana di Palu,’’  ungkapnya. Selain itu, ancaman lainnya adalah melalui vektor nyamuk adalah filariasis atau yang dikenal penyakit kaki gajah.

Selain itu juga Japanese enchephalitis atau penyakit radang otak akibat virus yang terbawa oleh nyamuk. Bahkan, tegas Indah, tidak menutup kemungkinan kedua penyakit tersebut juga bisa berasal dari gigitan jenis nyamuk.

’’Jadi PSN tidak hanya mengantisipasi DBD saja. Tapi juga menyelamatkan dari malaria, kaki gajah, penyakit yang vektornya juga dari nyamuk,’’ pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia