Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader

Selama Tidak Ada Kerja Bakti, Fogging Menjadi Percuma

18 Februari 2019, 21: 50: 58 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kepala Dinkes Kota Mojokerto Ch Indah Wahyu.

Kepala Dinkes Kota Mojokerto Ch Indah Wahyu. (dokumen radarmojokerto.id)

Hampir di semua daerah mengalami tren peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD), tak terkecuali di Kota Mojokerto. Namun, tidak sedikit dari masyarakat yang kurang memahami tanda-tanda gejala terserang DBD.

Bahkan, tidak jarang yang menganggap sebagai demam biasa atau menderita penyakit lainnya. Berikut perbincangan wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto Rizal Amrulloh bersama Kepala Dinas Kesehatan Kota Mojokerto Ch Indah Wahyu.

Apa yang dimaksud dengan DBD?

DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk. Dalam hal ini, vektor utama pembawanya adalah nyamuk jenis aedes aegypti.

Aedes aegypti adalah jenis nyamuk yang perkembang biakannya lebih banyak ditemukan di bak mandi maupun penampungan air dalam rumah. Namun, tempat penampungan air maupun genangan air di luar rumah juga bisa menjadi sarang jentik.

Seperti apa tanda-tanda seseorang terserang DBD?

Kriteria diagnosis infeksi dengue bisa dilakukan dengan diagnosis klinis. Penyakit DBD memiliki karakteristik gejala dan tanda utama. Yaitu, demam tinggi yang mendadak. Biasanya berlangsung secara terus menerus dan berlangsung selama dua sampai tujuh hari.

Untuk itu, jika terjadi demam apa pun segera melakukan pemeriksaan ke faskes (fasilitas kesehatan). Karena dengan kewaspadaan sejak dini itu, pasien DBD dapat diketahui dan mendapatkan penanganan sejak fase awal.

Perbedaan dengan gejala penyakit lainnya?

Pada fase awal bisasnya juga ditandai gejala penyerta lainnya. Seperti rasa nyeri di kepala, nyeri otot dan tulang, serta mengalami ruam pada kulit. Namun, untuk memastikan harus dilakukan penegakan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium.

DBD dapat ditegakkan bila ditemukan turunnya jumlah trombosit yang kurang dari 100 ribu per milimeter kubik. Selain itu mengalami peningkatan hematokrit lebih dari 2 persen. Kondisi itu merupakan tanda adanya kebocoran plasma.

Sejauh mana bahayanya jika tidak segera mendapat penanganan?

Setelah melewati fase awal, pada hari ketiga demam pada umumnya mulai menurun. Namun, kondisi ini justru harus lebih diwaspadai. Karena pada fase tersebut dapat terjadi dengue shock syndrome (DSS).

Demam hari ketiga hingga keenam adalah fase kritis terjadinya syok. Sehingga rentan terjadi pendarahan. Jenis pendarahan yang paling sering adalah pada kulit. Sehingga muncul tanda bintik-bintik merah.

Apa yang menyebabkan kasusnya tahun ini tinggi?

Tahun ini adalah tahun terbanyak di periode Januari-Maret. Sampai Februari ini saja sudah ada 12 kasus di kota. Bisa jadi karena siklus lima tahunan, karena hampir terjadi di semua daerah. Siklus nyamuk memang dalam kondisi lima tahunan terjadi peningkatan.

Itu karena kaitannya dengan climated change (perubahan iklim). Seperti saat ini, kadang turun hujan dan tidak, kondisi itu akan memengaruhi siklus perkembang biakan nyamuk.

Bagiamana cara efektif pencegahannya?

Karena nyamuk berasal daru jentik, maka pencegahan paling efektif adalah dengan PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Fogging tidak bisa menyelesaikan masalah. Jentik kan di dalam air, sedangkan fogging itu dari asap.

Sehingga sasarannya hanya nyamuk saja. Tapi, kita akan tetap melakukan fogging jika memenuhi kriteria ada tiga pasien (positif DBD). Kenapa tiga pasien? Karena itu menandakan ada penyebaran yang cepat. Dan itu memang harus fogging.

Tapi percuma, jadi nyamuk dewasa lagi. Namun, selama masyarakat tidak mengerjakan kerja bakti dan masih ada jentik, fogging menjadi percuma. Karena jentik akan tumbuh jadi nyamuk dewasa lagi.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia