Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Berita Daerah

Kadinkes Kota Sebut Fandik Punya Riwayat Tifus dan Diare

16 Februari 2019, 20: 12: 35 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga mengikuti proses pemakaman Fandik Surya Febrianto Kamis (14/2).

Warga mengikuti proses pemakaman Fandik Surya Febrianto Kamis (14/2). (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto mengklaim kasus meninggalnya Fandik Surya Febrianto, 38, Kamis (14/2) lalu bukan disebabkan demam berdarah dengue (DBD).

Menurutnya, warga asal Lingkungan Miji Baru II, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan itu juga memiliki riwayat sakit tifus dan juga diare.Kadinkes Kota Mojokerto Ch Indah Wahyu, menjelaskan, sebelum meninggal dunia, Fandik memang sempat menjalani perawatan di RS Gatoel, Kota Mojokerto.

Indah mengakui, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, pasien tidak hanya didiagnosis terjangkit DBD, tetapi juga mengidap penyakit lainnya. ”Ternyata juga ada tifus dan diarenya. Kami sudah konfirmasi ke RS Gatoel dan ke keluarganya,” paparnya.

Indah mengatakan, rekam medis RS Gatoel menyebutkan, pasien mulai masuk rumah sakit pada Rabu (6/2) dengan kadar trombosit 123 ribu per mikroliter (mcL). Setelah menjalani rawat inap selama lima hari, kondisi pasien berangsur membaik.

Indah menyebutkan, hasil pemeriksaan akhir juga menunjukkan kadar trombosit terus mengalami kenaikan. ”Selama rawat inap trombositnya terus di atas 100 ribu (per mcl),” paparnya.

Menurut Indah, berdasarkan buku pedoman pengendalian DBD yang diterbitkan Kemenkes Tahun 2015, pasien dinyatakan positif DBD jika hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar trombosit di bawah 100 ribu per mcL.

Selain itu, juga harus ditunjang dengan terjadi peningkatan kadar hematokrit minimal 20 persen. ”Jadi, sebenarnya juga bukan tergolong DBD. Karena kenaikan hematokrit juga tidak sampai 20 persen,” ulasnya.

Hingga akhirnya, pihak rumah sakit memperbolehkan pasien pulang pada Minggu (10/2). Dengan hasil pemeriksaan akhir menunjukkan jumlah trombosit normal pada angka 154 ribu per mcL.

Indah menyatakan, pasien keluar rumah sakit dalam kondisi kesehatan normal. ”Rumah sakit itu tidak mungkin memulangkan pasien yang dianggap belum stabil. Apalagi indikatornya juga jelas, trombositnya sudah 154 ribu (per mcl),” tandasnya.

Hanya saja, pasca pulang dari rumah sakit, pasien masih disarankan untuk istirahat. Terlebih, selain terdiagnosis infeksi virus dengue, pasien juga terjangkit diare dan tifus. Sehingga harus menjalani masa pemulihan.

Akan tetapi, saat dijadwalkan kontrol dokter pada Rabu (13/2), pasien tidak melakukannya. Bahkan, sebut Indah, pada Kamis (14/2), buruh di salah satu pabrik di kawasan Driyorejo, Kabupaten Gresik itu memutuskan untuk bekerja karena masa cutinya telah habis.

Pada akhirnya, tiba-tiba kondisinya mengalami drop hingga terjatuh ke lantai saat bekerja. Meski teman sesama buruh sempat melarikan korban ke klinik kesehatan, namun usahanya tak membuahkan hasil. Pada saat itu juga, nyawa Fandik akhirnya tidak bisa terselamatkan.

”Jadi, kemungkinan besar bukan meninggal karena DBD-nya. Ketika pulang kan kondisinya masih dalam masa pemulihan tapi dia tetap kerja. Ditambah masih ada diare, terus tifusnya juga ada,” tandasnya.

Kendati demikian, pihaknya juga melakukan penyidikan epidemiologi di sekitar rumah korban. Sebab, keponakan dan putrinya juga dikabarkan terjangkit DBD. Hasilnya, dari sepuluh rumah yang dilakukan pemantauan jentik, dua di antaranya positif.

”Apa pun itu, kami berharap bahwa masyarakat itu bisa menyadari betapa ganasnya DBD. Lakukan PSN minimal di lingkup keluarga,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia