Senin, 14 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Diduga Akibat Terserang DBD, Warga Kota Meninggal

15 Februari 2019, 11: 00: 29 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga Lingkungan Miji Baru II, Kel. Miji, Kec. Kranggan, memakamkan Fandik Surya Febrianto, yang diduga menjadi korban DBD.

Warga Lingkungan Miji Baru II, Kel. Miji, Kec. Kranggan, memakamkan Fandik Surya Febrianto, yang diduga menjadi korban DBD. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO –  Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Mojokerto sudah harus menjadi atensi serius. Serangan nyamuk aedes aegypti ini bukan hanya menyerang anak-anak dan balita.

Kamis (14/2), serangan DBD itu dikabarkan sudah menyebabkan seorang warga meninggal dunia. Korban diketahui bernama Fandik Surya Febrianto, 38, warga Lingkungan Miji Baru II, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan.

Belum diketahui pasti apakah korban terserang DBD sejak saat bekerja menjadi buruh pabrik di kawasan Driyorejo, Kabupaten Gresik, atau saat pulang di kediamannya. ’’Awalnya masuk rumah sakit karena DBD, terus keluar. Tadi (kemarin, Red), masuk kerja, terus drop,’’ kata GR, warga setempat.

Namun, peristiwa itu membuat warga kian waswas. Pasalnya, di musim penghujan seperti sekarang ini, lingkungan mereka belum pernah ada upaya pencegahan dari pihak terkait. Seperti melakukan fogging. ’’Tidak pernah ada fogging. Apa nunggu ada korban lagi,’’ sesal GR.

Apalagi, belakangan ini diketahui tidak hanya Fandik yang diduga telah terjangkit DBD. Dia menyebutkan, penyakit disebabkan infeksi virus dengue belakangan juga menjangkit putri Fandik, Elvi, 12, dan keponakan Fandik, Sasa, 18. ’’Mereka sempat dirawat di rumah sakit,’’ terangnya.

Ustin Fauziana, kakak Fandik, membenarkan terkait penyakit yang diderita adiknya. Adiknya sempat menjalani perawatan intensif di RS Gatoel Kota Mojokerto selama lima hari. Namun, setelah diperbolehkan pulang oleh tim dokter rumah sakit, kemarin kondisi Fandik mendadak drop dan meninggal dunia saat bekerja.

’’Hasil diagnosa dokter sebelumnya, adik saya memang positif DB,’’ tandasnya. Dia juga tak menampik, selain Fandik, dua keluarganya juga terjangkit gejala yang sama. Ketiganya diketahui terjangkit dalam waktu bertahap. ’’Setelah anaknya, keponakan, baru dia (Fandik, Red),’’ bebernya.

Menurut Ustin, adiknya baru pulang dari RS Gatoel pada Minggu (10/2) lalu. Namun, karena belum sembuh total, dia masih harus rutin kontrol. Hanya saja saat hendak kontrol yang dijadwalkan pada Rabu (13/2) lalu, adiknya mengurungkan niatnya. Dengan alasan antrean di rumah sakit cukup panjang. ’’Akhirnya diputuskan pulang,’’ tuturnya.

Nah, setelah lama cuti kerja karena sakit, oleh pihak perusahaan korban lantas diminta masuk kerja kembali. Saat tengah bekerja, mendadak kondisi Fandik semakin drop. Dia bahkan sempat terjatuh ke lantai saat bekerja.

Teman sesama buruh yang mengetahuilangsung memberikan pertolongan dan korban ke klinik. Namun,usahanya tak membuahkan hasil. ’’Adik saya yang sempat dipasang bantuan oksigen oleh petugas medis, sudah tidak bisa (meninggal). Sekitar pukul 12.00,’’ ujarnya.

Pihaknya berharap dalam waktu dekat ada tindakan serius dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto terkait penanganan kasus DBD. Yakni, dengan melakukan peninjauan dan pencegahan seperti fogging. ’’Apalagi, sekarang kan musim DB. Sementara di lingkungan sini, tidak pernah sama sekali,’’ pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto Ch Indah Wahyu belum dapat memberikan penjelasan resmi. Menyusul, selain kabar ada dugaan warga meninggal dunia akibat terserang DBD, pihaknya masih harus menelusuri dan memastikan.

Salah satunya dengan menanyakan rekam medis korban ke RS Gatoel, tempat korban dirawat. ’’Saya juga akan konfirmasi RS Gantoel dulu,’’ ungkapnya tadi malam. Namun, Indah menegaskan, kematian pasien dengan kasus apa pun kalau meninggal dunia saat di rumah sakit selalu dilaporkan dan dilakukan evaluasi, perihal penyebab kematiannya.

’’Kalau pasien sudah dipulangkan pasti kondisi sudah stabil atau sudah sembuh. Kecuali pasien pulang paksa. Ini masih dilacak rekam mediknya,’’ tegasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia