Jumat, 20 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Mifta Romadloni di Mata Temannya

Sejak Kecil Meta Dikenal Ceria, Pandai, dan Disiplin

13 Februari 2019, 21: 13: 32 WIB | editor : Mochamad Chariris

Foto insert Mifta Romadloni semasa kecil.

Foto insert Mifta Romadloni semasa kecil. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

Serasa panggilan hati. Melihat orang terdekat yang tengah menderita atau sakit, untuk sesegera mungkin menolongnya. Demi mendapatkan kehidupan yang layak.

Pernyataan yang tersimpan dalam hati Titis Meganingtias, teman Mifta Romadloni atau Meta saat pertama kali menemukan gadis malang itu tergolek tak berdaya di kamar rumahnya.

SERASA ada ikatan batin yang masih tersambung, meski telah delapan tahun terpisah dengan teman kecilnya. Banyak kenangan tersimpan dalam lubuk hati perempuan 22 tahun ini saat mengetahui kabar teman dekatnya tengah menderita sakit. Hingga ia pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah Meta, pada awal 2018 lalu.

Ya, perasaan tidak enak Mega, sapaan akrab Titis Meganingtias terhadap Meta benar-benar terbukti. Saat pertama kali datang ke kediaman Meta di Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto kondisi fisik temanya itu sudah melemah, meski tak sekronis sekarang.

Tubuhnya kering, matanya sayu, pandangannya kosong, seperti orang mengidap depresi dan kurang asupan gizi. ’’Saya mengunjungi pertama kali awal tahun 2018. Saat itu saya diberitahu budhe-nya kalau Meta sedang sakit. Kondisinya lemah dan tidak sekolah. Terus saya datang menjenguk beberapa kali ke rumahnya sampai enam kali,’’ tutur Mega saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto.

Namun, perjumpaan Mega selama tiga kali itu tak membuatnya kapok untuk datang menjenguk kembali di tahun 2019. Kala itu, ia datang bersama Novita Resti, rekannya yang lain dari kediaman di Kelurahan Kepuhkiriman, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Sebuah kampung yang sempat ditinggali Meta semasa kecil.

Nah, perjumpaannya keempat kalinya, pada Minggu (3/2) itu yang semakin membuat trenyuh hati Mega. Bagaimana tidak, Mega mendapati Meta terbaring lemah tak berdaya di bawah kasur dengan kondisi banyak darah dan kotoran mengering.

Bahkan, ia menyebut jika Meta saat itu hidup dalam kondisi menggenaskan. Tergolek di lantai dengan kondisi fisik tak bisa berdiri. Tubuhnya habis hingga terlihat semua tulangnya. Pakaiannya kotor dan bergumul dengan sarang tikus.

’’Saya sampai nangis saat itu. Bayangkan saja, ada darah haid dan kotoran sampai mengering di kulitnya. Kalau saya perkirakan, kondisi seperti itu sudah tiga minggu tanpa perawatan. Dia memang sudah tidak kuat berdiri,’’ ungkapnya.

Nah, tragisnya nasib Meta menggerakkan mahasiswa semester VIII Ubaya ini menolong untuk dilakukan penanganan medis. Salah satunya dengan melaporkan ke aparatur desa, kepolisian, hingga Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto agar segera mendapat perawatan.

Termasuk mengunggah ke grup media sosial (medsos) dan membuka donasi santunan di website. Serta mengadukan ke dosen untuk mendapatkan banyak santunan. Unggahan Mega pun membawa simpati banyak netizen hingga viral.

Selain karena hubungan emosional, sikap itu pun ia dasari sebagai upaya memperjuangkan hak orang untuk mendapatkan kehidupan layak. Apa pun situasinya. Termasuk Meta. meski ia masih memiliki keluarga. Ia lantas mengenang Meta kecil sebagai teman yang sangat ceria dan sehat.

Tidak terdapat tanda-tanda jika ia akan menderita sakit sekronis saat ini. Baik fisik maupun psikisnya. Ia terawat dengan baik oleh orang tuanya, Poerdan Hariyono dan Darwati yang masih tinggal di kampung Kepuhkiriman. Namun pada usia TK, Darwati ibunya meninggal dunia. Ia pun dititipkan ke Sri, yang tak lain adanya kakak dari Poerdan, ayahnya.

’’Meta ini usianya dua tahun di bawah saya. Tapi, kalau main, selalu sama saya. Selalu datang ke rumah ngajak main petak umpet atau lari-larian. Ya biasa kayak anak kecil umumnya, fisiknya juga sehat, malah waktu kecil, tubuhnya lebih besar dari saya,’’ kenang Mega. Bahkan cerita dari teman sekolahnya, waktu SD meta kerap mendapat peringkat di sekolah.

Cerita itu pun bisa ia bayangkan sebagai hal yang pantas. Sebab, keluarga dan kerabat Meta memang menerapkan hidup disiplin dan tepat waktu. Dalam keseharian pun, Meta juga terlihat serius dalam belajar. Akan tetapi, kondisi berubah ketika ia kembali diasuh Poerdan saat duduk dibangku kelas IV SD.

Poerdan yang memutuskan menikah kembali dengan Amaliyah Khoirunnisa, warga Desa Kupang, Kecamatan Jetis mengambil alih pengasuhan Meta dari kakaknya ke Sutinah yang tak lain adalah nenek Meta.

Namun, tak berselang lama, Sutinah meninggal dunia. Sehingga Meta kembali diasuh Poerdan sampai saat ini. ’’Waktu diasuh budhe-nya, dia sangat pandai dan disiplin. Tidur siang, belajar dan main pun waktunya teratur. Tidak seperti anak kampung pada umumnya,’’ pungkasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia