Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Features

Onde-Onde Milenial Itu Diberi Nama Pelangi

12 Februari 2019, 19: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Onde-onde yang telah mengalami perubahan warna.

Onde-onde yang telah mengalami perubahan warna. (Eli Puspitasari for radarmojokerto.id)

Onde-onde yang semula hanya berwarna putih kecoklatan, terasa sangat membosankan. Dewasa ini, makanan khas Mojokerto ini bermetamorfosa menjadi lebih indah. Namanya onde-onde pelangi. Dengan banyak warna dan varian rasa yang kian menarik.

ADALAH Lely Zazilah, 20. Gadis asal Desa Beratwetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto inilah yang telah menjadi salah satu pemrakarsa mengembangkan onde-onde. Dari makanan yang jarang dilirik orang, kini justru banyak diburu.

Eli mengembangkan onde-onde dengan banyak varian. Mulai dari rasa coklat, melon, strawberry, anggur dan pisang. Dengan banyaknya pilihan rasa yang dihadirkan, justru menarik perhatian para pelanggan.

Lely Zazilah, warga Desa Beratwetan, Kec. Gedeg, Kab. Mojokerto, menunjukkan onde-onde pelangi buatannya.

Lely Zazilah, warga Desa Beratwetan, Kec. Gedeg, Kab. Mojokerto, menunjukkan onde-onde pelangi buatannya. (Eli Puspitasari for radarmojokerto.id)

’’Banyak orang yang bosan dengan satu rasa saja, banyak meminta untuk diganti dengan varian–varian yang belum pernah dijadikan isian onde–onde,’’ ungkapnya. Tiap hari, gadis 20 tahun ini mampu memproduksi hingga 20 kardus. Penjualan yang masih hangat itu pun menjadi buruan para pelanggannya.

Dengan menggunakan media sosial, kata dia, kerajinan kuenya dikenal dengan cepat. Ia kerap mempromosikan dengan cara gratis dan bisa mengena ke semua kalangan. ’’Berawal dari postingan saya di media sosial, kini juga banyak yang memesan.

Mulai dari orang kantoran sampai ibu–ibu arisan. Mereka juga sering menjadi order atau langganan” katanya. Lely mengatakan, membuat onde-onde dan menjadi seorang wiraswasta, lebih menjanjikan. Sebab, ia tidak terikat oleh peraturan dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Keputusannya terjun ke dunia wirausaha, diakui Lely, bukan tanpa sebab. Ia telah keluar masuk sebanyak enam kali dari perusahaan yang berbeda. Akan tetapi, selama itu, ia mengaku banyak aturan yang selalu mengekangnya.

Sejak keluar dari perusahaan di kawasan Gresik itu, ia mulai belajar membuat kue–kue cemilan rumahan. Bermula belajar dari ibunya yang memiliki hobi yang sama, kini dia bisa membuka usaha sendiri. (eli puspitasari)

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia