Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Siswa Terpaksa Belajar sambil Klesetan di Teras Madrasah Ibtidaiyah

12 Februari 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Puluhan siswa MTs Bahrul Ulum Kupang, Kec. Jetis, mengikuti proses belajar mengajar di teras kelas MI.

Puluhan siswa MTs Bahrul Ulum Kupang, Kec. Jetis, mengikuti proses belajar mengajar di teras kelas MI. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

MOJOKERTO – Insiden ambruknya atap ruang kelas VII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Bahrul Ulum, Dusun Warugunung Lor, Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto berdampak pada proses kegiatan belajar mengajar (KBM).

Senin (11/2), para siswa tepaksa harus menempati teras sekolah dan musala untuk mengikuti aktivitas KBM. Diprediksi, kondisi ini akan berlangsung hingga proses rehabilitasi pembangunan gedung yang ambruk tuntas.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di lokasi, ambruknya atap kelas saat KBM berlangsung pada Jumat pagi (8/2) ternyata tidak hanya berdampak pada kelas VII saja. Namun, juga berimbas pada KBM kelas VII, dan IX yang kondisi usia bangunannya lebih tua dua dan tiga tahun.

Relokasi KBM itu, selain menghindari terjadinya musibah seperti sebelumnya, juga untuk memulihkan trauma yang dialami siswa. Menyusul, peristiwa itu terjadi saat KBM berlangsung hingga mengakibatkan sembilan siswa dan seorang guru mengalami luka-luka.

’’Proses belajar mengajar Alhamdulillah, hari ini (kemarin, Red) sudah mulai kembali efektif. Tapi, KBM terpaksa kita pindahkan di tempat seadanya,’’ kata Kasek MTs Bahrul Ulum A. Shofwan.

Masing-masing, di teras sekolah dan di dalam kelas MI bagi kelas VII dan VIII. Sementara kelas XII menempati musala. Relokasi ini sebagai langkah agar KBM tetap berlangsung, meski tidak seefektif dan senyaman ketika di dalam ruang kelas.

’’Pastinya untuk sementara sampai renovasi kelas selesai. Tempat ini juga kita anggap lebih aman,’’ terangnya. Menurutnya, relokasi juga dilakukan bagi kelas VIII dan kelas IX. Sebab, selain bangunan lebih tua dari kelas yang ambruk, para siswa yang kelasnya berdampingan turut mengalami trauma.

Mereka takut peristiwa serupa kembali terjadi pada ruang kelasnya. Sehingga untuk menghindari hal yang tidak dinginkan, pihak sekolah memutuskan melakukan renovasi ke tiga kelas sekaligus.

Selain mengganti blandar penyangga atap yang sudah keropos dan lapuk, di tiga kelas itu juga diperkuat dengan cor penyangga dari bawah. ’’Kami berharap agar kelasnya segera dibenahi, supaya belajarnya kembali nyaman. Tidak di musala atau di teras yang fasilitasnya seperti ini,’’ ungkap Kirana salah satu kelas IX.

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia