Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Warga Cendoro Khawatir Limbah B3 Cemari Desa Mereka

12 Februari 2019, 02: 05: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga Desa Cendoro, Kec. Dawarblandong, melakukan aksi penolakan pendirian pabrik pengolahan limbah.

Warga Desa Cendoro, Kec. Dawarblandong, melakukan aksi penolakan pendirian pabrik pengolahan limbah. (Abe Arsyad/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Gejolak warga Desa Cendoro, Kecamatan Dawarblandong, terhadap rencana pembangunan PPLI B3 di kampungnya kian memuncak.

Minggu (10/2) puluhan warga berkumpul dan menggelar aksi penolakan terhadap pembangunan perusahaan di hutan Gunung Kendil tersebut.

Aksi protes warga ini bersamaan dengan Pemprov Jatim yang berencana memulai proses pembangunan pabrik yang direncanakan bakal melayani pengelolaan limbah di Jawa dan Bali itu.

Selain menggelar aksi, warga juga memasang spanduk penolakan. Pemandangan ini terlihat sangat mencolok di sejumlah gang masuk perkampungan. Penolakan ini merupakan bentuk kekhawatiran warga terhadap dampak lingkungan yang akan timbul di kemudian hari.

Meski penolakan warga terlihat jelas, namun prosesi peletakan batu pertama pembangunan PPLI B3 tetap digelar di kawasan Perhutani. Warga desa, forum desa, dan tokoh-tokoh masyarakat setempat sangat menyayangkan lantaran tidak diundang dalam acara tersebut.

’’Kami tidak dilibatkan atau tidak diundang. Padahal pemprov tahu gejolak di masyarakat masih ada sampai sekarang. Jadi, ini sangat kami sayangkan,’’ kata Sujiono.

Menurutnya, penolakan itu sudah disampaikan saat warga melakukan hearing dengan DPRD dan DLH akhir 2017 silam. ’’Waktu itu, saat masih muncul rencana pembangunan. Warga membuat pernyataan penolakan seribu tanda tangan,’’ katanya.

Sedangkan Pertemuan yang kedua dengan jumlah massa lebih besar digelar pertengahan 2018. Namun sayang, pertemuan itu berakhir tanpa kesimpulan. ’’Mereka tetep keukeuh. Dan kita juga tetap menolak,’’ katanya. Upaya lain juga dilakukan warga. Yakni, menggelar pertemuan dengan Komisi A DPRD Kabupaten. Akan tetapi, hearing itu tak menuai hasil apa pun.

Sujiono menambahkan, warga akan terus menyuarakan penolakan. Warga khawatir pembangunan pabrik pengelola limbah itu akan berdampak buruk terhadap lingkungan. Terutama berpengaruh terhadap sumber air. ’’Yang sangat kami khawatirkan karena basis dari penduduk kita adalah petani,’’ katanya.

Terdapat empat dusun yang terpengaruh atas rencana pendirian pabrik ini. Yakni Dusun Bakung, Dusun Cendoro, Dusun Pelem, dan Dusun Sidomengku. Sujianto mencontohkan kasus serupa yaitu di daerah Desa Lakardowo.

’’Pengolahan limbah di daerah Lakardowo kami takutkan akan terjadi di wilayah kami. Jadi, kami semua secara tegas menolak,’’ tegasnya. (sad)

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia