Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Mata Lensa

Melebur Kuningan, Mencetak Kerajinan Khas Majapahitan

11 Februari 2019, 20: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Proses peleburan bahan baku kuningan di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Proses peleburan bahan baku kuningan di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

ASAP membumbung tinggi terlihat hingga di sepanjang jalan desa.Dibelakang rumah, dibawah rimbun pohon bamboo,Najad melebur bahan rongsokan kuningan untuk dijadikan kerajinan.

Suara semburan api membakar tungku sejak pagi.Setelah enam jam lamanya kuningan mentah dileburnya. Kini saatnya cairan panas tersebut dimasukkan kedalam cetakan berbahan tanah liat.Ya, saat berkunjung ke Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto dengan mudah akan mendapati kerajinan cor kuningan.

Jika melintas di depan pemukiman penduduk, yang nampak hanya deretan rumah-rumah berdesain Majapahitan. Mereka beraktivitas di belakang rumah. Mata Lensa menemui salah satu perajin kuningan di desa tersebut.

Namanya Khoirun Najad.Pria berusia 45 tahun ini memulai usaha kerajinan cor kuningan sejak tahun 1993 silam.”Meski Trowulan merupakan sentra kerajinan cor, patung batu, dan gerabah, namun pasar kita diluar daerah,” ungkapnya.

Ketika melintas di kampung ini, hampir tak ada art shop yang nampak. Kendati Trowulan sendiri adalah kota sejarah. Najad mengatakan, selama ini, perajin di desanya memang hanya sebagai sebagai produsen. Sementata pangsa pasar cor kuningan datang dari berbagai daerah. ”Di daerah-daerah yang kerap dikunjungi wisatawan. Seperti Bali, Jogjakarta, dan Jakarta,” ungkapnya.

Produk kerajinan cor kuningan Trowulan biasa dipajang di art shop atau galeri-galeri komersial di Bali. Buyer atau pembeli rata-rata adalah turis mancanegara, dan sebagain kecil wisatawan lokal. ”Unik juga, saat wisatawan Mojokerto pergi ke Bali oleh-olehnya suvenir dan patung-patung kecil buatan Trowulan,” imbuhnya.

Menurutnya, sebagai perajin dia berharap agar ke depan Trowulan mampu menjadi jujukan wisatawan. ”Banyak turis di sini, menikmati keindahan desa maupun berwisata sejarah. Banyak situs dan artefak-artefak bersejarah. Dengan begitu kita tak jauh-jauh memasarkan karya kami,” tandasnya.

Meski demikian, masyarakat Trowulan akan tetap membakar kuningan, mencetak gerabah, dan mengukir patung sebagai pendapatan utama mereka. ”Ini identitas kami, sebagai anak turun Majapahit,” pungkasnya.

(mj/fan/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia