Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Zona Muda
Cerita Pendek

Kisah Hantu dan Pemburunya

11 Februari 2019, 17: 06: 50 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Desain grafis Nadzir/radarmojokerto.id)

AKU terdiam melihat kerumunan orang menyemut mengitari sesosok mayat dengan tubuh yang sudah membusuk di pinggir jalan. ’’Mayat siapa itu?” Aku berusaha bertanya kepada orang-orang. Tapi semua orang mengacuhkanku. Tak ada yang memperdulikanku.

Semua sibuk memperhatikan mayat itu sambil menutup hidung dengan sapu tangan atau tangan mereka sendiri. ’’Itu kamu.” Aku kaget dengan perkataan seorang pemuda berbaju rapi yang tiba-tiba berdiri disampingku dan melihat ke arahku. Aku tak percaya.

’’Bohong…,” kataku dalam hati. Mataku masih terfokus memperhatikan mayat yang tergeletak di pinggir jalan itu. ’’Itu kamu, tubuhmu,” kata si pemuda sekali lagi dengan senyuman mengambang di bibirnya. ’’Aku tidak percaya,” jawabku acuh tak acuh. Si pemuda tampak menghela nafas panjang.

’’Bagaimana kalau kita lihat dari dekat?” si pemuda menantangku. Aku terdiam sejenak. Antara mau dan tak mau. ’’Boleh saja.” ’’Siapa takut?” Aku mencoba memantapkan diri. Lalu aku mengikuti si pemuda mendekati mayat yang sudah membusuk itu.

’’Ini dompet kamu kan!” kata si pemuda mengambil dompet dari saku celana mayatnya. Dan mengeluarkan semua isinya. Aku memperhatikan isinya. ’’Ada kartu atas namaku,” batinku. Tapi aku masih tak percaya. ’’Namamu Adi kan!! Ini foto istri dan anak kamu.” si pemuda menunjukkan foto seorang wanita dan anak kecil yang diambilnya dalam dompetku. Aku kaget bukan kepalang. Aku hanya mengangguk.

’’Jadi… jadi aku ini hantu.” Aku syok, tak percaya pada kenyataan yang baru aku alami. Si pemuda hanya mengangguk. Aku lantas berjongkok, menutupi wajah dengan kedua telapak tanganku. ’’Kamu tak apa-apa kan.” si pemuda berusaha menenangkanku. Aku terdiam, tak menyahuinya. Pandanganku tampak kosong.

’’Lebih baik sekarang, kamu kembali ke alammu sana,” si pemuda menasehatiku. ’’Iya, tapi aku tak tahu caranya.” ’’Sudah empat minggu, aku berada di sini, tak ada orang yang melihat atau menggubrisku.” kataku bingung. ’’Memangnya apa yang terjadi padamu?” tanyanya. Aku terdiam. Lalu kuceritakan kisah mengapa aku seperti ini.

’’Semua berawal dari pertengkaran rumah tangga biasa antara aku dan Istriku. Entah kenapa ketika itu aku tiba-tiba kalap dan marah besar. Menamparnya dihadapan anakku. Sekarang aku menyesalinya. Tak seharusnya aku bersikap seperti itu. Tapi aku tak mau menyesali terus menerus.”

’’Lalu aku datang ke orang yang mengaku pintar membawa perubahan pada pernikahan yang diambang perceraian ini. Tapi ternyata ia seorang penipu, aku malah dibunuh. Semua benda berharga yang kubawa dirampasnya. Mayatku dibuang di pinggir jalan.” Aku mengakhiri ceritaku.    

’’Datang saja ke rumahku,” saran si pemuda setelah mendengar ceritaku. ’’Dimana rumahmu?” tanyaku. ’’Itu di seberang jalan,” jawab si pemuda menunjuk sebuah rumah kecil di seberang jalan. Aku pun menuju ke rumah itu bersama si pemuda.. Dari seberang jalan, aku melihat Polisi sudah berdatangan dan mulai memasang garis kuning.

Sampai di dalam rumah, aku merasa tidak nyaman. Penuh bau-bauan yang menusuk hidung. Di seluruh penjuru dindingnya, tampak lukisan seram. Si pemuda masuk ke salah satu kamar. Tidak lama, si pemuda keluar dari kamar itu. Tangan sebelah kanannya memegang sebuah guci kecil berkatup.

Entah kenapa, aku punya perasaan tidak enak pada guci kecil itu. Ia tiba-tiba membuka katupnya. Angin yang keluar menyeret tubuhku masuk ke dalam guci. Aku  meronta-ronta sekuat tenaga. Tapi usahaku gagal dan aku pun masuk ke dalam guci kecil.

Ia segera naik mobil. Lalu menaruh guci kecil di kursi sampingnya. Mobil pun berjalan kencang di atas jalanan yang bergelombang. Aku yang berada di dalam guci ikut terguncang. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Karena terkukung oleh kertas mantra yang ada di dalam guci.

Tiba-tiba, aku merasakan guncangan hebat terjadi pada mobilnya. Guci kecilnya terlontar keluar mobil. Pecah dan hancur berantakkan. Aku lega akhirnya bisa keluar. Tampak si pemuda berhasil keluar dari mobil yang ringsek. Aku tak mau tertipu kedua kalinya. Langsung berlari menjauhi si pemuda.

’’Hei, jangan kabur!” Si pemuda berteriak sambil berlari mengejarku. Tak kuat terus berlari, aku putuskan berhenti. Si pemuda lantas mendekatiku. ’’Sebenarnya kamu siapa?” Aku mengertaknya. ’’Aku ini pemburu hantu. Tugasku menangkapmu.” ’’Aku tak mau!” Aku berteriak keras.

’’Kamu harus mau!” gaya bicara si pemuda menjadi keras dan nyaring. Matanya yang merah memelolotiku. Si pemuda lantas mengeluarkan guci kecil berkatup dari balik bajunya. Aku pun terpaksa mundur selangkah demi selangkah. Lalu membalikkan badan dan berlari menjauhinya. Si pemuda terus mengejarku. Larinya lebih kencang dari lariku. Tak heran, ia sudah ada di sampingku.

Tiba-tiba muncul sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi yang langsung menghantam tubuh si pemuda. Tak ayal lagi, si pemuda jatuh tersungkur di aspal jalan yang keras, Darah mengucur deras dari kepala, hidung dan telinga si pemuda. Tampak mata si pemuda terbelalak lebar. Tubuhnya penuh lecet dan luka akibat dihantam bemper serta dilindas ban sepeda motor.

Aku tak percaya melihat si pemuda sudah tergeletak tak bernyawa. Sepeda motor yang menabraknya entah pergi kemana. Aku mendekati tubuh si pemuda. Tampak arwah si pemuda keluar dari tubuhnya.  ’’Kenapa aku ini?” ’’Mengapa tubuhku seringan ini?” kata si pemuda kaget. Belum selesai rasa kaget si pemuda, terdengar beberapa orang berbisik membicarakannya,’’Kasihan ya, pemuda itu.” ’’Ia harus mati muda.”

’’Apakah aku sudah mati?” si pemuda berusaha bertanya kepadaku. Aku mengangguk. Tampak raut muka tak percaya di wajahnya. ’’Tak perlu kau pikirkan soal itu.’’ ’’Ikutlah bersamaku.” Aku menggandeng tangan si pemuda. Menuntunnya ke suatu tempat kenanganku teristimewa. Ke sekolah dasar, tempat anakku sedang menuntut ilmu, pagi itu.

***

Di sana, aku melihat anakku sedang belajar tekun di dalam kelasnya. Aku teringat dulu ketika aku dan istri masih rukun, bersama-sama mengantarkan anak bersekolah pertama kalinya. Wajah cerianya akan selalu aku ingat.

’’Aku jadi teringat masa kecilku dulu. Dimana ayah dan ibu selalu mengantarkanku ke sekolah.” ’’Itulah masa-masa bahagiaku. Sampai akhirnya aku bernasib sama sepertimu. Jadi hantu,” kata si pemuda lirih. Aku mengangguk pelan.

Diam-diam, aku juga masih merindukan saat itu. Bersama istri, membelai rambutnya. Lalu berdua memeluknya dengan penuh kasih sayang. Ia pun membalas dengan mencium tangan kananku dan istri bergantian. ’’Baik-baik ya di sekolahan,” kataku. ’’Belajar yang rajin ya,” sambung istriku.

’’Ayah dan Ibu juga hati-hati di jalan ya,” sahutnya dengan raut muka ceria. Sayangnya, sekarang aku tak bisa melakukannya lagi. Karena alamku dan alam dimana anak istriku berada sudah berbeda. Aku ingin menangis. Tapi aku tak bisa. Air mataku sudah kering seiring berjalannya waktu. (*)  

Cerpen HERUMAWAN P.A.

Jogjakarta, 31 Januari 2019

*Herumawan Prasetyo Adhie, lahir di Jogjakarta, 30 September 1981. Seorang pejalan kaki yang memilih naik trans Jogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apapun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita anak, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram). Karya cerpen pernah dimuat di Apajake.com, Bangka Pos, Banjarmasin Post, Harian Analisa Medan, Harian Jogja, Joglosemar, Harian Rakyat Sultra, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Majalah Story, Minggu Pagi, Majalah Kuntum, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Jombang, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya Republika, Serambi Ummah, Solopos, Tabloid Nova dan Utusan Borneo (salah satu surat kabar Malaysia).

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia