Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Patung Tokoh Kerajaan Majapahit (4-habis)

Patung Hayam Wuruk Pertama, Karakter Raja Pemikir Rakyat

10 Februari 2019, 22: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Patung Maharaja Hayam Wuruk di petilasan Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Patung Maharaja Hayam Wuruk di petilasan Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (Moch. Chariris/radarmojokerto)

SEBAGAI kawasan bekas kerajaan tersehor seantero Nusantara, tak elok rasanya jika Mojokerto tidak memiliki ornamen atau wujud tokoh yang berpengaruh atas kejayaan Majapahit masa silam.

Salah satunya adalah wujud Raja Hayam Wuruk. Raja keempat yang mampu mengantarkan Majapahit mencapai puncak kejayaannya di era tahun 1350 hingga 1389 Masehi. Di mana, sosok bergelar Maharaja Sri Rajasanagara itu belum pernah digambarkan wujudnya secara fisik.

Nah, kondisi ini yang menginspirasi pemerintah Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto dalam mewujudkan fisik sosok sang hyang Hayam Wuruk secara utuh pertama kali di Mojokerto. Yakni, dengan mendirikan patung Hayam Wuruk setinggi enam meter yang diletakkan di halaman depan petilasan Raja Hayam Wuruk.

Sehingga diharapkan mampu menarik perhatian dan minat masyarakat untuk turut datang mengunjungi petilasan sebagai salah satu situs penting peninggalan Kerajaan Majapahit di wilayah utara Kecamatan Trowulan ini.

’’Yang pertama pasti sebagai wujud masyarakat dalam uri-uri budaya Majapahit di lokasi situs yang sudah berdiri sejak nenek moyang. Yang kedua, ternyata respons masyarakat luas sangat antusias. Sehingga keberadaan patung ini sudah seperti ikon sang hyang Hayam Wuruk dan desa,’’ ungkap Heriwati, Kades Panggih.

Iin, sapaan akrab Heriwati mengaku cukup kesulitan di awal-awal gagasannya mendirikan patung. Di mana, sempat muncul kekhawatiran soal patung bakal dijadikan ritual di luar konteks agama. Namun, kekhawatiran itu akhirnya lambat laun sirna setelah ia getol menyosialisasikan tentang manfaat patung yang hanya sebagai simbol destinasi wisata di Desa Panggih.

Tak hanya itu, proses riset tentang gambaran sosok Hayam Wuruk sendiri juga banyak mengalami kendala. Di mana, tim arsitektur yang diketuai Abdullah Mashari sempat kesulitan mencari literasi tentang wujud asli putra Tribuwana Tunggadewi itu. ’’Minim sekali penelitian yang menerangkan tentang wujud aslinya,’’ tambahnya.

Meski demikian, program terus berjalan. Hingga akhirnya tim arsitektur menyimpulkan, bahwa sosok Hayam Wuruk adalah seorang pemikir yang memiliki ketegasan dan kedisiplinan tinggi dalam memimpin kerajaan. Sehingga terbentuklah patung hayam wuruk bersendakap dengan tangan memegang dagu. Dan arahnya menghadap ke timur serong utara.

’’Sang Hyang kan sering dikatakan sosok orang selalu berpikir tentang nasib rakyatnya. Kalau soal arah, memang sengaja dibuat serong sebagai simbol ucapan selamat datang kepada pengunjung,’’ terangnya. Iin sendiri tak menyangka tentang pendirian patung yang selesai digarap pertengahan 2018 lalu itu mampu menyedot perhatian masyarakat luas.

Meski sejak awal, ia sudah memperkirakan jika pendirian patung dan revitalisasi jalan menuju petilasan itu bakal memunculkan banyak respons. Termasuk kunjungan sejumlah pejabat petinggi dari berbagai instansi. Namun, sesuai tujuan awal revitalisasi area yang menelan Dana Desa (DD) senilai Rp 400 juta itu, yakni menyulap petilasan menjadi ikon wisata religi dan budaya favorit.

Dengan pengelolaannya yang bakal diatur lewat BUMDes. Sehingga mampu mengangkat perekonomian warga sekitar. ’’Disparpora sudah mengusulkan Panggih sebagai salah satu desa wisata. Sehingga nantinya akan di-support dengan Bantuan Keuangan (BK) Desa. Tahun ini juga sudah anggarkan untuk membangun jalan di sisi selatan petilasan yang akan membawa pengunjung ke area food court,’’ pungkasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia