radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Patung Tokoh Kerajaan Majapahit (2)

Patih Gajah Mada Simbol Pemersatu Nusantara

10 Februari 2019, 20: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Patung Patih Gajah Mada di halaman Mapolsek Mojosari, Mojokerto.

Patung Patih Gajah Mada di halaman Mapolsek Mojosari, Mojokerto. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

PATIH Gajah Mada sebagai panglima perang dan tokoh berpengaruh di zaman Kerajaan Majapahit seakan masih dirasakan dan melekat di hati warga Mojokerto.

Buktinya, tak sedikit patung Mahapatih Gajah Mada yang terkenal dengan sumpah Amukti Palapa-nya itu dibangun di sejumlah tempat. Selain sebagai motivasi, juga untuk pengiling (pengingat) ketokohan

Seperti yang terdapat di pagar luar SMAN 1 Puri, Kabupaten Mojokerto. Patung setinggi tiga meter di Jalan Raden Wijaya tersebut dibangun tahun 1994 oleh Yusach NH, maestro patung dan monumen tersohor di Indonesia.

Kebetulan, saat itu warga Jalan Anjasmoro 5 Nomor 1 Perumahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto masih menjadi guru senirupa di sekolah setempat. ’’Harapan beliau dulu, SMAN 1 Puri itu jangan sampai melupakan perjuangan Majapahit,’’ kata Imam Wahyudi, mantan kepala sekolah setempat.

Maka dari itu, selain patung, sisi barat gerbang, relief tentang perjuangan Majapahit dan pahlawan nasional. Relief-rlief tersebut dibuat Yusach NH pada tahun berikutnya, 1995. Tak lain sebagai penyemangat, sekaligus lambang untuk gudep SMAN Puri yang memakai nama Gajah Mada Tribuawana. ’’Sekaligus sebagai motiviasi para siswa,’’ tegas Imam yang kini menjabat Kepala SMAN 1 Kota Mojokerto.

Para siswa diminta meneladani sosok Gajah Mada sebagai tokoh pemersatu Nusantara. ’’Artinya, kita tetap harus menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati,’’ tambahnya. Sebagai upaya pelestarian, sejauh ini, patung tersebut masih dirawat. Seperti halnya pengecatan dan perbaikan kecil.

Beberapa kali sekolah membenahi jari-jari kaki patung yang putus akibat ulah jahil orang tak bertanggung jawab. Tak hanya itu, patung Gajah Mada juga terdapat di halaman Pendapa Agung Trowulan dan di halaman Mapolsek Mojosari.

Dengan sosok wajah dan tubuh yang hampir sama. Di Mapolsek Mojosari, dari cerita rakyat yang berkembang, pembangunan itu dilakukan pada 1 Januari 1985 atau semasa Orde Baru. Sesuai tulisan yang tertera di bawah patung yang menghadap ke Jalan Hayam Wuruk.

Namun, di balik tujuan dan motivasi pendirian patung Gajah Mada tersebut hingga saat ini belum diketahui pasti. Namun, dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, patung setinggi empat meter itu dibuat oleh warga Dusun Sumbertiri, Desa Seduri, Kecamatan Mojosari. Di mana saat itu Lettu Pol S. Handoko didaulat menjabat sebagai Kapolsek Mojosari.

(mj/ori/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia