radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Patung Tokoh Kerajaan Majapahit (1)

Siswa Masih Buta tentang Pendidikan Sejarah

10 Februari 2019, 19: 13: 46 WIB | editor : Mochamad Chariris

Relief Patih Gajah Mada di Pendapa Agung Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Relief Patih Gajah Mada di Pendapa Agung Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

PENTINGNYA mengetahui sejarah Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada sebagai warisan sejarah Kerajaan Majapahit, nampaknya belum disadari oleh semua pelajar di Mojokerto.

Jawa Pos Radar Mojokerto berkesempatan menanyakan kepada beberapa pelajar akan pentingnya nilai-nilai keilmuan sejarah dan peradabannya. Ternyata masih banyak pelajar yang belum mengenal, meskipun sudah pernah dipelajari di sekolah. 

Maulida Miftahul Janna misalkan, siswi kelas X SMAN 1 Sooko ini mengaku pelajaran sejarah Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada memang sudah pernah dipelajari di SMP. Namun, karena tidak menyukai pelajaran tersebut, kata Maulida, hingga sekarang hanya mendengar namanya saja.

Tetapi, mengenai Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada itu siapa, dirinya memang tidak mengetahui. ”Hanya ingat namanya. Patungnya juga nggak tahu,’’ katanya. Tidak hanya itu, Maulida mengatakan, selain memang tidak suka pelajaran sejarah, juga dikarenakan guru yang mengampuh pelajaran tersebut sistem pengajarannya sangat monoton.

”Guruku dulu kalau menjelaskan pelajaran sejarah pasti cuma ceramah aja. Jadi ngantuk,’’ ungkap pelajar asal Desa Bleberan, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Moh. Sofin, pelajar MAN 2 Mojokerto mengaku hanya mengetahui sepintas tentang sejarah Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada.

Sofin mengatakan, sepengetahuannya Raja Hayam Wuruk adalah salah satu raja dari Kerajaan Majapati. Namun, untuk Patih Gajah Mada dirinya hanya mengetahui namanya saja. ”Hanya ingat-ingat dikit, soalnya nggak terlalu menyukai mapel sejarah,’’ ucapnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Jatim) di Mojokerto, Maryono menyatakan, dari tahun 2017 lalu, pihaknya sudah menekankan kepada semua sekolah untuk terus membuat konsep pelajaran yang bagus dan bisa menimbulkan kecintaan pelajar kepada sejarah di Mojokerto.

”Kami sudah pernah bicarakan ini dengan Dispendik dan Kemenag. Karena itu penting,” kata Maryono. Saat ditanya sejauh mana pelajar saat mengetahui sejarah Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, Maryono menjelaskan, masih tahap pendekatan.

Pasalnya, untuk pelajaran sejarah sendiri memang tidak mudah. Selain harus mencari guru yang memiliki kompetensi bidang sejarah, juga pendekatan dan konsep pelajarannnya yang akan disuguhkan kepada pelajar. 

”Tapi, kami punya misi besar, bagaimana agar generasi Mojokerto ini bisa cinta dan mengetahui tentang sejarah. Khususnya sejarah Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Karena bagaimanapun juga Mojokerto ini pusat Kerajaan Majapahit,’’ jelasnya. Hal itu dimaksudkan agar pelajar bisa menghormati nilai-nilai sejarah.

Serta dapat meneladani dan mengambil pelajarannya dari sejarah tersebut. Maryono mencontohkan, Patih Gajah Mada dalam sejarah dikenal sebagai panglima besar zaman Kerajaan Majapahit. Sehingga dipelajari dan didalami pelajar, niscaya akan menumbuhkan karakter kuat sebagai penerus bangsa ini.

”Sekali lagi, untuk masalah ini masih dalam tahap. Dan kami tetap berkomitmen mengajak para guru sejarah agar lebih serius mengasah soal sejarah,’’ ujarnya. (ras)

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia