Sabtu, 21 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Riwayat PG Sedati, Merosotnya Produksi Akibat Protes Petani

08 Februari 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Desain Nadzir/radarmojokerto.id)

Pada zaman penjajahan Belanda, Mojokerto sempat menjadi daerah penghasil gula terbesar di Jawa Timur. Sedikitnya, terdapat 12 pabrik gula yang tersebar di berbagai titik. Salah satunya adalah Sukerfabriek Sedati yang ada di Kecamatan Ngoro.

SEJARAWAN Ayuhanafiq menceritakan, Suikerfabriek atau Pabrik Gula Sedati dibangun pada pertengahan tahun 1800-an. Industri tersebut didirikan oleh perusahaan NV Cultuur Matschapij Sedati. Secara kapasitas produksi, perusaan itu tergolong berkapasitas sedang, jika dibandingkan dengan pabrik gula yang lain.

Meski demikian, pada periode 1890-an, Pagrik Gula Sedati diperkirakan telah mampu menembus pasar Eropa. ”Karena itu, Pabrik Gula Sedati sempat menarik minat investor dari Inggris untuk menanamkan modalnya,” tuturnya.

Dia mengatakan, pada awal berdiri pabrik tersebut dikelola oleh Tuan Leonarus sebagai administratur pabrik. Adanya tambahan biaya pemodal itu digunakan untuk menambah kapasitas produksi. Yaitu, dengan mendatangkan mesin penggiling tebu guna meningkatkan kapasitas giling hingga 20 ribu pikul atau berkisar 1.200 ton tebu per 24 jam.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini, mengatakan, setidaknya uji coba mesin giling bertenaga mekanis itu berjalan baik. Sehingga pihak perusahaan memiliki optimisme tinggi untuk meningkatkan produksi. ”Atas keberhasilan uji coba itu, pada 1891 pabrik mulai buka giling dengan tambahan mesin baru,” tandasnya.

Tidak hanya itu, sarana pengangkutan juga diperbaiki untuk menjamin pasokan bahan baku dari kebun tebu yang dikelola perusahaan. Untuk menunjang transportasi, juga dibuat jembatan baru. ”Dibangunnya akses tersebut bertujuan agar hasil produksi dapat dikirim melalui Porong, Sidoarjo,” paparnya.

Saat itu, pabrik Sedati mendapat konsesi lahan dari pemerintah sekitar 500-600 ratus bahu atau berkisar 420 hektare. Lahan tersebut disewa dari petani dengan biaya sewa sebesar f. 40 gulden per bahunya.

Praktis, hasil produksi Pabrik Gula Sedati mengalami peningkatan cukup signifikan. Pada tahun 1893, mampu menghasilkan gula sebanyak 33.994 pikul. Namun, tingkat produktivitas gula juga dipengaruhi atas kondisi musim. Beberapa tahun setelahnya, tingkat produktivitasnya cenderung fluktuatif.

Bahkan hasil produksi sempat turun menjadi 32.063 pikul akibat cuaca yang tidak menentu. ”Para pekerja banyak yang meninggalkan pekerjaan saat hujan turun. Sehingga produksinya berkurang,” ujarnya. Di sisi lain, faktor sulitnya menyewa lahan sesuai konsesi juga menjadi kendala. Sebab, tidak sedikit petani yang enggan memberikan lahan karena uang yang diterima dinilai tidak sesuai kesepakatan.

Seperti yang sempat terjadi di Desa Kesemen, Kecamatan Ngoro. Para petani beramai-ramai mengembalikan uang sewa karena ada pemotongan oleh lurah setempat. ”Imbasnya, pada tahun 1893 hanya bisa menyewa lahan seluas 300 bahu saja atau setengah dari konsesi,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia