Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Subekti Perajin Wayang Asal Gondang

Lestarikan Wayang di Era Milenial, dari Pandawa Rahwana hingga Semar

07 Februari 2019, 18: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Subekti saat menyelesaikan pembuatan wayang di rumahnya di Desa Padi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto.

Subekti saat menyelesaikan pembuatan wayang di rumahnya di Desa Padi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. (Andriyani Prastyowati for radarmojokerto.id)

Di usianya yang masih terbilang muda, remaja ini cukup perhatian terhadap pelestarian budaya. Ia merupakan perajin wayang yang kini jarang dilirik kalangan milenial.

ADALAH Subekti Alam Muk'arif, 25. Pemuda asal Dusun Slawe, Desa Padi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto ini sangat gemar terhadap berbagai unsur berbau kesenian Jawa, terutama seni pewayangan. ’’Wayang adalah warisan leluhur dari kerajaan masa lampau yang dilestarikan para wali,’’ alasannya sederhana.

Ia mengaku, sejak di bangku SMP, ia mulai belajar melampiaskan kegemarannya itu. Bermula dari coretan kertas, dia bisa menghasilkan sebuah karya seni berupa wayang.

Saat ini, ratusan wayang yang terbuat dari kertas sudah pernah ia kerjakan. Mulai dari Gunungan, Pandawa Rahwana, Kumbakarna, Batara guru, Narada, Durga, Yama Dipati, Ganesa, Semar, Bagong, Gareng Petruk, Kresna, Dewi Sinta, Ramawijaya, Batra Wisnu, Dewi lasmi, hingga Wisanggeni Geni, dan Wayang Setan Bathara Kala.

Karya yang sudah dihasilkan pun, mencuri perhatian para pelestari budaya dari berbagai daerah. ’’Sebagian ada yang saya jual dan sebagian ada yang saya koleksi di rumah. Saat ini saya sedang mengerjakan pesanan juga,’’ ungkapnya.

Subekti menceritakan, tahapan pembuatan wayang kertasnya cukup detail. Pertama, ia mendesain jenis dan bentuk wayang. Setelah itu, ia menggandakan desain tersebut agar rapi saat proses pewarnaan.

Selanjutnya, memasang bambu yang menjulur hingga tengah. Bambu ini, sebelumnya telah dicat terlebih dengan cat air. Setelah kering, wayang sudah jadi dan bisa dikoleksi maupun dipasarkan.

Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu jenis wayang tersebut, tergantung tokoh yang dibuat. Karena, setiap tokoh pewayangan, memiliki tingkat kerumitan yang berbeda. ’’Kalau wayang kecil biasanya bisa selesai 3 hari sampai 5 hari,’’ ujarnya.

Tak hanya desain sendiri. Subekti menyebut, ia juga menerima pesanan wayang dari pemesan. Jadi, pembuatan wayang bisa disesuaikan selera konsumen.

Saat ada permintaan seperti itu, biasanya langkah pertama yaitu dengan melihat referensi dari media internet. Kemudian baru dilakukan penggambaran dan proses pembuatan. Menurut Subekti, harganya relatif terjangkau. ’’Untuk harga tergantung ukuran. Harganya kisarannya antara Rp 40 ribu hingga Rp 100 ribu per wayang,’’ jelasnya.

Subekti berharap, budaya perwayangan seperti Wayang Purwa yang mengisahkan dewa dan kayangan, juga Mahabarata dan Ramayana tidak punah. Alasannya, wayang digunakan untuk sarana menyebarkan agama Islam di tanah Jawa dengan dalang sunan Kalijaga. (andriyani prastyowati)

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia