radarmojokerto
icon featured
Features
Nasib Sofii dan Dua Anaknya Asal Kemlagi

Kakak Kembang Bayang, Adik Harus Rutin Berobat

06 Februari 2019, 20: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Suparto menghabiskan hari-harinya di tempat tidur.

Suparto menghabiskan hari-harinya di tempat tidur. (Relawan for radarmojokerto.id)

Sakit adalah ujian yang harus dihadapi dengan tabah dan sabar. Seperti yang kini dirasakan oleh keluarga Sofii, warga Dusun Pesantren, Desa Kedungsari, Kecamatan Kemlagi.

Di mana kedua anaknya telah divonis mengalami penyakit liver dan kanker. Seperti apa kondisi mereka sekarang?

SANGAT beruntung sekali orang-orang yang sehat. Jadi, untuk yang masih sehat, dijaga, dan disyukuri. Demikian itu yang disampaikan Suparto saat kali pertama menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Mojokerto kemarin.

Warga Dusun Pesantren, Desa Kedungsari, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, itu memang sedang mengalami ujian yang tidak biasa. Sejak 17 tahun lalu dia hanya bisa terbaring di tempat tidur karena mengalami patah tulang kaki kanan hingga berujung kelumpuhan. Orang Jawa mengenalnya dengan istilah kembang bayang.

Tidak hanya itu, kini dirinya juga sudah divonis menderita liver (kerusakan pada hati). Suparto menceritakan, awal kejadian itu bermula saat dirinya ikut gotong-royong memasang atap rumah tetangga. Namun nahas, kayu yang dipakai pijakan patah dan hingga mengakibatkan dia terjatuh dari ketinggian tujuh meter, ”Akhirnya ya mengalami patah tulang,’’ katanya.

Namun, kata Parto, ternyata Tuhan tidak menguji dirinya sampai rasa sakit patah tulang saja. Tidak lama dia juga divonis menderita penyakit liver, hingga menyebabkan kedua kaki dan pantatnya bengkak kehitaman. ’’Dan dari 17 tahun yang lalu saya hanya di tempat tidur saja,’’ tambahnya.

Tidak hanya itu, kini kata Parto, harus benar-benar ikhlas dengan semua ujian yang sedang dihadapi. Pasalnya, kini adik kandungnya, Abidin, 34, juga mengalami  nasib serupa. Ya, selain mengalami gangguan mental, Abidin juga sudah divonis terkena kanker jinak. ’’Hingga setiap minggu itu adik saya harus kontrol ke RSI Sakinah,’’ jelasnya.

Supii, 70, ayah Suparto, menambahkan, dirinya kini harus pasrah dengan semua ujian yang dialami keluarganya. Meski belakangan ini pengobatan Separto sudah ditanggung BPJS Kesehatan. Namun, di sisi lain, dia mengaku keberatan dengan obat tertentu yang harus dibeli keluarganya. Seperti jamu soman dan madu hitam.

Untuk biaya transportasi Abidin, dari rumah ke rumah sakit juga dirasa sangat berat jika dibanding dengan penghasilannya yang hanya sebesar Rp 15 ribu per hari dari menjual jagung bakar. ”Kami terima saja apa yang ada, dan semoga anak-anak saya cepat sembuh. Itu saja,’’ ujarnya. (ras)

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia