Jumat, 20 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Kampung Topi Mengelo, Kondisinya Kini

Minim Generasi Penerus, Keberadaannya Kian Tergerus

05 Februari 2019, 16: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Home industry di Mengelo Selatan sangat produktif. Per hari, mampu menyelesaikan 400 buah topi.

Home industry di Mengelo Selatan sangat produktif. Per hari, mampu menyelesaikan 400 buah topi. (Imron Arlado/radarmojokerto.id)

Kampung topi sudah dikenal lekat dengan kawasan Mengelo, Desa/Kecamatan Sooko. Di sana, dominan warga menggantungkan ekonominya dengan produksi topi. Namun, saat ini muncul keresahan lantaran minimnya generasi penerus.

SEBUTAN kampung topi di Desa Mengelo, Desa/Kecamatan Sooko ini, sudah mulai mencuat sejak pertengahan tahun 1980-an. Warga di kampung ini, ramai-ramai membuat topi dengan kreasinya masing-masing. Bahkan, mayoritas warga di kampung ini, menggantungkan ekonomi keluarganya dengan memproduksi topi.

Budi Utomo, 37, salah satu rumah produksi di Mengelo Selatan RT2/RW 11, menceritakan, ia merupakan generasi kedua setelah almarhum ayahnya, Nur Ali, memulai bisnis ini di awal tahun 80-an. ’’Awalnya roti goreng. Terus beralih ke topi,’’ ungkapnya.

Berbisnis topi dianggap cukup menguntungkan. Pembuatan roti goreng yang semula marak di kampung ini pun, terus terkikis. Saat ini, hanya tersisa segelintir orang yang masih bertahan dengan produksi roti goreng.

Di kampung ini, warga dominan berbisnis pembuatan topi. Dengan ilmu saling gethok tular, jumlah pembuat topi sudah mencapai puluhan. Di Mengelo Selatan saja, Budi menyebut lebih 10 rumah yang memproduksinya. ’’Lebih 50 rumah yang ada sekarang ini,’’ tambahnya.

Bapak dua anak ini menerangkan, warga di kampung ini tak pernah kesulitan memasarkan produk. Pasar-pasar besar di Surabaya dan pasar di sekitaran Mojokerto menjadi sasaran yang cukup empuk. Karena, dengan bahan dan kualitas yang lebih baik, warga mampu menjualnya dengan harga murah.

Kualitas yang baik di antaranya bordiran. Budi menyebut, ia sudah meninggalkan bordir manual dan beralih ke bordir sistem komputer sejak 2014 silam. Selain mampu memangkas waktu, bordir mesin juga memiliki presisi yang apik. Nyaris tak pernah ditemukan cacat produksi.

Dengan jumlah pekerja yang mencapai puluhan orang, rumah produksinya tersebut juga mampu memproduksi topi hingga 400 unit per hari.

Meski bisnis ini dinilai Budi cukup menggiurkan dan nyaris tak ada kendala berarti, namun ia mengaku cukup kesulitan mencari tenaga kerja. Pemuda-pemuda yang ada di kampungnya, lebih memilih bekerja di luar. Tak sedikit yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar untuk mengais rejeki.

’’Makanya, untuk pekerja, rata-rata dari luar kampung sini,’’ imbuh pria yang kini berusia 36 tahun ini. Minimnya generasi penerus inilah, yang diprediksi Budi, sebutan kampung topi di kampungnya akan mengalami pengikisan. 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia