Rabu, 17 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Zona Muda

Kampung Jisim

03 Februari 2019, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Grafis Nadzir/radarmojokerto.id)

SENJA menenggelamkan wajah meronanya. Bola raksasa berwarna merah jingga itu menggelincir ke peraduannya di garis batas. Hanya beberapa gelintir manusia yang mendapat anugerah menyaksikan roman alam yang menimbulkan decak kagum. Alam yang sejatinya tidak disuguhkan dengan cuma-cuma.

Seorang perempuan berusia sekitar dua puluh lima tahun masih berdiri mematung menatap berlalunya senja. Rambut hitamnya digelung rapi ke belakang. Garis-garis kecantikannya begitu nampak. Kulit wajahnya yang putih ala perempuan euro-asia terpancar lembut. Namun hidungnya yang tidak begitu mancung mempertegas dia sebagai perempuan pribumi.

Langit semakin gelap. Angin pantai bersiur memukul tubuh perempuan itu.  Batang-batang pohon nyiur bergoyang-goyang kesana-kemari. Pelepah daunnya saling menghantam satu sama lain dan menimbulkan suara berisik. Angin yang kencang beradu dengan daun-daun dan pasir pantai membuat perempuan itu tidak betah berlama-lama sendirian di tepi pantai. Keheninganpun robek saat terdengar suara petir menggelegar. Telinga perempuan itu terasa panas.

’’Mbok, Ayo!” Seorang perempuan yang tampak seusia dengannya berlari menghampiri dan menarik tangannya untuk diajaknya pulang.

***

Angin sore tadi telah meniupkan kabar suka sekaligus duka bagi Mbok Kayatun. Orang-orang di kampung memanggilnya Mbok Tun. Sedangkan perempuan yang mengajaknya pulang itu adalah anaknya yang telah lebih dahulu menempati Kampung Sungai sekitar lima windu yang lalu. Perempuan itu diberi nama Sunarsih oleh suami Mbok Tun.

Malam itu, Mbok Tun duduk sendirian di teras rumahnya yang bersebelahan dengan sungai berair bening. Sungai ini membelah Kampung Sungai yang diperkirakan dijejali lima juta penduduk. Sungai ini menerobos dan meliuk-liuk bagai ular naga di antara rumah-rumah penduduk seperti membentuk kanal-kanal. Sungai berair bak mutiara ini sambung-menyambung dan bermuara di laut lepas.

Penduduk sekitar menggunakan air sungai untuk minum tanpa perlu dimasak lagi. Semua penduduknya berusia hampir seperempat abad. Tidak ada yang berusia lanjut, anak-anak atau masih bayi. Mereka semua hanya makan buah-buahan yang banyak tumbuh di sekitar rumah mereka. Bahkan mereka tidak pernah buang hajat sehingga kejernihan sungai yang mengalir di samping dan bawah rumah mereka tetap terjaga.

Mbok Tun merasa senang melihat halaman rumahnya yang luas. Di sana tumbuh beraneka pohon yang sedang berbuah dengan ranumnya pula seperti seperti apel, rambutan, mangga, jambu air serta rambutan. Ada perasaan hangat dan memedihkan hati Mbok Tun jika membayangkan apa yang baru saja dilihat dari layar yang dia saksikan di pantai tadi.

’’Mbok!” Tiba-tiba terdengar suara Sunarsih dari seberang sungai yang bergegas menghampiri setelah melewati jembatan kecil yang menghubungkan rumah mereka. Rumah Sunarsih berdampingan dengan rumah Mbok Tun. Hanya dibatasi oleh sungai.

’’Mbok, lihatlah ini,” pinta Sunarsih menunjukkan sebuah kotak kayu sebesar CD. Kotak kayu yang tampak sangat berharga bagi mereka. Tampak seperti bagian dari hidup mereka. Sunarsih pelan-pelan membuka penutup kotak kayu itu. Tiba-tiba saja dari dalam kotak kayu itu berpendar cahaya kemilauan. Seonggok perhiasan berbentuk mahkota yang indah.

’’Aku ingin sekali memakainya di Padang Firdaus nanti, Mbok,” kata Sunarsih girang.

’’Makin besar ya, Nduk,’’ timpal Mbok Tun ikut bahagia.

’’Berpuluh-puluh tahun lalu perhiasan ini hanya sebesar kuku jari kelingking orang dewasa,” Sunarsih menerawang kembali manakala menemukan pertama kali perhiasan itu di samping tempat tidurnya. Kemudian dia menyimpannya di dalam lemari kamarnya di dalam sebuah kotak kayu kecil. Ajaibnya perhiasan berbentuk mahkota itu terus membesar dan membesar. Kini besarnya seukuran kepala anak kecil dan kotak kayu tempat dia mewadahi perhiasan itu juga ikut membesar secara sendirinya.

’’Mawardi yang selalu menyalurkan mantra-mantranya untuk mahkota ini, Mbok.”

’’Anakmu itu tentu sudah menikah sekarang.”

’’Sudah. Istrinya juga pembaca kitab suci yang kuat.”

’’Ikuti Mbok ke dalam,” Mbok Tun menggamit tangan Sunarsih agar ikut masuk ke dalam rumah. Kursi-kursi yang besar tertata rapi di ruang tamu. Lantai rumah Mbok Tun terbuat dari marmer yang mengkilat menakjubkan. Lukisan kaligrafi ayat-ayat suci terpajang di dinding ruangan dengan apik. Mbok Tun membawa Sunarsih ke ruangan tengah rumahnya. Interior dan korden terbuat dari serat teratai di ruang tengah sungguh sedap dipandang.

’’Ini korden kiriman dari Ladang Fana,” Mbok Tun menunjuk sebuah korden motif sienna flower berwarna hijau. Belum puas Sunarsih melihat kain korden yang indah itu, Mbok Tun datang membawa dua buah mahkota besar di atas nampan yang berhias manik-manik cantik. Mahkota sebesar kepala orang dewasa yang berkilauan dengan hiasan emas dan batu mulia.

’’Mahkota emas ini yang satu untuk kang Manggolo dan yang satu untukku. Akan kami pakai juga nanti di Padang Firdaus,” terang Mbok Tun.

Kemudian Mbok Tun membawa Sunarsih ke halaman belakang rumahnya. Sebuah halaman yang luas yang rimbun oleh pepohonan yang menghijau, taman bunga yang indah dan ada kolam ikan yang airnya gemericik. Serba indah semua yang ada di rumah Mbok Tun. Barangkali lebih indah daripada untaian ratna mutu manikam yang biasa disebut-sebut orang.

Kedamaian menyelimuti rumah itu. Kedamaian hasil menanam benih kebaikan dan doa. Namun kedamaian itu tiba-tiba terusik oleh suara ribut kentongan yang ditabuh bertalu-talu. Mbok Tun dan Sunarsih segera berlari keluar untuk memastikan darimana sumber suara itu. Jika sumber suara itu dari bukit utara, itu akan membuat mereka dan penduduk Kampung Sungai berbahagia. Namun jika suara kentongan itu berasal dari lembah timur pertanda ada warga baru yang kurang baik nasibnya.

Ketika mereka keluar melewati ruang tengah tiba-tiba sebuah guci antik menyerupai guci warisan dinasti Tang di sudut ruangan pecah.

’’Ah…Ini pasti Sumarno membuat ulah lagi!” gerutu Mbok Tun. Tetapi mereka tidak terlalu memperdulikan guci itu. Mereka terus keluar untuk mengendus sumber suara kentongan itu. Di luar beberapa penduduk yang semuanya berusia seperempat abad itu berlarian menuju bukit utara.

Bukit utara adalah pemukiman  yang subur penuh dengan buah-buahan dan  perumahan mewah, megah serta bersih. Pemandangan alam di bukit utara sungguh menawan hati dan udaranya sejuk dihiasi oleh sungai-sungai yang jernih.  Bahkan di beberapa tempat mengalir sungai susu yang lezat dinikmati penduduk yang berada di bukit utara.

Berbeda dengan perkampungan di lembah timur yang kumuh. Air sungainya berwarna hitam pekat, kotor dan sebagian ada yang yang berwarna kemerah-merahan bercampur putih nanah. Anyir sekali baunya. Rumah-rumah di sekitar sungai mayoritas masih terbuat dari papan-papan usang dan reyot. Jika musim hujan tiba, banjir pun menjadi menu rutin penduduk kampung di lembah timur.

Pernah suatu ketika ada penduduk di lembah timur bisa berpindah rumah ke bukit utara dikarenakan salah satu warga di bukit utara memiliki hutang semasa mereka hidup di Ladang Fana yang belum dilunasi kepada salah satu warga di lembah timur. Akhirnya salah satu warga di lembah timur itu bertukar rumah dengan warga di bukit utara.

Wajah Mbok Tun dan Sunarsih terlihat sumringah. Nampak cahaya kebahagian terpancar dari raut mukanya ketika salah satu tetangganya memberi kabar ada warga baru dengan rumah baru di kampung sungai susu di bukit utara.

Seperti biasa ketika ada warga baru yang bermukim di Kampung Sungai seluruh warga berbondong-bondong mengunjungi rumahnya. Mereka ingin mengetahiu siapa warga baru mereka. Barangkali mereka mengenalnya. Apakah itu sanak keluarga, saudara, sahabat atau sekadar pernah mengenalnya. Mereka pun bisa bertanya-tanya tentang kabar si fulan A, si fulan B atau si fulan C yang masih hidup di Ladang Fana jika mengenalnya.

Pun Mbok Tun hari itu dia berpakaian bagus dan rapi bersiap-siap berangkat menemui warga baru di bukit utara. Mbok Tun berharap-harap cemas dan selalu berdoa agar warga baru itu adalah orang yang dikenalnya.

Sudah menjadi harapan siapapun penduduk di Kampung Sungai  yang ingin melepas kerinduan dengan orang-orang yang dulu pernah menjadi bagian dalam hidup mereka. Hakikatnya di Kampung Sungai itu mereka menunggu orang-orang yang dicintainya datang dengan nasib baik.  Hampir setiap hari Mbok Tun melihat senja di pantai agar bisa melihat bayangan orang-orang yang dicintainya.

Mbok Tun akan sangat berbahagia bila melihat bayang-bayang suaminya yang masih sehat menghabiskan sisa-sisa umurnya dengan mendekatkan diri pada jalan yang diridhai Sang Gusti. Begitu juga  saat menyaksikan Pratomo, anak sulungnya masih rajin membaca kitab sucinya dan mengamalkan kebaikan untuk manusia lainnya. Melihat keluarganya hidup rukun akan membawa kedamaian di hati Mbok Tun. Namun kadangkala suasana hatinya menjadi kelam saat mengetahui Pratomo dan Sumarno bertengkar.

Kedua anaknya itu memang acapkali berseberangan paham. Sumarno, anak bungsunya yang telah terpengaruh kehidupan modern tumbuh menjadi pribadi yang hedonis, suka hura-hura dan gaya pergaulan anak zaman kekinian yang serba menghalalkan segala cara.  Dia senang sekali berjudi dan mabuk-mabukan. Sangat berbeda dengan kakaknya yang kalem, rajin mengaji dan membantu bapaknya mengolah sawah warisan nenek moyang.

Kini tubuh Mbok Tun terbang menuju bukit utara. Dia mengedarkan penglihatannya menyapu dataran hijau di bawah sana. Dari kejauhan dapat dilihatnya manusia-manusia yang terbang tanpa sayap ke berbagai arah. Namun kebanyakan menuju satu titik yang berpendar putih kemilau di tengah hamparan hijau di bukit utara. Disanalah rumah warga baru itu.

Secepat kilat Mbok Tun menukik ke bawah bagai kecepatan cahaya. Saking cepatnya Mbok Tun merasakan tubuhnya seperti dihantam ribuan pecahan meteor dan benda-benda angkasa. Hati Mbok Tun berdebar-debar ingin segera mengetahui siapa sesungguhnya warga baru itu.

Ketika Mbok Tun baru sampai di ujung jalan menuju rumah yang dituju, dilihatnya kerumunan orang berduyun-duyun menuju rumah warga baru itu.

’’Dik Tun!” Mbok Tun kaget dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Ternyata ada yang mengenalinya. Orang itu tergopoh-gopoh mendekatinya. ’’Selamat, dik Tun. Pak Manggolo yang datang.”

’’Benarkah, Yu Narmi?” Mata Mbok Tun terbelalak tak percaya. Ada rona bahagia tergambar di wajahnya. ’’Kang Manggolo…” teriak Mbok Tun sambil berlari menyibak kerumunan orang yang bermaksud menyambut kedatangan warga baru di Kampung Sungai. Beberapa warga mengucapkan selamat kepada Mbok Tun karena telah bertemu kembali dengan suaminya.

’’Biarkan Pak Manggolo istirahat dulu, nyai. Dia butuh ketenangan setelah melewati masa-masa peralihan,” ujar salah seorang warga yang memakai sorban ala penduduk Kashmir.

Mbok Tun yang berbahagia memeluk tubuh kang Manggolo yang masih terbaring di atas tempat tidurnya. Mulut Kang Manggolo masih terkatup meskipun matanya telah terbuka menatap Mbok Tun.

Mbok Tun meneteskan air mata penuh haru dan syukur. Mbok Tun ingin merayakan pertemuan dengan orang yang selalu ditunggu-tunggu itu dengan mengajaknya terbang mengangkasa. Memetik buah-buahan di dahan-dahan pohon lalu terbang bebas seperti burung-burung. Dia juga ingin mengajaknya bermain ombak yang berdebur, pasir pantai dan wangi air laut yang menyejukkan hati.

***

Sore itu Kang Manggolo dan Mbok Tun benar-benar menikmati keindahan senja bersama. Tak ada yang sanggup menandingi lukisan alam di kampung Sungai yang begitu mempesona. Pun seorang pelukis tak ada yang sanggup memindahkannya ke selembar kanvas. Mereka berdua juga tak mampu menuangkannya ke dalam kata-kata.

Mereka menatap lurus ke langit sebelah barat. Terbentang layar raksasa dengan warna dasar merah dan kuning keemasan. Bola merah raksasa di cakrawala itu seperti berada dalam jangkauan mereka. Disitu mereka juga bisa menyaksikan kehidupan anak cucu mereka.

Sementara itu bunga kamboja jatuh di pundak Pratomo yang sedang bersimpuh di pusara dengan batu nisan bertulis nama Manggolo bin Sumodiharjo. Pratomo merengkuh tanah merah basah tempat bapaknya baru saja dikuburkan disamping makam ibunya.

Angin menerbangkan daun-daun kering pohon kamboja yang jatuh berguguran ke pusara Pak Manggolo sehingga daun-daun itu bergulingan. (*)

Penulis Cerpen Yogyantoro

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia