Rabu, 23 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Candi dan Kejayaan Arsitektur Indonesia di Masa Lalu

28 Januari 2019, 02: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Nadzir/radarmojokerto.id)

SEBAGAI bangsa yang memiliki khazanah kebudayaan dan tradisi yang sangat kaya, Indonesia menyimpan banyak hal untuk diteliti, dipelajari, dan dikembangkan.

Salah satu hal yang bisa ditelaah adalah bangunan-bangunan candi besar yang ada, terutama di Jawa. Kita memiliki candi besar seperti Borobudur dan Prambanan, yang bisa dikatakan menjadi simbol puncak peradaban arsitektur pada masanya.

Di buku ini, kita didedahkan berbagai gambaran dari hasil riset terhadap candi-candi di Indonesia yang ditinjau dari disiplin arsitektur. Dari sana, ditemukan hal menarik dan mengagumkan, terutama mengenai tradisi arsitektur candi di Indonesia yang memengaruhi dan menjadi rujukan desain candi dan kuil di Asia Tenggara.

Tim peneliti menjelaskan, selama ini penelitian pada warisan bangunan masa lalu di Indonesia cenderung bersifat antropologis dan arkeologis. Akibatnya, sifat transformatifnya kurang, karena bersifat statis.

Buku ini meninjau bangunan candi berdasarkan kajian arsitektur, sehingga memungkinkan adanya gagasan yang lebih transformatif, khususnya yang berkaitan dengan wilayah Asia Tenggara, sehingga dapat menunjukkan eksistensi candi di Indonesia dalam konteks yang lebih luas.

Studi ini menggunakan pendekatan arsitektural melalui kajian representasi, tipomorfologi arsitektur, transformasi, percampuran, dan dapat dikaitkan dengan pemahaman analogi-analogi yang bertumpu pada nilai-nilai lokal. Mula-mula, dipaparkan mengenai bagaimana arsitektur candi di Jawa, terutama candi Prambanan, Borobudur, kemudian mengungkap relasinya dengan candi di era transisi di Kamboja, seperti candi Bakong.

Di sini, ditemukan dominasi unsur-unsur candi era Klasik Tengah Jawa pada candi-candi masa transisi di Kamboja. Penyusun meneliti 62 unsur candi yang ada di Jawa dan menemukan 19 di antaranya ada pada unsur candi di Kamboja. 

Pembahasan beranjak pada pengaruh arsitektur candi di Jawa pada puncak percandian di Kamboja. Di sini, dibandingkan mengenai tata massa serta denah, maupun denah bangunan utama dan bangunan penunjang antara candi Borobudur dan Prambanan dengan Angkor Wat yang bisa dikatakan menjadi simbol puncak arsitektur candi di Kamboja.

Di sini, ditemukan adanya unsur penataan tata massa yang sama, namun dikembangkan dengan bentuk yang berbeda. Angkor Wat terlihat menggunakan unsur (elektisisme) tipe Candi Borobudur dan Candi Prambanan pada tata massa, denah, dan sosok. Pengaruh Candi Prambanan lebih kuat, namun olahan ornamen mengalami pengembangan lebih lanjut (hlm 169).

Lebih unggul

Tim peneliti berkesimpulan Angkor Watt memang terinspirasi dari arsitektur Candi Prambanan dan Borobudur. Candi-candi di Kamboja pada masa transisi terinspirasi kuat oleh candi-candi di Jawa, mengingat perbedaan waktu tidak terlalu jauh.

Ada indikasi pengaruh candi Jawa era Klasik Tengah yang persisten digunakan sebagai sumber inspirasi pada perancangan dan pembuatan candi di era pratransisi sampai Bayon di Kamboja. Hal ini menandakan candi di Jawa sudah memiliki keunggulan arsitektur.

Dijelaskan Candi Induk Prambanan, meski berbeda tingginya sedikit dengan Angkor, dibangun tidak dengan kaki yang tinggi, namun dengan sosok yang tinggi dan besar dari bawah ke atas. Ketinggiannya setara dengan gabungan kaki Angkor yang berundak dan candi utamanya. Hal ini menunjukkan teknologi high rise building candi di Jawa lebih unggul dan maju.

Di samping itu, teknologi pertukangan Jawa Klasik Tengah juga terlihat lebih maju karena sanggup mengolah material yang lebih pejal dan teknik pengangkutan yang lebih apik. Material candi di Jawa (andesit) lebih keras daripada material batu (sandstone) di Kamboja (hm 243).

Desain arsitektur di era abad ke-9 di Jawa dapat dikatakan paling ultimate dalam perkembangan candi di Indonesia. Desain Borobudur misalnya, menggambarkan adanya inovasi berpikir yang menggabungkan tradisi lokal dan global. Tradisi lokal dari penggunaan kembali punden berundak, khas bangunan purba di Indonesia.

Sedangkan dari dimensi gigantik, Borobudur menggunakan teknologi konstruksi tak biasa. Di samping aspek teknologi, aspek pengadaan, pemindahan material, dan pengolahannya menggambarkan tingkat kesulitan tersendiri.

Inovasi lebih lanjut ada pada candi Prambanan. Jika Borobudur merupakan bangunan masif tak berongga, Prambanan punya rongga dan ruangan. Bangunan berongga memang ada pada candi-candi di Dieng dan Gedong Songo, namun dengan empat ruang dan dimensi besar serta ketinggian setara Borobudur, ini belum ada presedennya.

Prambanan adalah bangunan tinggi pertama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Konstruksinya butuh transformasi teknologi, khususnya dari candi kecil ke candi-candi besar. Sedangkan di zaman itu, tentu belum ada alat seperti crane untuk membangun bangunan setinggi 47 meter. Prambanan dibangun abad ke-12, dan itu berarti dua abad lebih awal dari Angkor Wat

Inspirasi        

Temuan ini diharapkan dapat menggugah penghargaan terhadap rasa dan sikap nasionalisme, melalui tradisi Indonesia dalam hal arsitektur, baik secara umum  bagi para sejarawan, arkeolog, dan sebagainya, maupun bagi para arsitek dan akademisi-akademisi arsitektur Indonesia.

Sebab, pengaruh global kini telah banyak memengaruhi kita dengan gaya arsitektur asing. Padahal, pada masa lalu, Indonesia pernah menjadi pusat peradaban arsitektur yang kuat dan menjadi rujukan di Asia Tenggara.

Tim peneliti, melalui temuannya mengenai kuatnya eksistensi candi Jawa di Asia Tenggara yang terbukti menginspirasi sampai Kamboja, berharap dapat digunakan sebagai refleksi bagi arsitektur dan arsitek Indonesia saat ini dalam berkreasi. Arsitek Indonesia mesti mampu mengembangkan potensi lokal ke-Indonesia-an dan mengimplementasikannya pada bangunan modern.

’’Bangsa Indonesia harus berbangga karena pernah memiliki karya arsitektur yang menembus batas teritorialnya, mampu menginspirasi peradaban besar, seperti Angkor dan di Asia Tenggara saat itu,” tulisnya. (*) 

*Al-Mahfud, bergiat di Paradigma Institute (Parist) Kudus.
Menulis ulasan buku di berbagai media massa, cetak maupun daring.

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia