Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Ombak-Ombak Itu, di Dadamu, Makin Bergolak

27 Januari 2019, 23: 55: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Grafis Nadzir/radarmojokerto.id)

DI BELAKANG rumahnya, ombak-ombak pantai utara terus bergolak. Dan aku baru saja menyaksikan seorang gadis kecil yang pipinya merona macam buah mangga Indramayu menggebas percikan air yang berasa asin di lidah itu agar tak merobohkan dinding rumah orang tuanya. 

Semula ia bicara sendirian. Jangan kau robohkan rumah kami, katanya. Namun, ombak-ombak yang lain susul-menyusul berkejaran dan menjatuhkannya yang telah sekuat tenaga membendung dengan kedua kakinya. Kulihat ia terjerembab dan kepalanya hampir membentur dinding rumah yang entah berapa waktu lagi sanggup bertahan. Gadis kecil itu mendengus memandang ombak, seketika laut pun surut. Surut dengan sesusut-susutnya. Dan perahuku kandas. Aku segera bergegas.

’’Kau tak apa, Nak?” Tanyaku dari perahuku yang terdampar. Dengan tergopoh-gopoh berlari di lumpur bercampur pasir kudekati lalu kupapah tubuhnya agar ia dapat berdiri tegak. Namun, gadis kecil itu tak sedikitpun meringingis.

’’Terima kasih Tuhan, terima kasih Bapak,” ucapnya disela musibah itu. Ia bangkit sambil berupaya membersihkan pasir yang melekat di sebagian pakaiannya. Aku terkesan. Bagaimana bisa untuk ukuran anak sekecil itu sudah mengerti tentang makna bersyukur? Berterima kasih karena terhindar dari musibah. Ia kemudian memintaku untuk duduk-duduk di atas tumpukan batu-batu berkaki tiga yang dipasang sepanjang pesisir, sekaligus menjadi benteng terakhir pertahanan rumahnya.

’’Kau tak apa-apa, Nak?” Kuulangi lagi untuk menanyakan keadaannya. Sekedar memastikan ia baik-baik saja.

’’Tidak Pak, hanya sedikit terkejut,” jawabnya sambil mencoba tersenyum.

Kemudian aku dan gadis kecil itu memandang ke laut. Pemandangan air laut yang tiba-tiba surut sebenarnya membuatku heran. Paling tidak aku teringat dengan kisah peristiwa tsunami di Aceh yang didahului surutnya air laut secara mendadak lalu beberapa menit kemudian air datang setinggi pohon kelapa menggulung dari lautan sampai ke daratan, ke desa-desa sampai ke kota.

Tetapi naluriku sebagai pelaut yang sudah terbiasa mengeja ombak dan menafsir angin meyakini tak akan ada bahaya seperti yang terlintas di kepalaku. Barangkali ini hanya fenomena alam saja. Atau mungkin surutnya air laut ini karena gadis kecil di sampingku ini. Ah, entahlah. Namun, ini sunguh ajaib.

’’Siapa namamu, Nak?”

’’Anna, Anna Nurjanah, Pak.”

’’Oh, nama yang sangat bagus, kalau bapak tidak salah mengartikan maknanya cahaya surga.”

’’Oh iya, panggil saja aku Pak Carman.”

’’Pak Carman.”

Mata gadis kecil itu lalu lekat menatapku dan dengan penuh haru ia menjatuhkan kepalanya di pundakku. Sesuatu yang cukup berat `pasti sedang dirasakannya.

’’Bapak salut padamu, Anna. Tak takut dengan ombak-ombak itu. Bahkan Bapak melihat ombak-ombak di dadamu jauh lebih besar dari gelombang tsunami sekalipun.”

’’Anna tidak ingin ombak-ombak itu merobohkan rumah ini, kasihan Ibu.”

Dadanya bergemuruh. Tak ingin peristiwa tragis –terseretnya sejumlah rumah dengan seluruh penghuninya karena hempasan ombak– terulang dan menimpa keluarganya. Ayahnya seperti juga aku adalah nelayan kecil dengan perahu yang juga kecil. Dua tahun yang lalu, ayahnya dikabarkan hilang ketika sedang melaut. Saat itu memang cuaca sedang buruk. Untuk menyambung kehidupan yang mendadak terputus, ibunya memilih bekerja sebagai buruh belah ikan gesek.

Tentu jika kemudian, rumah satu-satunya itu roboh dan terseret ombak, tak ada lagi tempat bernaung dari panasnya udara siang dan dinginnya udara malam. Tak ada lagi tempat untuk mengistirahatkan hati dari lelahnya melayari lautan kehidupan.

Itulah kali pertama aku mengenal Anna Nurjannah. Saling bertanya, bercerita, dan saling membesarkan hati. Ia tersenyum getir saat kulambaikan tanganku dari perahu kecil yang tiap hari kugunakan untuk menjaring ikan kecil di sekitar pesisir dan ke tengah laut.

’’Laut sudah pasang, Anna,” kataku sambil melompat ke papan geladak dan mengayuh perahu ke tengah lautan.

’’Hati-hati ya Pak Carman,” ucapnya sambil membalas lambaian tanganku dengan mata yang berkaca-kaca. Kulihat seorag perempuan mendekatinya. Aku pikir pasti itu ibunya yang baru pulang dari bekerja. Kulihat Anna Nurjannah tak beranjak sampai aku sendiri tak melihat keduanya karena telah jauh ke tengah membelah lautan.

Namun, sebelum minta diri aku sempat berjanji akan datang untuk mengenalkan anak gadisku yang seukuran dengannya serta membawakan ikan-ikan laut untuk dibakarnya. Dulu ayahnya sering membawa ikan untuk makan malam keluarganya.

DI KAMPUNGKU, ombak-ombak laut saban waktu terus menggerus pesisir yang makin lama kian tak berbibir. Kukatakan demikian karena puluhan tahun lalu, pantai Eretan yang begitu luas pernah dijadikan medan latihan perang TNI AD, latihan pendaratan TNI AL maupun latihan penerjunan TNI AU.

Bahkan serdadu Jepang pun ketika mendarat pertama kali di Indonesia tahun 1942 salah-satunya berlabuh di pantai Eretan. Namun sepertinya, romantisme yang mengundang rasa heroik itu tergerus lantaran ganasnya ombak laut Jawa mengikis pantai yang pernah dilukisi sejarah itu.

Berhektare-hektare tanah, sawah dan tambak  terendam bahkan beratus-ratus rumah dan pemukiman orang-orang pesisir roboh tak menyisakan pondasi sedikitpun. Sekalipun saat ini telah dipasang batu-batu berkaki tiga, tetapi tiap kali laut pasang, ombak-ombak tetap menerjang rumah-rumah yang hanya berjarak puluhan sentimeter dari batu penahan abrasi.

Pun tidak kecuali dengan rumahku. Bahkan keadaannya jauh lebih buruk dari rumah Anna Nurjannah. Tembok belakang rumah telah ambrol karena ganasnya air laut. Berkali kutambal dengan adukan semen, tetapi tetap saja rontok. Sehingga ruang tengah beralih fungsi menjadi dapur dan ruang tamu menjadi kamar tidur. Di dalam kamar tidur yang hanya punya seruang itu ditinggali anak perempuanku, Erawati namanya.

Usianya mungkin sama persis dengan Anna Nurjannah, gadis yang kuceritakan itu. Bahkan sebenarnya, keduanya memiliki kesamaan di dalam bentuk tipikal wajah. Oval, barangkali dalam ilmu fisiognomi istilah untuk menyebutnya. Erawati sebenarnya gadis yang cantik, tetapi ia anak pemurung. Ibunya telah minggat dibawa lelaki yang bertabiat kucing garong dua tahun yang lalu. Kurasa itulah penyebabnya.

’’Bapak pulang, Erawati.”

’’Iya Pak.”

Seperti biasa, ia hanya membawakan teh manis yang masih berasap dan beberapa potong ubi rebus. Di atas meja kecil yang tak beralas, diletakkannya. Dan seperti biasa, ia akan kembali masuk ke kamarnya. 

’’Kemarilah dulu, Nak,” pintaku.

Erawati segera duduk. Duduk di kursi yang cuma ada dua di beranda rumah, yang merangkap pula sebagai ruang tamu. Kuceritakan padanya tentang pertemuanku dengan Anna Nurjannah, gadis seukuran dengan Erawati. Ketika di penghabisan cerita, anak perempuanku itu justru yang mengajakku untuk bermain ke sana.

’’Baiklah, Nak! dua atau tiga hari lagi karena Bapak perlu mencari ikan-ikan untuknya.”

’’Kalau ikannya dapat, bagaimanan jika lusa saja ya Pak kita main ke rumahnya?”

’’Baiklah, Bapak usahakan ya, Nak, semoga ikannya banyak dan laut sedang baik,” ucapku. Entah kenapa ada binar kebahagiaan yang terpancar dari mata Erawati ketika kupandangi kedua bola matanya? Barangkali kesepian yang kerap melanda dermaga jiwanya akan menemukan labuh untuk bersama bermain ombak.

"APA sudah cukup ikan-ikan ini?” tanyaku. Rupanya suaraku telah membuyarkan lamunan gadis kecilku. Erawati terperangah saat matanya melihat di tanganku sudah ada belasan ikan etong yang diikat pada ingsang-ingsangnya dengan tali tambang bekas jaring yang sudah rusak.

’’Banyak sekali hasil tangkapan hari ini, Pak,” ucapnya gembira. Tampak binar matanya seperti matahari jingga yang memancarkan cahaya indah.

’’Simpan beberapa untuk lauk. Dan sore ini kita akan bermain ke rumah Annah Nurjannah. Bagaimana, Nak?”

’’Hore.... hore....!” ucap gadis kecilku dengan girang.

LAUT jingga setelah cahaya matahari sore hampir mencelup permukaannya. Siluet batu, pasir, lokan, dan karang indah tak terperi. Perahuku menyisir pantai dengan angin yang mendesir. Namun, selayang pandang nun di kejauhan gumpal halimun seperti tengah berkerumun di tempat aku dan Erawati menuju.

Badai, batinku. Aku lihat gulungan ombak seperti sedang menggombak rumah-rumah yang berdiri di sepanjang pesisir. Ake mengingat sesuatu. Bukankah di situ ada rumah gadis kecil yang kutemui tempo hari? Bagaimana keadaannya?

Ah, kecamuk di hatiku berkemelut. Segera kukayuh dayungku sekuat tenaga, sementara Erawati tak henti-hentinya bertanya, kenapa?

 ’’Berdoalah, semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Anna dan ibunya,” ucapku menenangkan.”

’’Maksudnya Pak?”

Perahu kubiarkan berhenti tanpa kukayuh. Aku tidak mungkin mendekati tempat itu saat ini. Lalu kujawab pertanyaan gadis kecilku,’’Di depan sana sedang ada amuk badai, Nak. Kita menunggu di sini sampai keadaan menjadi reda.”

 AKU tak melihat lagi rumah-rumah di batuan berkaki tiga itu. Hanya reruntuhan atap yang menimbun dinding-dinding yang telah rata dengan pasir pantai. Dari perahu yang kutambatkan di bebauan yang tak beraturan, kuturunkan gadis kecilku yang di tangannya memegang seikat ikan etong.

 ’’Barangkali ikan-ikan ini akan kembali kita bawa pulang, Nak,” ucapku haru.

’’Tidak Pak, kita akan tetap memberikannya untuk Anna. Lihatlah di balik reruntuhan atap yang setinggi pinggang itu! sepertinya anak dan ibu sedang menekuri sesuatu.”

’’Benarkah?”

Aku bergegas mendahului Erawati. Dua perempuan itu tengah memunguti puing-puing untuk kembali mendirikan rumah di atas reruntuhannya. Seakan, ombak-ombak itu, di dadamu, makin bergolak.

 ’’Anna,” ucapku pelan, “kalian baik-baik sajakah?” Keduanya berbalik. Dan kulihat Anna Nurjanah menghambur ke arahku. Ibu Anna dan Erawati tersedu melihatnya. (*)

Penulis cerpen: Faris Al Faisal

Indramayu, 2018

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia