Sabtu, 20 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Riwayat Jembatan Terusan Mojokerto (1)

Akses Transportasi Utama Seberangi Sungai Brantas

24 Januari 2019, 21: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Jembatan yang menghubungkan wilayah Kota Mojokerto dengan Kabupetan Mojokerto merupakan pengganti dari Jembatan Terusan.

Jembatan yang menghubungkan wilayah Kota Mojokerto dengan Kabupetan Mojokerto merupakan pengganti dari Jembatan Terusan. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Jembatan Terusan atau yang kini dikenal Jembatan Lespadangan, dulu menjadi urat nadi transportasi darat di Mojokerto. Bangunan infrastrutur yang membentang di atas Sungai Brantas itu menjadi jalur yang menghubungkan wilayah selatan dan wilayah utara Kabupaten Mojokerto. Bahkan, jembatan tersebut juga menjadi jalur transportasi utama antarkota.

DEMIKIAN itu dikatakan sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq. Dia menceritakan, pada masa lalu, transportasi dari Mojokerto ke Surabaya cenderung menggunakan jalur air. Hampir semua komoditi diangkut melalui Sungai Brantas.

”Namun, seiring perkembangan moda transportasi, jalur darat mulai mendapat perhatian,” ungkapnya. Selain pembangunan jalan, peningkatan infrastruktur juga berupa jembatan untuk melewati sungai. Di Mojokerto, jembatan yang pertama dibangun adalah Jembatan Terusan.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, belum ada referensi terkait kapan jalur yang menghubungkan wilayah Kota Mojokerto dan wilayah utara Kabupaten Mojokerto itu dibangun.

Akan tetapi, jika menilik sebuah peta pada tahun 1830-an yang memuat gambar jalur utama dalam Perang Jawa, diperkirakan, jembatan dibangun sebelum meletusnya perang antara 1825-1830. Sebab, pada zaman pendudukan Belanda itu, pasukan kolonial ditempatkan di salah satu jalur di Jawa Timur (Jatim) yang melewati rute Surabaya-Madiun melalui Mojokerto.

”Dengan demikian, bisa dipastikan, sebelum meletusnya perang yang dipimpin Diponegoro, jalan penghubung itu sudah ada,” tandasnya. Menurut Yuhan, pembuatan jalan tersebut merupakan bagian dari kelanjutan dari pembuatan Jalan Raya Pos atau Anyer-Panarukan di sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa.

Sehingga, jalur yang menghubungkan Surabaya ke Kediri dan Jogjakarta kemudian dikenal sebagai jalur selatan Jawa. ”Awalnya, jalur digunakan untuk mempermudah mobilisasi militer,” paparnya.

Namun, seriring perkembangan transportasi darat, jalur itu menjadi urat nadi sosial-ekonomi di Pulau Jawa. Karena menjadi tumpuan distribusi berbagai komoditas maupun jalur transportasi umum antarkota. Yuhan mengatakan, seiring perencanaan tata kota yang dibuat Belanda pada tahun 1838, infrastruktur jembatan juga dilakukan perubahan.

Jembatan Terusan dibuat dengan konstruksi besi. Selain  itu, posisinya dibuat lurus dengan jalur utama Kota Mojokerto. ”Pada saat itu, pemerintah kolonial merancang kota baru sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Mojokerto,” bebernya.

Dalam perencanaan itu, pusat kota berada pada alun-alun dan Jalan Kediri atau yang sekarang dinamakan Jalan Mojopahit. Menurut Yuhan, konstruksi besi jembatan dimungkinkan dibuat pada kisaran tahun 1903. Di samping itu, dilakukan peninggian jembatan.

Sehingga, saat debit air Sungai Brantas meningkat, ketinggian jembatan masih berjarak sekitar 1,5 meter dari permukaan air. ”Sehingga meski saat musim hujan, Jembatan Terusan tetap aman untuk dilalui,” pungkasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia