Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Features

Pasutri Korban Banjir Bandang, Kini Tinggal Kunci Rumah yang Tersisa

24 Januari 2019, 18: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Parti didampingi Lasian menunjukkan kunci pintu rumahnya.

Parti didampingi Lasian menunjukkan kunci pintu rumahnya. (Abe Arsyad/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Banjir Bandang yang menyasar sejumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Mojokerto menghanyutkan beberapa rumah warga. Salah satunya dialami keluarga Lasian, warga Dusun Tambaksuruh, Desa Kertosari, Kecamatan Kutorejo.

TAHUN 2003 adalah tahun ketika Lasian, 45, bersama istrinya Parti, 41, mulai membangun sebuah rumah di Dusun Tambaksuruh. Berlokasi di  perbatasan Dusun Tambaksuruh dengan Dusun Sukorejo.

Dari yang sebelumnya mereka tinggal di daerah Pacet, Lasian dan Parti sedikit demi sedikit menyisihkan rezeki untuk membangun sebuah rumah. Ya. Tentunya dari hasil keringat mereka. Sebagai kuli lepas, Lasian bekerja, juga dibantu Parti yang kesehariannya bertani.

Alhasil, mereka pun bisa menempati sebuah rumah di Dusun Tambaksuruh tersebut. Bersama seorang anak laki-laki bernama Andika yang saat itu baru berumur sekitar 3 tahun, mereka hidup dalam satu rumah. Rumah yang dinilai Lasian sudah lebih dari cukup.

’’Ada tiga kamar dengan satu ruang tamu dan perabotan yang cukup,’’ kata Lasian. Tahun 2007 kebahagiaan keluarga ini bertambah. Lantaran kehadiran buah hati bernama Intan Nur Aini. Hingga tahun 2019 Lasian dan Parti hidup bersama kedua anaknya.

Namun, kejadian tak terduga terjadi, Jum’at (18/1) malam. Banjir bandang menerjang rumahnya. Kuatnya arus banjir itu hingga mampu membuat rumah mereka roboh. Bahkan, rumahnya sampai hanyut tak tersisa.

Jembatan penghubung antardusun pun juga ikut putus. Untungnya, pada saat itu tak seorang pun berada di dalam rumah. Beberapa menit sebelum banjir bandang, Parti bersama kedua anaknya sudah menyeberang ke rumah orang tua Parti.

Kondisi hujan gerimis dan Parti khawatir akan sesuatu. ’’Memang biasanya kalau saya khawatir langsung pergi ke rumah orang tua saya,’’ katanya. Sebelum pergi, Parti mengunci pintu. Sementara Lasian pada saat itu tengah bekerja. ’’Saya dan anak saya ya hanya bawa kunci rumah dan baju yang saya pakai saja,’’ katanya.

Dan beberapa menit setelah Parti masuk rumah orang tuanya, ada seorang tetangga berteriak. ’’Banjir... Parti... Rumahmu!’’ kata Parti menirukan tetangganya. Parti pun keluar. Dengan mata kepalanya sendiri melihat proses roboh dan hanyutnya rumahnya itu.

Akhirnya, seketika Lasian pun dikabari. Saat Lasian sudah tiba dan semua berkumpul, mereka hanya mampu menatap kondisi air banjir yang menghanyutkan rumahnya beberapa waktu lalu. Paginya, mereka mendapati rumahnya hanya tersisa bagian lantai berbahan keramik dan juga lantai kamar mandi.

Kedati begitu, Lasian bersama istri dan kedua anaknya yakin bisa tetap tegar. ’’Yang penting intinya keluarga saya selamat. Itu saja saya sudah sangat bersyukur sekali,’’ kata Lasian. Saat ini , ujar Lasian, anak-anak sudah besar.

Mereka juga sudah terbiasa dididik tegar untuk menjalani segala kondisi. Untuk sementara ini, Lasian dan Parti bersama dua orang anaknya tinggal di rumah orang tua Parti di Dusun Sukorejo.

Keluarga sederhana itu memiliki tekad yang baik untuk tetap bertahan hingga nanti bisa membangun rumah lagi. Setelah kondisi jembatan dan juga tanggul sudah diperbaiki. Dan kondisi lokasi sudah siap dibangun rumah lagi. (sad)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia