Sabtu, 20 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Kota Mojokerto Belum Punya Masterplan Penanganan Banjir

23 Januari 2019, 17: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pengerjaan normalisasi Sungai Sadar yang juga melintas di kawasan Kota Mojokerto.

Pengerjaan normalisasi Sungai Sadar yang juga melintas di kawasan Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Kota Onde-Onde diketahui belum mempunyai masterplan penanganan bencana banjir. Padahal, hal itu penting dimiliki sebagai pemberi arah dan panduan penanggulangan dan penanganan banjir ke depannya.

’’Kita ingin menyusun masterplan penanganan banjir. Itu diawali dengan pengkajian dulu,’’ ungkap Ruby Hartoyo, plt kepala Bappeko Mojokerto. Ia mengatakan, kota sejauh ini belum memiliki masterplan penanganan banjir. Padahal itu diperlukan agar ke depannya tidak lagi muncul banjir di area kota.

Menurut dia, yang diperlukan kini penyusunan kajian hingga masterplan penanganan banjir. Untuk itu, pihaknya segera menggandeng instansi terkait untuk melakukan penyusunan masterplan. ’’Segera kita akan susun,’’ terang pria yang juga Kepala Disperindag ini.

Diakuinya, kondisi saluran hingga sungai di Kota Onde-Onde banyak mengalami perubahan. Itu tak lepas dari perkembangan kota yang tiap tahunnya melakukan pembangunan. Juga, perubahan perilaku pada masyarakatnya. ’’Tentu nanti muaranya air itu diarahkan ke Kali Sadar,’’ akui Ruby.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Mashudi, mendukung rencana pembuatan masterplan penanganan banjir. Itu dibutuhkan sebagai pemandu dan pemberi arah program penanganan dan penanggulangan banjir. ’’Kondisi existing-nya sekarang ini kan sudah berbeda. Jadi, harus dilakukan kajian dan penyusunan masterplan dulu,’’ ujarnya.

Dijelaskan Mashudi, Kota Mojokerto secara geografis mirip ceruk. Sehingga mudah sekali muncul genangan hingga banjir ketika musim penghujan. ’’Kalau mengandalkan peta saluran zaman kolonial Belanda, lalu gorong-gorong lama difungsikan lagi itu belum tentu bisa tanggulangi banjir. Kondisi existing-nya sudah beda,’’ jelas dia.

Untuk itu, kajian dan masterplan penanganan banjir nantinya akan memecahkan problem utama penanggulangan banjir. Yakni, menguraikan masalah sudut elevasi geografi kota sehingga bisa bebas banjir ketika penghujan. ’’Intinya itu persoalan (sudut) elevasi. Karena air itu selalu dari atas ke bawah,’’ sebut mantan Kepala Satpol PP Kota ini.

Sebelumnya, instansi terkait terlibat pembicaraan serius penanganan banjir di Kota dalam rapat dengar pendapat DPRD Kota Mojokerto. Utamanya, meninjau progres program Normalisasi Kali Sadar yang dibesut Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.

Program itu masih berlanjut hingga akhir 2019 nanti. Kali Sadar berhulu di daerah Gatoel Kota Mojokerto sepanjang 3,5 kilometer. Dan, melintasi Kabupaten Mojokerto dan berhulu di Kabupaten Sidoarjo.

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia