Rabu, 17 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Hiburan dan Perjuangan Melawan Zaman (1)

Layar Tancap Tetap Update Film

21 Januari 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Supriyadi, pemilik usaha Shanty Film menunjukkan koleksi roll film yang masih terawat.

Supriyadi, pemilik usaha Shanty Film menunjukkan koleksi roll film yang masih terawat. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Kemajuan teknologi bagai dua sisi mata uang. Selain berdampak positif terhadap perkembangan zaman, namun juga membuat usaha konvensional mulai ditinggal.

Bahkan tidak sedikit pula yang terpaksa gulung tikar. Beberapa di antara mereka harus memilih melawan zaman agar tetap bertahan.

SEPERTI yang dilakukan Supriyadi. Pria 68 tahun itu masih menyimpan perlengkapan layar tancap di gudang belakang rumahnya di Dusun Sidokerto, Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Di ruangan 4 x 5 meter itu terdapat lebih dari 200 koleksi berbagai judul film. Rol film itu masih terawat di dalam penutup yang terbuat dari bahan kaleng. Beberapa lembar kertas berserakan di atas meja yang lusuh. Pemilik usaha layar tancap Shanty Film itu memang selalu mencatat setiap penyewa yang memesan jasanya.

Lengkap dengan alamat, tanggal, dan judul film yang bakal diputar. ’’Pesanan terakhir pada malam tahun baru 2019 lalu,’’ ungkapnya. Setelah itu, tidak ada lagi nama penyewa yang tercatat di bukunya.

Kakek tiga cucu ini mengaku, perkembangan teknologi seakan menggerus dunia pertunjukan film layar tancap. Keberadaan usaha yang digelutinya sejak 30 tahun lalu itu pun kian tenggelam.

Dia menceritakan, perjalanan membuka usaha hiburan layar tancap bermula saat dirinya masih bekerja di Departemen Penerangan Kabupaten Mojokerto. Sehari-hari Supriyadi berkeliling melakukan sosialisasi program pemerintah.

Media yang efektif digunakan kala itu adalah layar tancap. ’’Agar memikat banyak penonton diputarkan film, di tengah cerita diselipkan pesan-pesan sosialisasi,’’ paparnya.

Saat itu, dia juga bergabung dengan Bioskop Ratna. Salah satu gedung bioskop yang ada di Kota Mojokerto. Namun, sekitar akhir 1980-an, Supriyadi memutuskan untuk membuka penyedia jasa hiburan layar tancap sendiri.

Pria kelahiran 17 Maret 1951 ini awalnya bergabung dengan pangusaha layar tancap lainnya. Maklum, pada tahun itu, banyak pelaku usaha yang menggeluti bisnis di bidang tersebut. Di Kecamatan Dawarblandong saja ada 10 pengusaha film. ’’Waktu itu belum punya alat sendiri. Alat dan filmnya masih sewa di kantor film Surabaya,’’ ulasnya.

Satu judul film harga sewa antara berkisar Rp 30 ribu. Harga akan semakin mahal jika film merupakan keluaran terbaru. Dia mengenang, masa kejayaan layar tancap pada dekade 1990-an. Dalam semalam, dirinya mampu menerima pesanan hingga di enam lokasi yang berbeda.

Tidak hanya di wilayah Kabupaten Mojokerto, tetapi juga merambah wilayah Gresik, Lamongan, Jombang, hingga Tuban. Saking padatnya jadwal, tidak jarang dirinya harus menolak permintaan.

Dalam satu kali pertunjukan, diputar 3-4 judul fim diputar. Meliputi jenis film humor, laga, horor, dan dakwah. Dalam setiap pertunjukan, hampir tidak pernah sepi penonton. ’’Selalu penuh, jumlahnya bisa ribuan orang. Karena layar tancap dulu hiburan yang murah dan meriah,’’ tandasnya.

Dari sekian banyak judul film, hampir seluruhnya merupakan karya dalam negeri. Yang menjadi favorit adalah film yang dibintangi Barry Prima dan Rhoma Irama. Sedangkan untuk genre horor yang dinanti tentu adalah film yang diperankan oleh Suzzanna.

Namun, memasuki tahun 2000-an, terangnya sorotan proyektor layar tancap perlahan mulai meredup. Penyebabnya tak lain adalah semakin berkembangnya teknologi. Masyarakat mulai banyak yang memiliki layar kaca televisi. ’’Apalagi sejak ada VCD/DVD. Masyarakat mulai beralih menonton hiburan yang lebih murah,’’ bebernya.

Kondisi itu diperparah sejak era teknologi informasi. Tersambungnya jaringan internet dan handphone yang kian menenggelamkan keberadaan industri layar tancap. Kini jumlah penyewa telah turun drastis.

Dalam satu bulan, paling banyak hanya menerima 2-3 pesanan saja. Itu pun hanya pada bulan tertentu saja. ’’Sekarang hanya insidentil saja. Seperti tahun baru, 17 Agustusan, dan sedekah desa,’’ imbuhnya.

Dia menyebutkan, dulu penyewa jasa layar tancap yang paling banyak mengalir dari acara hajatan. Tidak hanya itu, animo penonton pun juga menurun. Dalam satu kali pertunjukan, hanya mampu menyedot 100-200 orang.

Namun, dari sejumlah kendala itu, Supriyadi masih memiliki optimisme untuk terus mempertahankan eksistensi hiburan rakyat itu. Dia juga memiliki keyakinan bahwa layar tancap akan kembali bangkit. Oleh karena itu, sampai saat ini dirinya juga tetap meng-update koleksi film keluaran terbaru.

Supriyadi bekerja sama rumah film dari Jakarta dengan sistem bagi hasil. ’’Usaha film ini saya pertahankan supaya tetap eksis. Sehingga film nasional tetap jaya seperti dulu,’’ pungkasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia