Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Features

Penyiar Radio yang Beralih Profesi Jadi Guru dan Perajin Rajut

18 Januari 2019, 20: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Febri Martha menunjukkan sepatu rajut hasil karyanya.

Febri Martha menunjukkan sepatu rajut hasil karyanya. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

Berawal dari melihat sang ibu membuat taplak meja rajut, mendorong Febri Martha warga Desa Kutoporong, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto itu ikut terjun ke bisnis kerajinan yang sama.

Berbagai karya dibuatnya di sela-sela waktu luang sebagai guru di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Puri. Di antaranya, dalam bentuk tas, baju bayi, hingga sepatu.

DIAKUINYAbisnis kerajinan rajut memang sudah ada sejak lama. Namun, untuk sepatu rajut baru masuk di Mojokerto sejak dua tahun lalu. Ya, peluang itulah yang mulai ditangkap Febri, sapaan akrab Febri Martha. Meski tergolong baru, pesanan barang rajutan pun cukup mengalir. ’’Setiap minggu ada empat pasang sepatu rajut diselesaikan,’’ katanya.

Dia menceritakan, kerajinan rajut yang ditekuni berawal dari rasa penasaran saat melihat sang ibu merajut. Kebetulan, dia saat itu masih duduk di bangku kelas IV SD sudah ikutan belajar merajut.  ’’Saya masih ingat hasil rajutan pertama saya adalah kantong untuk uang Lebaran. Warnanya hitam dan merah, tapi saat itu benang jenis siet,’’ ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, bisnis rajut perlahan memikat hati Febri untuk menekuni. Meski awalnya sempat tak percaya diri dengan hasil karyanya, namun banyaknya dukungan moral dari keluarga hingga teman dekat, mendorongnya memberanikan diri terus berkarya dan berimajinasi.

Alhasil, peluang itu pun diambil dua tahun trakhir ini. Selain rajut bisa membuat perempuan menjadi produktif dan kreatif, peluang bisnisnya juga menjanjikan. Untuk memulainya, kali pertama dia membuat tas rajut pesanan teman. ’’Karena teman saya suka dengan hasil rajutan saya. Ini menjadi modal awal saya percaya diri, dan selalu temotivasi berkarya,’’ tutur perempuan yang pernah berprofesi sebagai penyiar di radio swasta ini.

Dia pun terus mengembangkan sayapnya hingga akhirnya ikutan bergabung dalam komunitas di Jatim di tahun berikutnya. Tidak hanya fokus pada rajut tas saja, kerajinan berbahan baku benang ini mulai berkembang untuk dijadikan karya sepatu rajut. Perubahan tren dari tas rajut ke sepatu rajut ini tak lain karena perkebangan fashion yang terus mengalami perubahan.

Sepatu rajut yang memiliki bentuk yang unik, kini cukup banyak memikat masyarakat. Apalagi, sepatu rajut masih tergolong baru di Mojokerto. ’’Jadi, masih menjadi barang istimewa. Benangnya juga dibuat dari katun. Lebih nyaman dan adem saat dipakai,’’ tandasnya.

Berbeda halnya dengan tas. Tas lebih ke bahan benang nilon karena lebih ditekankan pada kekuatan. Menurut Febri, untuk sepatu rajut ada dua jenis. Sepatu cover dan sepatu granny. Bedanya cover sepatu sudah jadi, dan ada di pasaran seperti sepatu karet. Plastik polosan yang tinggal ditutup rajutan di bagian atas. Sebaliknya, untuk sepatu granny, perajut harus membuat rajutan mulai dari bawah.

Secara otomatis, tingkat kerumitan dan waktu pun lebih panjang. Dalam seminggu, anak kedua dari tiga bersaudara ini mampu memenuhi pesanan hingga empat pasang sepatu granny. ’’Peminat sepatu rajut cukup banyak,’’ tuturnya. Harganya pun bervariasi. Selain tergantung jenis rajutan, juga pilihan warnanya.

Dengan rincian, sepatu cover dewasa diabnderol dari harga Rp120 ribu sampai Rp155 ribu. Sedangkan untuk anak-anak dihargai Rp75 ribu sampai Rp100 ribu per pasang. Berbeda dengan jenis granny, dibanderol lebih tinggi dari cover. Yakni, Rp165 ribu hingga Rp350 ribu untuk ukuran dewasa.

Dan Rp 80 ribu sampai Rp 120 ribu ukuran anak-anak. ’’Harganya berbeda, karena sepatu rajut granny cukup membutuhkan tenaga yang ekstra dibanding sepatu rajut cover. Tapi, jika konsumen suka yang unik, harga berapapun akan dipesan,’’ tandasnya.

Bisnis ini pun tergolong cukup menjanjikan. Meski menjadi pekerjaan sampingan. Untuk menyelesaikan, tak jarang dia sengaja membawanya ke sekolah. ’’Ya, saya kerjakan saat jam istirahat. Pokoknya, kalau lagi menunggu, saya manfaatkan untuk merajut,’’ tuturnya. Sehingga saat hari libur menjadi waktu kerja yang sebenarnya.

Media online masih menjadi andalan sebagai alat promosi. Seperti Instagram (IG) dan Facebook (FB). Menurut Febri, berkembangnya teknologi, media sosial (medsos) cukup membantu. Bahkan, sampai sekarang dia belum mampu memenuhi permintaan pesanan yang terus mengalir.

’’Kadang jika pesanan banyak, pesanan akan saya berikan ke perajut yang lain dalam satu komunitas. Alhamdulillah sampai saat ini, tidak pernah komplain dengan hasil rajutan saya. Namun, justru dikomplain meminta agar cepat jadi. Mungkin pingin segera pakai,’’ ceritanya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia