Minggu, 21 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Mata Lensa

Kejernihan di Antara Sungai Telusur

13 Januari 2019, 14: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Lima anak bermain dan berenang di dam Sungai Telusur, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

Lima anak bermain dan berenang di dam Sungai Telusur, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto)

RIUH suara anak bermain di dam sungai. Mereka meloncat mengikuti arus air. Seolah tak menghiraukan bahaya mengancam. Mereka menyebutnya dengan Sungai Telusur.

Dam sungai di kawasan Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Air sungai nampak jernih. Sesekali ikan meloncat kegirangan. Sementara para pemancing terlihat di setiap sudut, di bawah semak, dan di antara besi penyangga jembatan.

Di sisi utara dam telusur, nelayan sungai berjalan di atas sampan. Di sini sungai nampak kotor. Berbeda dengan kondisi di sekitaran dam. Sesekali nelayan menyingkirkan sampah pampers, dan tumpukan plastik yang menghalangi sampanya. Memang, di Mojokerto banyak terdapat sungai.

Di kawasan kota saja, ada beberapa sungai besar. Di antaranya Sungai Brangkal yang berhulu di pegunungan Pacet, Gondang, dan Jatirejo. Serta Sungai Sadar, dan yang lebih fenomenal adalah Sungai Brantas.

Tak sedikit warga sekitar menggantungkan hidupnya di sekitaran sungai. Baik pencari ikan, pedagang maupun pekerja lainnya. Namun, kondisi sungai kotor tak menarik untuk dipandang. Di samping merusak estetika wajah kota, juga menimbulkan bibit-bibit penyakit bagi warga sekitar.

Sungai tak hanya menjadi saluran air dari hulu ke hilir. Ruang-ruang publik di Mojokerto yang dilintasi sungai bisa disulap menjadi taman yang indah, sentra ekonomi, hingga ruang edukasi. Dengan begitu, perwajahan kota lebih tertata.

Namun, problematika di masyarakat saat ini adalah tentang kesadaran agar tidak membuang sampah di sungai. Pelan tapi pasti. Di kawasan Kota Mojokerto sedikit berubah. Dengan rasa ikut memiliki, masyarakat kota lebih sadar dengan membuang sampah pada tempatnya.

Tentu saja ditunjang dengan fasilitas beruba depo-depo pengolahan sampah sementara. Bahkan, terdapat kegiatan pengolahan dan membayar pajak dengan sampah melalui program pemerintah. Berbeda ketika di kabupaten. Minimnya tempat pembuangan sampah sementara membuat tumpukan sampah tercecer di mana-mana.

Tak hanya di sungai, di sudut-sudut jalan juga dipenuhi dengan sampah. Terutama jenis sampah rumah tangga dan kimia. Seperti plastik dan bahan styrofoam. Sampah jenis tersebut memakan waktu puluhan tahun untuk bisa terurai secara alami.

Di era modern saat ini, masyarakat kota dan desa menghasilkan sampah yang sama, yaitu sampah kimia. Hal itu dihasilkan dari konsumsi yang sama pula.  

(mj/fan/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia