Kamis, 21 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Aedes Aegypti Makin Menjadi, Penderita DBD Bertambah Lagi

13 Januari 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pasien anak-anak yang didiagnosa mengalami penyakit DBD saat masih menjalani perawatan di RSI Sakinah Mojokerto.

Pasien anak-anak yang didiagnosa mengalami penyakit DBD saat masih menjalani perawatan di RSI Sakinah Mojokerto. (Muh. Ramly/Jawa Pos Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) terus menghantui masyarakat di Kabupaten Mojokerto. Bahkan, keganasan gigitan nyamuk aedes aegypti ini semakin tak terkendali menyerang kalangan balita dan anak-anak.

Sejumlah laporan rumah sakit pun terus menambah daftar pasien penderita DBD. Kemarin (12/1) Moh. Syukron, warga Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto mengaku tiga anggota keluarganya yang masih berusia balita dan anak-anak terjangkit virus dengue.

Di mana, sebelumnya, dua buah hatinya sendiri terjangkit lebih dulu, dan harus mendapat perawatan intensif tim medis Rumah Sakit Gatoel, Kota Mojokerto. Tak tanggung-tanggung, serangan penyakit yang selalu muncul setiap tahun itu berlangsung dalam waktu hampir bersamaan.

Padahal, ketiga anggota keluarganya tersebut tidak tinggal dalam satu rumah dengan Syukron. Namun, keganasan gigitan nyamuk aedes aegypti rupanya tidak memandang waktu, usia, dan tempat.

Hingga memaksa Syukron dan keluarga kembali merujuk penderita ke rumah sakit untuk mendapat perawatan intensif. ’’Pokoknya hanya selang sehari setelah dua anak saya sembuh. Malahan selisih waktunya hanya hitungan jam. Ketiga keponakan saya tiba-tiba demam tinggi. Lalu, ketika di uji lab, ternyata sudah masuk gejala demam berdarah,’’ ungkapnya.

Syukron mengaku belum mendapatkan arahan atau tindakan langsung dari pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, puskesmas, maupun pemerintah desa terkait penanganan DBD di desanya. Entah dengan melakukan tindakan fogging atau pemantauan sarang nyamuk di setiap rumah warga.

Sekaligus sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran DBD. Termasuk sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di setiap rumah warga. ’’Kalau fogging kayaknya belum ada. Tapi, belum tahu kalau soal sosialisasi,’’ tambahnya.

Jumlah penderita baru tersebut dengan demikian menambah daftar laporan kasus DBD. Sebelumnya, RSI Sakinah Mojokerto dalam kurun waktu kurang dari satu setengah bulan sudah merawat 183 penderita. Masing-masing 88 penderita di bulan Desember 2018. Dan sisanya hingga 12 Januari kemarin mencapai 95 pasien kasus DBD. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia