Kamis, 21 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal
Saat Tim Cyber Troops Berselancar di Medsos

Kejahatan Online Marak, Polisi Take Down Akun Bodong

13 Januari 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kejahatan Online Marak, Polisi Take Down Akun Bodong

Seiring perkembangan teknologi informasi (ti) yang kian pesat, mengharuskan kepolisian getol berselancar di media sosial (medsos). Selain mengantisipasi cyber crime, sekaligus untuk mempelototi akun abal-abal penyebar hoaks hingga unggahan bernada provokatif dan berbau sara.

KAPOLRESTA Mojokerto AKBP Sigit Dany Setiyono, menjelaskan, setidaknya ada 20 personel petugas yang menjadi tim cyber troops di lingkungan polresta. Angka itu belum lagi ditambah satu personel dari setiap polsek jajaran.

Tugasnya melakukan cyber patrol menemukan tindak pidana atau cyber crime. ’’Ada konten hoaks, ujaran kebencian, provokasi, pornografi,’’ katanya. Tidak hanya menggunakan PC (personal computer), cyber patrol atau berselancar di medsos juga bisa dilakukan dengan smartphone.

Setelah konten-konten tersebut ditemukan, lanjut Sigit, tim cyber akan melakukan upaya lanjutan. Berupa upaya krarifikasi jika konten itu dalam bentuk hoaks. Sebaliknya, jika temuan itu mengindikasikan tindak pidana, penipuan online, atau pornografi akan ditindak lanjuti unit cyber di satreskrim.

’’Akan ditindaklanjuti tindak pidananya. Apakah masuk undang-undang ITE (informasi traksaksi elekronik) atau SARA, dan lainnya,’’ tuturnya. Menurutnya, cyber troops ini akan bekerja sama dengan humas untuk melakukan edukasi dan viralisasi konten hoaks berbau SARA dan provokasi yang sudah dalam bentuk klarifikasi.

Atau menggeser ulang hoaks yang sudah distempel menjadi berita bohong. ’’Itu setiap hari kita lakukan,’’ tandasnya. Tidak berjalan dan berdiri sendiri. Cyber troops ini terkoordinir dan terintegrasi di seluruh Jawa Timur (Jatim) di bawah naungan Bidhumas Polda Jatim.

Artinya, Polresta Mojokerto ikut melakukan klarifikasi konten hoaks yang terjadi di wilayah Jatim hingga tingkat nasional. Misalkan, jika ada ujaran kebencian pada Presiden secara masif dan terukur, cyber troops ini akan melakukan klarifikasi. Di sisi lain, ada tim sendiri yang sudah melakukan lacak dan pengejaran para pelaku.

’’Bisa juga dilakukan take down. Supaya, akunnya langsung ditutup oleh Facebook atau Instagram,’’ ujarnya. Seperti yang terjadi belakangan ini. Setidaknya ada sejumlah pelajar di Kota Mojokerto yang mendatangi Satreskrim Polresta Mojokerto untuk melakukan pengaduan.

Mereka merasa dirugikan lantaran data dan potonya dimanfaatkan akun palsu facebook untuk berbuat tindak pidana penipuan. Termasuk melakukan hal-hal negatif yang bisa merugikan korban. ’’Nah, tugas Polri di sini membantu melakukan klarifikasi dan take down akun palsu itu,’’ tandasnya.

Jumat sore (11/1) satreskrrim mendapati laporan dari masyarakat atas tindak pidana penipuan dengan modus SMS penawaran mobil lelang harga murah. Penawaran itu ternyata membuat para korban tertarik. Setelah terlibat komunikasi tanya jawab, akhirnya disepakati korban memesan mobil Mitsubishi Xpander dengan mentransfer uang Rp 5 Juta.

’’Artinya, masyarakat harus mewaspadai modus penipuan seperti ini agar tidak ada korban lagi,’’ tandasnya. Pembentukan tim cyber tak lepas dari tuntutan perkembangan zaman dan TI yang kian pesat. Sehingga secara otomatis, kepolisian pun harus mengikuti.

Terbukti, dari sejumlah kejahatan cyber yang cenderung tinggi, sudah banyak bisa terungkap oleh kepolisian. Misalkan, hoaks adanya tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos. ’’Pelakunya sudah bisa ditangkap. Itu karena kecepatan dan kesigapan cyber trops Mabes Polri. Kerja sama dengan setiap Polda jajaran,’’ terangnya.

Apalagi, kini cyber trops sudah menjadi struktural tersendiri di Mabes Polri yang dikomandoi jenderal bintang satu. ’’Di Bareskrim itu ada direktur tindak pidanan cyber,’’ pungkasnya. Sigit menegaskan, berkembangnya IT yang kian pesat, tidak bisa dipungkiri juga akan diikuti tren kejahatan. Terbukti, di tahun 2018, dari, catatan polresta, tren cyber crime cukup menonjol.

Dia menyebutkan, indeks cyber crime atau tindak kriminal yang dilakukan menggunakan sarana teknologi sebagai alat kejahatan utama tercatat mencapai 67 pengaduan masyarakat. 

Modusnya pun relatif banyak. Seperti halnya, penghinaan, penipuan online shopping, penipuan online lowongan kerja, penipuan online travel perjalanan wisata palsu, dan penipuan SMS (short massage service) undian berhadiah.

’’Ada juga yang pengancaman melalui sosmed hingga menggunakan akun palsu mengatasnamakan institusi Polri,’’ pungaksnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia