Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Lifestyle

Gaya Hedonis Biar Dibilang Keren

12 Januari 2019, 18: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Foto ilustrasi diperankan oleh model.

Foto ilustrasi diperankan oleh model. (Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Kesenangan dan eksistensi diri dewasa ini sudah menjadi prioritas para remaja. Ya hedonis seperti itu tumbuh seiring dengan perkembangan zaman.

Di era yang serbacanggih sekarang ini, bersenang-senang dan mencari kenikmatan semata seakan menjadi kebutuhan.

SEPERTI diungkapkan Nur Khorida, salah satu sarjana di salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Mojokerto. Dewasa ini banyak remaja tak mau mandiri. Mereka seakan tak mau bekerja keras untuk memiliki masa depan yang lebih baik. ’’Karena pada prinsipnya, bisa senang itu happy,’’ kata remaja kelahiran 1994 itu.

Tak urung, kebiasaan nongkrong dan foya-foya pun tak bisa dihindari. Karena, uangnya dari hasil nyadong orang tua, banyak remaja tak terkontrol. Untuk pergi ke kafe-kafe mahal sambil bawa pacarnya, mereka rela merogoh koceh banyak. ’’Mungkin agar dibilang keren. Atau mungkin alasan gaul,’’ tandasnya.

Apalagi, dari fakta di lapangan, hedonis ini memang lebih mengedepankan materi atau kebendaan. Harta atau uang banyak, itu sudah menjadi suatu kepuasaan sendiri. ’’Contoh riil-nya, banyak remaja yang memiliki gadget mahal. Nongkrong sampe larut malam dengan motor gede dan mobil mewahnya,’’ terangnya.

Tak hanya itu, dewasa ini, banyak remaja yang juga memakai pakaian glamor, pergi dugem, karaoke ke tempat hiburan malam. Tak mau ketinggalan, tren alis disulam, gigi dipager. Tentunya itu tidak mengeluarkan biaya yang  sedikit. ’’Padahal, mereka juga banyak yang statusnya masih pelajar SMP dan SMA,’’ tandasnya.

Sejumlah faktor memengaruhi. Salah satunya keluarga. Jika mereka tidak bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarga, secara berlahan akan mencul sifat hedonis yang akhirnya bisa membuat dia nyaman.

Tak hanya itu, lingkungan dan teman juga sangat memengaruhi. Menyusul, remaja pada tahap masih mencari eksistensi dan kesenangan. ’’Kesenangan itu bisa kesenangan baik dalam hal positif atau negatif,’’ ujarnya.

Di lain sisi saat usia remaja, merupakan fase yang rentan dan labil dalam emosional. ’’Termasuk dalam tahapan pencarian jati diri,’’ tuturnya.

Kata dia, sebenaranya, tak hanya remaja, orang dewasa pun juga bisa mempunyai sifat hedonis. ’’Munculnya kadang saat menghadapi permasalahan,’’ pungkasnya.  

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia