Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Sportainment

Lolos 32 Besar Piala Indonesia, PSMP Binggung Anggaran

11 Januari 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Penyerang PSMP Kartanto (kiri) menunjuk Haris Tuharea (kanan) usai mencetak gol ke gawang Kalteng Putra di babak penyisihan grup timur Liga 2 musim 2018 lalu.

Penyerang PSMP Kartanto (kiri) menunjuk Haris Tuharea (kanan) usai mencetak gol ke gawang Kalteng Putra di babak penyisihan grup timur Liga 2 musim 2018 lalu. (Jawa Pos Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Kesanggupan skuad PS Mojokerto Putra (PSMP) melanjutkan eksistensinya di babak 32 besar Piala Indonesia, 22 Januari nanti rupanya masih menjadi dilema di dalam internal pengurus.

Pengurus mengaku masih kebingungan atas kondisi tim yang akan diturunkan setelah sebelumnya resmi dibubarkan manajemen Desember lalu. Meski telah mewacanakan bakal merekrut kembali beberapa pemain lama yang berdomisili di lokal Mojokerto, namun rencana itu belum cukup menjadi acuan dalam menyusun komposisi tim terbaik.

Ketidakyakinan itu tak lepas dari faktor minimnya pendanaan tim yang tersedia. Sehingga, cukup memengaruhi kualitas permainan Laskar Majapahit di dua laga home away melawan Borneo FC itu.

Ya, sejak gagal lolos di babak 8 besar Liga 2 musim 2018, secara tidak langsung skuad Laskar Majapahit telah dibubarkan oleh manajemen. Termasuk ketika menjalani babak 64 besar Piala Indonesia melawan Semeru FC yang tidak banyak diperkuat pemain andalan. Atau hanya diperkuat beberapa pemain lokal yang berdomisili di sekitar Mojokerto.

Kebijakan itu setelah kontrak kerja sama antara pemain dan manajemen resmi berakhir awal Desember. Sehingga para pemain, pelatih, hingga ofisial tidak lagi memiliki tanggung jawab untuk membela PSMP di pertandingan berikutnya.

Nah, situasi tersebut yang rupanya menjadi ganjalan pengurus dan manajemen dalam merekrut mereka untuk kembali berseragam merah-hitam. Pasalnya, manajemen dan pengurus harus menggaji para pemain yang terpanggil sesuai komitmen yang disepakati.

Meski hanya dikhususkan untuk Piala Indonesia, ikatan kerja sama kontrak mau tak mau harus dijalani PSMP sebagai tim profesional. Hal ini yang dinilai menjadi persoalan tersendiri. Mengingat, pendanaan PSMP saat ini tengah mengalami keterpurukan. Di mana, sponsor tim satu per satu mulai menjauh seiring sanksi yang diterimanya.

’’Cari sponsor tim sekarang itu sangat sulit. Apalagi PSMP disanksi PSSI. Di Liga 2 kemarin, andalan utama kita hanya dana subsidi dari PSSI sebesar Rp 1,5 miliar,’’ tutur Presiden Klub Firman Efendi.

Meski di Piala Indonesia setiap tim juga diberi subsidi, namun nominalnya tak sebesar di Liga 2. Bahkan, jauh di bawahnya. Hal ini tak lepas dari sistem gugur yang dipakai. Sehingga, tim yang lolos harus pintar mengelola keuangan mereka untuk bisa mendanai tim di setiap laga yang dijalani.

’’Sekarang kita masih berpikir bagaimana caranya mencari sumber dana. Yang jelas, kita harus bertanding saat melawan Borneo FC,’’ pungkasnya. Sebelumnya, PSSI masih memperkenankan PSMP berlaga di babak 32 besar Piala Indonesia meski sanksi larangan bermain telah diberikan.

Alasannya karena pelaksanaan turnamen telah berlangsung lebih dulu sebelum sanksi diterima. Sehingga PSMP masih memiliki hak untuk eksis di turnamen pelengkap Liga itu. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia