Rabu, 20 Mar 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Perjalanan Karir Gitaris Adi Prayitno

Omzet Jualan Gitar Sudah Tembus Rp 1 Miliar Lebih

09 Januari 2019, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Gitaris Adi Prayitno alias Sang Adi bersama buah hati di rumahnya di Desa Sidorejo, Kec. Jetis, Kab. Mojokerto.

Gitaris Adi Prayitno alias Sang Adi bersama buah hati di rumahnya di Desa Sidorejo, Kec. Jetis, Kab. Mojokerto. (Farisma Romawan/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Tak banyak musisi asal Mojokerto yang mampu mewarnai belantika musik Indonesia. Gitaris Adi Prayitno pernah mencoba mencicipi kerasnya karir di industri musik Ibu Kota Jakarta. Seperti apa kisahnya?

NAMA Adi Prayitno memang tidak begitu familier di telinga penikmat musik saat ini. Selain bukan sosok artis dan musisi papan atas, pria 35 tahun ini juga bukan sosok manusia yang menyukai dunia glamor. Sehingga, tidak banyak orang yang mengenalnya.

Namun, kondisi tersebut tak berarti menghentikan kiprahnya dalam bermusik. Terutama genre dangdut yang telah mengorbitkan namanya sebagai salah satu musisi orkes melayu terkenal di Jawa Timur hingga Indonesia.

Adi Prayitno atau yang akrab disapa Sang Adi memang lebih banyak berkecimpung di musik dangdut selama ia berkarir musik 10 tahun terakhir. Selain karena sudah menjadi identitas musik Indonesia, dangdut juga menjadi awal perjalanan karir petikan gitarnya mengisi layar kaca televisi nasional beberapa tahun terakhir.

’’Saya belajar musik sejak tahun 1997 atau usia 14 tahun. Dulu malah awalnya pegang kendang, terus akhirnya belajar gitar,’’ terang Adi saat ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto di kediamannya di Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis.

Adi mengaku belajar bermusik terutama gitar tanpa melalui guru alias otodidak. Berawal dari gitar milik Karang Taruna di desa tempatnya tinggal, Adi mencoba mengasah skill memetik dawai gitar tanpa kurikulum resmi. Hingga akhirnya ia dikatakan mahir dan ikut bergabung di beberapa band lokal Mojokerto.

’’Dulu awalnya malah cuman hafal dua chord saja, terus coba ngamen di kampung-kampung. Sedikit demi sedikit belajar sampai akhirnya ikut gabung sama teman-teman musisi lain. Dulu saya ikut gabung Kavaleri, band senior Mojokerto,’’ tambahnya.

Bakat gitar melodi Adi semakin terasah manakala ia sering tampil dan bersaing antarmusisi dari berbagai daerah. Lewat festival dan parade musik pop dan rock, baik setingkat Jatim hingga nasional di awal dekade 2000-an.

Sejumlah prestasi pun sukses ia sabet, mulai dari The Best Gitar se-Jatim hingga Jawa-Bali. Bahkan, Adi juga sempat mencoba berkarir di level nasional saat ikut audisi band di salah satu televisi nasional tahun 2005.

Saat itu, ia terpilih sebagai gitaris perwakilan Surabaya yang untuk bergabung dalam satu grup band bernama Silver. Dan bersaing dengan musisi dan band indi asal provinsi lain.

Meski gagal meraih juara pertama, namun skill Adi saat itu sempat tersohor di kalangan musisi dan grup band Ibu Kota. ’’Saat itu memang iseng dan coba-coba saja. Apakah bakat saya ini bisa diterima atau tidak. Namanya juga seni, apa pun kondisinya dicoba dulu,’’ tutur Suami Atik Irnawati ini.

Namun sayang, karirnya di genre musik mainstream kalah kuat dengan musisi lainnya. Hingga akhirnya ia mencoba kembali ke genre musik dangdut. Utamanya dangdut koplo yang terkenal dengan alunan nge-beat dan dinilai cocok dengan selera bermusiknya.

Hingga akhirnya ia tergabung di beberapa Orkes Melayu terkemuka asal Jawa Timur. Mulai dari Avita, RGS hingga terakhir Sonata yang kembali membawanya ke kancah musik Jakarta. Di grup orkes inilah, Adi menikmati karir bermusiknya dengan maksimal.

Beberapa kali ia manggung baik off air maupun on air. Dalam seminggu, ia bisa puluhan kali manggung di sejumlah daerah selain Jakarta. Bahkan, sound gitarnya juga sempat beberapa kali mengisi alunan lagu artis dangdut terkenal seperti Via Vallen dan lainnya.

’’Ya mulai tahun 2010 ke atas, job manggung dari daerah satu ke daerah lain sangat banyak. Belum lagi pas ngisi acara dangdut di TV. Saat itu saya sudah gabung OM Sonata,’’ kenang Ayah dua anak ini.

Namun, lagi-lagi situasi bosan tak dapat ia hindari ketika musik koplo mulai booming sebagai genre terpopuler sampai saat ini. Ia pun mantap memutuskan keluar dari ikatan manajemen orkes dan memilih mencoba berkarir secara mandiri di tempat tinggalnya Sejak November 2017 lalu.

’’Gimana ya, saya ini orangnya nggak suka terikat. Tapi tetap saya masih menggeluti dunia musik dangdut,’’ papar ayah dua anak ini. Saat ini, Adi memilih menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas barunya. Namun tetap saja tak jauh dari dunia musik yang telah melambungkan namanya.

Mulai dari memasarkan gitar handmade buatan rekannya sesama musisi Mojokerto hingga freelance manggung bersama rekan sesama musisi dangdut sekitar Mojokerto, Gresik, Sidoarjo, dan Jombang. Ia juga membuat usaha sendiri dengan membuka rumah makan di kawasan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto.

Meski begitu, tawaran manggung dan mengisi acara on air di televisi juga tak bisa ia hindari. ’’Omzet saya jualan gitar ini sudah sampai Rp 1 miliar lebih. Padahal baru setahun ini ikut memasarkan. Kemarin masih ada yang nawari ikut mengisi acara audisi TV di dua acara musik dangdut, tapi nggak saya ambil karena sudah mantap di rumah saja,’’ pungkasnya. (abi)

(mj/far/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia