Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

SPBU Mojowarno Disegel, Pengawas-Karyawan Terancam Tersangka

04 Januari 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Dua petugas Satreskrim Polres Mojokerto saat menyegel SPBU Mojowarno, Kabupaten Jombang.

Dua petugas Satreskrim Polres Mojokerto saat menyegel SPBU Mojowarno, Kabupaten Jombang. (Khudori Aliandu/Jawa Pos Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Penggerebakan rumah kontrakan di Dusun/Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto sebagai lokasi penimbunan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar terus didalami kepolisian.

Terbaru, hasil penyidikan dugaan praktik curang dilakukan Sugianto, 28, warga Dusun Kedawung, Desa Karangkedawang, Kecamatan Sooko itu berpontensi menyeret 14 tersangka baru. Belasan orang itu terdiri dari dua orang pengawas dan 12 operator SPBU Mojowarno, Kabupaten Jombang.

Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP M. Solikhin Fery, mengatakan, penyidikan yang dilakukan sejauh ini terus mengalami pengembangan.  Hasilnya, polisi menemukan fakta-fakta baru di balik praktik curang penimbunan dilanjutkan penjualan BBM bersubsidi setingkat harga industri tersebut.

’’Kami sudah memeriksa 14 karyawan SPBU. Termasuk pengawasnya,’’ terangnya Kamis (3/1) Bahkan, lanjut Fery, ke-14 orang yang sudah dimintai keterangan di Mapolres Mojokerto tersebut berpotensi menjadi tersangka.

Mereka diduga terlibat dalam dugaan praktik tindak pidana penimbunan BBM.  Ke-14 orang ini berstatus sebagai karyawan di salah satu SPBU di Mojowarno, Kabupaten Jombang. Lokasi di mana tersangka Sugianto saat membeli solar bersubsidi dengan jumlah yang cukup banyak.

’’Dua orang statusnya sebagai pengawas dan 12 orang operator SPBU. Jadi, jumlahnya ada 14 orang,’’ kata perwira dengan tiga balok di pundak ini. Kendati demikian, Fery mengaku untuk meningkatkan status menjadi tersangka, penyidik masih akan menggelar perkara guna mengetahui peran masing-masing.

Termasuk mendalami sejauh mana dugaan keterlibatan mereka. Gelar perkara ini sekaligus mengukur cukup tidaknya barang bukti yang diperoleh penyidik sebagai dasar menaikkan status tersangka. ’’Yang jelas mereka (14 orang, Red) ikut menikmati hasilnya. Jadi, mereka ini berpotensi (tersangka, Red),’’ bebernya.

Kendati demikian, jika nanti barang bukti dan keterangan saksi cukup menguatkan penetapan tersangka, polisi tidak akan langsung melakukan penahanan. Dengan alasan penyidik memiliki kewenangan subjektif dan objektif penyidik.

’’Tapi, kita pastikan proses tetap lanjut,’’ tegasnya. Ditanya apakah mengembang ke pemilik SPBU, Fery belum dapat memastikan. Namun, dia menegaskan, mengarah ke sana tentu ada. Sebab, dalam penanganan perkara tindak pidana, penyidik tidak boleh berandai-andai.

Harus sesuai fakta dan temuan di lapangan. ’’Jadi, untuk sementara, kecurangan ini sekarang masih ke tingkat pengawas. Pemiliknya belum tahu. Nanti, akan terus kita dalami,’’ tandasnya.

Sejauh ini, penyidik masih fokus pada satu SPBU di Mojowarno Menyusul, saat dilakukan penggerebekan di lokasi SPBU, sebelumnya polisi menemukan cukup banyak bukti. ’’Buktinya sudah lengkap. Kami temukan ada struk, ada jumlah pengeluaran, dan bukti-bukti lain yang ada kaitannya dalam kasus ini,’’ tandasnya.

’’Kami sudah melakukan penyegelan dengan memasang police line di SPBU itu (Mojoagung, Red),’’ tambahnya. Tak terkecuali, dengan mendalami keterlibatan SPBU lain di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Di mana Sugianto juga turut membeli. Secara terukur, penyidik akan melakukan upaya pemeriksaan terhadap saksi-saksi. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia