Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Isi Hati Istri Bupati Mustofa Kamal Pasa (1)

Ikfina Fahmawati: Suami Saya Bukan Pembunuh

30 Desember 2018, 21: 27: 43 WIB | editor : Mochamad Chariris

Bupati Mustofa Kamal Pasa dan istri Ikfina Fahmawati Kamal Pasa.

Bupati Mustofa Kamal Pasa dan istri Ikfina Fahmawati Kamal Pasa. (Facebook/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Lama tidak muncul ke permukaan, Ikfina Fahmawati secara mengejutkan mulai menampakkan dirinya ke jagat media sosial (medsos).

Istri Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP) ini mendadak membuat ciutan dalam bentuk tulisan panjang di akun facebook miliknya, Ikfina Fahmawati. Yang mengejutkan netizen, Ketua TP PKK Kabupaten Mojokerto tersebut bukannya meng-upload kegiatan kedinasan atau aktivitas publiknya.

Perempuan kelahiran 11 Januari 1978 silam ini justru mengutarakan isi curahan hatinya (curhat). Tepatnya, setelah sang suami, MKP, dituntut hukuman 12 tahun penjara oleh jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, di Sidoarjo, pada Jumat (28/12), akibat tersandung kasus suap perizinan menara telekomunikasi senilai Rp 2,7 miliar.

Ibu empat anak itu juga hadir di ruang sidang untuk memberikan semangat dan dukungan kepada suami tercinta. Perempuan asli Ponorogo ini bukan hanya mendengarkan saat tim jaksa KPK menuntut hukuman penjara selama 12 tahun.

Kepada MKP, dia juga mendengar dengan seksama saat jaksa lenbaga antirasuah tersebut turut menjatuhkan denda Rp 2,7 miliar dan pencabutan hak politik MKP selama lima tahun pasca menjalani masa hukuman. Atas tuntutan tersebut setidaknya Ikfina turut shock, kecewa, dan sedih mendalam seperti yang dialami MKP.

Dia juga tidak mengira jika orang yang selama ini didampinginya dijatuhi tuntutan hukuman selama 12 tahun penjara. Atas kekecewaan itu, Ikfina yang belakangan dikenal irit dan terkesan pendiam di dunia medsos, mulai buka suara. Sehari pasca tuntutan, tepatnya Sabtu (29/12), dia meng-upload tulisan berisi curahan hati.

Status tersebut diunggah alumnus Jurusan General Practice Universitas Brawijaya angkatan tahun 1996 ini pukul 07.27. Bahkan, sehari pasca tulisan berjudul Suami Saya Dituntut 12 Tahun Penjara diunggah, jagat netizen banyak yang meng-copy lalu membagikan ke berbagai grup di media sosial (medsos). Khususnya para pengguna aplikasi WhatsApp (WA).

Demikian ini catatan Ikfina yang diunggahnya dalam akun facebook-nya.

"Suami Saya Dituntut 12 Tahun Penjara"

Suami saya bukanlah pembunuh, suami saya bukanlah pencuri, suami saya juga bukan pengedar narkoba. Suami saya adalah mantan Bupati Mojokerto yang didakwa menerima suap atau gratifikasi ketika menjabat.

Dulu, saya adalah orang pertama yang menentang keinginannya menjadi Bupati Mojokerto. Waktu itu saya merasakan hidup kami sangat nyaman, tidak kekurangan apa pun. Sangat nikmat. Suami saya seorang pengusaha dengan penghasilan yang lebih dari cukup untuk kami makan.

Tentu saja saya sangat ingin mempertahankan zona nyaman yang kami miliki tersebut. Pikiran saya waktu itu, menjadi seorang Bupati pasti sangat sibuk, tidak akan ada banyak waktu untuk keluarga. Dan yang paling utama, saya tidak ingin harta yang kami miliki tercampur dengan barang yang tidak halal. Maka saya dengan tegas tidak ingin beliau mencalonkan diri dalam pilkada Kabupaten Mojokerto 2010.

Tapi suami saya punya misi lain. Beliau pernah mengatakan,”Gusti Allah ki ngekeki aku gampang golek duwek. Aku heran wong-wong kok angel golek duwek ngono. Aku pingin nularke ilmuku golek duwek ben wong-wong kuwi yo iso gampang golek duwek koyo aku” (Gusti Allah itu memberiku kemudahan dalam mendapatkan uang/ rejeki.

 Aku heran orang-orang kok susah cari uang seperti itu. Aku ingin menularkan ilmuku dalam mencari uang supaya mereka mudah mendapatkan uang/ rejeki). Akhirnya beliau berangkat dalam upayanya menuju bursa Pilkada Kabupaten Mojokerto 2010.

Dalam perjalanannya, banyak masalah dihadapi. Beliau bukan orang partai, tidak cukup memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam berpolitik. Hingga akhirnya beliau habis-habisan, kehilangan banyak biaya. Dalam kondisi ini saya tidak tega. Maka, saya yang sebelumnya tidak setuju, diam membiarkan beliau bergerak sendiri, akhirnya ikut membantu pergerakan beliau.

Allah memberinya jalan dan mengabulkan keinginannya. Beliau dilantik menjadi Bupati Mojokerto 2010-2015 dan berlanjut 2016-2018. Dalam perjalanannya, banyak mimpi yang ingin beliau wujudkan. Fokus Beliau adalah peningkatan ekonomi masyarakat. Pertama yang Beliau pikirkan adalah sarana transportasi.

Beliau menginginkan jalan poros yang lebar, bagus dan awet yang menghubungkan Kabupaten Mojokerto dalam empat penjuru. Bahkan, jalan sawah pun harus bagus agar mendukung proses pengangkutan hasil pertanian. Tidak hanya jalan, Beliau menginginkan penerangan jalan yang merata, sehingga pergerakan ekonomi bisa berlanjut hingga malam hari.

Berikutnya, beliau menginginkan ada pasar yang layak di masing-masing Kecamatan, dan ada pusat keramaian di masing-masing Kecamatan seperti alun-alun Kota Batu, dimana masyarakat bisa berjualan dan bertamasya dengan keluarga tanpa biaya yang besar. Di bidang kesehatan, beliau ingin semua Puskesmas menjadi puskesmas rawat inap sekelas Rumah Sakit tipe C, agar masyarakat bisa mendapatkan pelayanan dengan mudah dan cepat.

Di bidang pendidikan, beliau menginginkan semua SMK di Kabupaten mempunyai pabrik sendiri untuk magang (belum terlaksana karena SMA/ SMK berpindah menjadi kewenangan provinsi). Di bidang pelayanan, beliau ingin semua kantor Desa/ Kelurahan dan Kecamatan representatif dalam memberikan pelayanan dan menjadi pusat koordinasi antara pemerintah dan masyarakat. 

Beliau juga merencanakan kantor pemerintahan terpadu dimana semua dinas dan kantor menjadi satu untuk mempermudah koordinasi. Di bidang pariwisata, beliau ingin membangkitkan kebesaran Kerajaan Majapahit di Kabupaten Mojokerto. Tidak hanya tempat wisata, kantor Desa/ Kelurahan, Kecamatan, Puskesmas, sekolah, pasar, bahkan pagar rumah penduduk dibangun dengan ornamen Majapahitan. Icon ini diharapkan dapat menarik pergerakan pusat perekonomian ke wilayah Kabupaten Mojokerto.

Sebagian besar mimpinya sudah terlaksana dan ada wujudnya. Dan ini merupakan proses yang butuh pemikiran dan kerja keras. Ide-ide pembangunan beliau sampaikan sendiri, beliau kawal sendiri dalam penganggaran dan pelaksanaannya, sepanjang waktu tiada berhenti. Bahkan biaya untuk melaksanakan pembangunan yang begitu besar tersebut Beliau upayakan dari hasil PAD (pendapatan asli daerah), bukan menunggu kucuran dana dari Pemerintah Pusat. Saya adalah orang yang serumah dengan Beliau.

Saya tahu betul apa yang Beliau pikirkan, apa yang Beliau lakukan. Praktis selama menjadi Bupati, waktu Beliau untuk kami, istri dan anaknya sangatlah terbatas. Tapi kami ikut senang melihat Beliau bahagia dengan apa yang sudah beliau karyakan untuk masyarakat.

Suami saya adalah manusia biasa. Banyak kekurangannya. Beliau seorang pekerja keras yang tidak mengenal waktu, dan jika punya keinginan sangat fokus, benar-benar gigih dan ulet, harus terwujud. Sehingga penampilannya keras, kasar, memaksa, dan menuntut orang-orang di sekitarnya untuk mengikuti ritme kerjanya. Apalagi Beliau termasuk orang yang susah memuji orang lain. Hal inilah yang mungkin dipandang negatif dan tidak nyaman untuk orang-orang di sekitarnya.

Saat ini, saya merasa kasihan melihat Beliau. Untuk ukuran orang yang keras, kaku, Beliau selalu berusaha tegar dan menyembunyikan sedihnya dari kami. Hal ini selalu Beliau lakukan. Sehingga selama 20 tahun menjadi isterinya, suami saya tidak pernah sekalipun menceritakan pemasalahan yang dihadapinya. Beliau selalu menyelesaikan masalahnya sendiri, tidak ingin menyusahkan kami. Maka, saya pun sebelumnya tidak pernah tahu beliau menghadapi masalah seberat ini. 

Tulisan tersebut merupakan pertama kalinya diunggah sejak setahun lalu. Terakhir, Ikfina memposting foto kegiatan imunisasi bersama MKP  lewat akun FB-nya pada 4 Desember 2017 silam. 

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia