Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Journey

Lawang Sewu, Seperti Berada di Masa Penjajahan

28 Desember 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pengunjung asal Kota Mojokerto saat menikmati objek wisata bangunan Lawang Sewu Semarang, Jogjakarta.

Pengunjung asal Kota Mojokerto saat menikmati objek wisata bangunan Lawang Sewu Semarang, Jogjakarta. (Hari Mukti/Radar Mojokerto.)

TAK HANYA wisata kuliner lumpianya, Semarang juga dikenal dengan wisata sejarahnya. Berderet bangunan kuno yang punya nilai sejarah tinggi bertebaran di Ibu Kota Jawa Tengah (Jateng) ini.

Salah satu yang paling fenomenal dan selalu menjadi jujukan para wisatawan adalah Lawang Sewu. Sebuah gedung peninggalan pemerintahan Hindia Belanda yang berada di pusat Kota Semarang. Tepatnya di Bundaran Tugu Muda.

Tak sekadar megah, Lawang Sewu juga sangat indah. Meski saat awal dibangun sekitar tahun 1904 hingga tahun 1907, merupakan kantor sekaligus gudang perkeretaapian.

Desain Lawang Sewu lebih menonjolkan keindahan arsitekturnya. Desain bergaya khas klasik Eropa, menjadikan Lawang Sewu sebuah bangunan kuno yang sangat artistik. Tak heran, gedung ini kerap menjadi sasaran hunting para penggemar foto. Baik fotografer profesional maupun pemula. 

Dalam bahasa Jawa, Lawang Sewu mempunyai arti seribu pintu. Disebut demikian karena gedung megah ini memiliki sekitar 400 pintu. Ratusan daun pintu yang mengelilingi gedung inilah yang menjadi ikon Lawang Sewu sekaligus maskot kota Semarang.

Gedung ini memang didesain dengan banyak ruangan. Ratusan pintu ini dibuat untuk menghubungkan tiap ruangan tersebut. Nyaris semua daun pintu masih utuh, karena terbuat dari bahan kayu yang sangat berkualitas.

Pintu masuk Lawang Sewu sendiri berada di sebelah selatan gedung. Di pintu masuk ini terdapat loket untuk tiket. Setelah pintu masuk, pengunjung akan mendapati sebuah ruangan di lantai satu.

Ruangan ini menjadi museum kereta api Semarang. Di dalam ruangan ini bisa ditemukan foto serta berbagai artikel tulisan sejarah kereta api. Sementara di ruangan lain terdapat juga beberapa koleksi miniatur kereta api dari berbagai zaman.

Yang terbanyak tentu saja miniatur kereta api di era pemerintahan kolonial. Selain itu, terdapat pula foto-foto proses pembangunan gedung ini zaman dahulu serta sesudah pemugaran. Mulai foto waktu menjadi gedung perkeretaapian sebelum zaman kemerdekaan, zaman penjajahan Jepang, serta foto sesudah pemugaran.  

Koleksi foto-foto dan pernik-pernik sejarah serta diorama perekeretaapian di gedung ini begitu lengkap. Menjadikan pengunjung seakan dibawa bernostalgia ke masa silam. Di mana saat itu  kereta api menjadi transportasi utama andalan pejajah Belanda serta Jepang.

’’Berada di gedung ini, kita seperti berada saat masa penjajahan,’’ ujar Vivin, salah satu pengunjung dari Mojokerto. Pengelola Lawang Sewu tampaknya memang benar-benar menjaga peninggalan sejarah ini. Terlihat setiap sudut Lawang Sewu begitu terawat dan sangat bersih.

Nyaris tak ditemukan sampah berceceran. Untuk menjaga kebersihannya, puluhan tempat sampah diletakkan berjajar di sekeliling teras gedung. Untuk menikmati masa lalu penjajahan Belanda ini, pengunjung hanya perlu membayar sebesar Rp 10 ribu untuk dewasa dan Rp 5 ribu untuk anak-anak. (nto)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia