Kamis, 21 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Amir Sagianto, Saksi Tragedi Bom Natal

Riyanto Pernah Bertanya Hukum Membela Agama Lain

26 Desember 2018, 16: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Amir Sagianto saat menunjukkan bukti kenangan dirinya sebagai saksi atas tragedi bom Natal yang menewaskan rekannya, Riyanto.

Amir Sagianto saat menunjukkan bukti kenangan dirinya sebagai saksi atas tragedi bom Natal yang menewaskan rekannya, Riyanto. (Farisma Romawan/Radar Mojokerto)

Perjuangan yang sesungguhnya adalah demi kemanusiaan. Ungkapan yang selalu terpatri dalam hati seorang Banser asal Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, ini kala mengenang Riyanto, sahabat karibnya yang meninggal dunia akibat bom Natal di Gereja Eben Haezer tahun 2000 silam. 

RASA sedih dan haru tak bisa disembunyikan dari raut wajah pria paro baya itu setiap perayaan Natal dan tahun baru (Nataru) tiba.

Bagaimana tidak, tragedi memilukan 18 tahun silam tak bisa dilupakan begitu saja dari ingatan bapak dua anak yang tinggal di sebuah rumah sederhana di Lingkungan Prajurit Kulon Gang 3, Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini.

Sebagai satu dari lima Banser (Barisan Ansor Serbaguna) yang bertugas menjaga gereja Eben Haezer di Jalan Kartini saat Malam Misa itu, Amir selalu terngiang sosok Riyanto, rekan sesama Banser yang meninggal akibat disambar bom Natal.

Ya, Amir memang sangat mengenal sifat dan perilaku Riyanto sejak pertama kali menjadi anggota Banser. Selain sesama Banser, kediaman kedua sahabat ini juga cukup dekat. Sehingga intensitas akan interaksi cukup dekat.

Meski berselisih usia hampir 10 tahun, namun hubungan kedua sahabat ini sudah seperti kakak-adik yang tak bisa dipisahkan. Terutama kala bertugas sebagai anggota Banser dalam menjaga ketertiban dan keamanan di setiap kegiatan keagamaan.

’’Adik (Riyanto, Red) itu orangnya teguh pendirian. Kalau sudah ada perintah tugas, apa pun ditinggal. Saya dan dia (Riyanto, Red) sama-sama tergabung di Banser sejak tahun 1992,’’ kenang Amir.

Namun, keteguhan hati Riyanto kala itu sempat mendapat perhatian khusus dari sesama Banser beberapa jam sebelum menjemput ajal. Atau tepatnya saat jeda istirahat salat magrib kala bertugas menjaga Gereja Eben Haezer.

Saat itu, Amir bersama Bowo dan Riyanto tengah berbuka puasa dengan sebotol air mineral yang dibeli almarhum di toko dan dilanjutkan salat magrib. Nah, di sela-sela buka puasa itu, Riyanto sempat menanyakan kepada Bowo, rekan Banser tentang hukum seorang muslim yang menjaga ibadah umat agama lain kemudian meninggal dunia.

Pertanyaan almarhum sontak mengagetkan keempat Banser lain, termasuk dirinya. Pertanyaan itu pun lantas dijawab Bowo yang juga seorang mudin dengan jawaban yang gamblang. Yakni, mati syahid lantaran menjaga tanah air dan sesama umat manusia atau menjadi rahmat bagi semua makhluk di alam semesta.

’’Nah, setelah dijawab mati syahid, adik (Riyanto, Red) langsung diam nggak bertanya lagi. Seperti ada perenungan. Saat itu, kami berlima buka puasa hanya dengan air mineral satu botol yang dibeli adik sendiri,’’ ungkap pria berlogat Madura ini.

Usai salat dan buka puasa, kelima Banser lantas bertugas kembali menjaga gereja yang saat itu memasuki puncak misa. Namun, sebelum itu, mereka sempat ikut apel bersama di halaman Polres Mojokerto (sekarang Polresta Mojokerto).

Akan tetapi, almarhum terlambat lantaran motor vespa yang dikendarai mogok di Jalan Majapahit. Akan tetapi, lagi-lagi pendirian yang kuat membuat Riyanto tak patah arang dalam menuntaskan tugas. Setelah motornya menyala, ia pun kembali berjaga, mengawal prosesi misa di gereja yang berdiri di jalan RA. Kartini No. 4 itu.

Nah, sekira pukul 19.45, prosesi Misa memasuki masa akhir. Saat itu, Amir bersama Riyanto dan rekan Banser lain disibukkan dengan padatnya lalu lintas jalan akibat keluar masuknya jamaah gereja.

Namun, salah satu jamaah wanita yang keluar sempat berseloroh kepada Amir tentang adanya tas yang tergeletak di teras sisi barat gereja. Mendengar laporan itu, Amir lantas mendekati tas untuk mengeceknya dan dipinggirkan ke tembok.

’’Awalnya, tas itu tergeletak tidur. Lalu coba saya berdirikan, dan tiga kali baru bisa berdiri. Kemudian saya pinggirkan,’’ ungkap pria yang sehari-hari bekerja sebagai mengepul karung bekas itu.

Melihat Amir sibuk dengan tas, Riyanto pun ikut menghampiri dan mengecek isi tas. Seolah tidak ada rasa curiga, bahwa tas tersebut ternyata berisi bom. Nah, saat dibuka Riyanto, baru diketahui jika isi tas tersebut adalah bom.

’’Pas dibuka, ternyata sudah mengeluarkan asap. Saya juga sempat melihat sedikit ada rangkaian kabel dan paku yang terpasang,’’ ingat Amir. Sontak, ucapan itu membuat seisi gereja panik dan berhamburan keluar. Tas sempat digeletakkan begitu saja oleh Riyanto.

Namun, beberapa detik kemudian diambil lagi dan dibawa lari dengan maksud agar diredam dengan dilempar ke selokan. Namun nahas, belum sempat masuk ke dalam selokan, bom pun meledak tepat setelah dilempar almarhum usai dipeluk saat dibawa lari.

’’Seingat saya saat itu bomnya sudah dilempar tapi belum masuk ke dalam got terus meledak. Setelah itu, keadaan sekitar gereja langsung gelap. Semua lampu mati. Ternyata bomnya ada tiga. Tapi, yang paling besar ya yang dibawa adik (Riyanto, Red)’’ tambah Amir.

Ledakan itulah yang membuat tubuh Riyanto terkoyak 30 meter dari lokasi kejadian. Situasi pun berubah pilu, termasuk Amir yang juga terluka dengan bercucuran darah di bagian kepala. Beruntung, nyawanya selamat.

Meski demikian, ia pun sempat mengalami traumatik hingga sebulan lamanya. Tidak hanya terkenang peristiwanya, pengawasan ketat dari kepolisian juga tak bisa ia elakkan setiap kali beraktivitas usai tragedi memilukan itu.

Hingga akhirnya sebulan setelah tragedi, pelaku pengeboman bisa diringkus dan kehidupannya berangsur-angsur membaik. Meski kenangan terhadap almarhum selalu terngiang sampai saat ini. Hingga ia pun terinspirasi untuk terus teguh mengabdi sebagai Banser meski usia telah menapaki 54 tahun.

’’Kalau angkatan saya sudah nggak aktif semua. Tapi, saya tetap selalu jadi Banser apa pun kondisinya. Cuman itu yang bisa saya perjuangkan. Karena hidup itu memang harus selalu mengayomi sesama manusia. Nggak peduli agama dan sukunya,’’ pungkasnya. 

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia