Sabtu, 20 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Antisipasi Teror dan Ancaman Bom Gereja saat Natal

22 Desember 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

: Kapolresta Mojokerto AKBP Sigit Dany Setiyono mengecek kesiapan pasukan di mapolresta.

: Kapolresta Mojokerto AKBP Sigit Dany Setiyono mengecek kesiapan pasukan di mapolresta. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Peristiwa kelam pengeboman gereja tahun 2000 hingga merenggut nyawa anggota Banser Kota Mojokerto, Riyanto, saat perayaan Natal masih menjadi atensi sekaligus evaluasi Polresta Mojokerto.

Untuk mengantisipasi hal serupa agar tak terjadi kembali, pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2019 akan dilakukan dengan sistem dua arah. Baik penguatan dari internal gereja maupun dari personel lainnya. Yakni, TNI/Polri, serta organisasi kemasyarakatan (ormas).

’’Setidaknya ada 400 personel kepolisian kami terjunkan untuk pengamanan,’’ ungkap Kapolresta Mojokerto  AKBP Sigit Dany Setiyono, seusai menggelar pasukan Operasi Lilin Semeru, Jumat (21/12).

Angka itu belum lagi ditambah dari unsur TNI dan sejumlah ormas. Meliputi, Orari, Senkom, pramuka, Rapi, hingga ormas Islam. Di antaranya Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan Pemuda Muhammadiyah.

Menurut kapolres, mereka akan dimaksimalkan dalam pengaman jalur, pos pantau, hingga tempat peribadatan yang tersebar di wilayah kota. ’’Mereka akan berjaga di 48 gereja yang terdata di wilayah kota dan empat kecamatan di utara Sungai Brantas.

Semuanya kita petakan rawan dan memiliki prioritas yang sama,’’ tandasnya. Menyusul, momentum Nataru di wilayah dengan tiga kecamatan ini tak bisa dipisahkan dengan historis masa lalu. Yakni, insiden teror bom Gereja Eben Haizer di Jalan Kartini tahun 2000 hingga merenggut nyawa Riyanto.

Belum lagi penggerebekan tiga teroris di Jalan Empunala tahun 2015, serta teror bom palsu di Jalan Raya Bypass Mojokerto tahun 2016. Situasi seperti ini yang kini terus diantisipasi polresta sebagai barisan terdepan pengamanan dalam menciptakan suasana Nataru agar berjalan aman, damai dan tertib.

Apalagi, potensi ancaman kaum radikal itu sudah menjadi poin penting di tingkat nasional. ’’Sesuai amanat dari Kapolri, ancaman terorisme itu menjadi prioritas kita,’’ tuturnya. Sebagai upaya penanggulangan, lanjut kapolresta, pengamanan dari dua arah akan menjadi kekuatan sinergitas dengan stakeholder.

Pencegahan yang dilakukan melalui operasi cipta kondisi (cipkon) agar dapat maksimal. ’’Kami utamakan penjagaan internal dari pihak gereja. Baik yang sudah ada atau organisasi kepemudaannya,’’ tuturnya.

Sebaliknya, untuk pengaman dari luar, polresta dibantu unsur TNI dan ormas akan mem-back-up pengamanan dengan menerjunkan anggota untuk menjaga gereja yang tersebar di wilayah hukumnya.

Pengaman dua arah itu menjadi penting supaya tidak kecolongan kembali atas potensi teror yang bisa saja mengancam selama proses peribadahan umat Kristiani dan Nasrani.

Langkah antisipatif ini sekaligus demi memberikan jaminan rasa aman bagi masyarakat yang tengah menikmati waktu libur panjang. ’’Di sisi lain, koordinasi antar-instansi juga dilakukan untuk manajeman dan rekayasa lalu lintas,’’ tuturnya.

Kondisi itu sebagai upaya petugas dalam mengantisipasi terjadinya macet di sejumlah ruas jalan. Seperti di jalan raya bypass maupun jalur dalam kota. Termasuk, menekan angka kecelakaan dan pengerusakan kendaraan di jalan raya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia