Jumat, 22 Mar 2019
radarmojokerto
icon featured
Lifestyle

Warna Smooth Lebih Comfortable

15 Desember 2018, 18: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa/Radar Mojokerto)

Tren wanita berbusana syar’i kini semakin berkembang. Setelah hanya mengenakan hijab dan jubah lebar, kini mulai tumbuh tren busana wanita dengan cadar sebagai pelengkap hijab.

BANYAK wanita sepakat bahwa bentuk busana lekat dengan karakter si pemakainya. Tidak hanya soal bentuk dan jenis bahan, corak dan ukuran pakaian juga menunjukkan sifat dan situasi yang tengah melanda dalam diri penggunanya.

Hal ini yang tak dipungkiri dari bumingnyanya busana syar’i sebagai jenis pakaian khusus bagi wanita yang menyebut dirinya tengah berhijrah. Dimana, menutup aurat bagi wanita menjadi tuntutan yang wajib dilaksanakan sesuai syariat agama.

Namun, tak bisa dipungkiri, tren busana syar’i kini juga berkembang dengan sejumlah versi. Termasuk cadar atau penutup sebagian wajah sebagai setelan tambahan.

Bagaimana tidak, beberapa wanita kini mulai memberanikan diri muncul ke publik dengan mengenakan cadar dan hijab lebar. Seolah tidak ada rasa canggung, meski menjadi pusat perhatian.

Pengalaman seperti itu yang sempat dirasakan Erike Lesdiyaningsih Utami, 38, warga Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Dia kini memberanikan diri bercadar ketika berada di ruang publik selama beberapa tahun terakhir.

Meski menjadi pusat perhatian, namun Rike mengaku cukup nyaman dengan busana yang dikenakan. Baginya, penggunaan cadar tak ubahnya menjalankan sunah sesuai paham yang ia anut.

’’Kalau menjaga aurat itu kan sudah kewajiban seorang perempuan. Tapi, kalau bercadar, saya kira sih itu adalah bagian dari sunah. Ibaratnya, jubah dan hijab sudah menjadi perintah wajib. Sedangkan cadar adalah bonusnya,’’ ungkap ibu dua anak ini.

Dia juga tak memungkiri soal adanya persepsi cadar sebagai identitas paham yang berseberangan. Namun, persepsi itu berbeda dengan apa yang ia pahami. Dimana, cadar tidak harus diidentikkan dengan paham yang berbeda.

Bahkan, ia tak membatasi diri atau orang lain membatasinya untuk saling berkomunikasi. ’’Saya masih sering ikut pengajian dan majelis taklim dengan warga kampung. Saya memakai cadar bukan karena paksaan dari siapapun, tapi karena keinginan sendiri,’’ tambahnya.

Namun, tidak semua situasi mewajibkannya berpakaian serba tertutup. Termasuk ketika ia tengah menjalankan profesinya sebagai Guru PNS. Saat mendidik siswa-siswi di dalam kelas, ia pun melepas cadar agar lebih jelas dalam mengajarkan mata pelajaran.

’’Berangkat pakai cadar, tapi di dalam kelas di lepas,’’ imbuh guru salah satu SD Negeri di Kabupaten Mojokerto itu. Untuk style, cadar dan hijab juga tidak melulu bernuansa gelap atau hitam.

Kadangkala ia juga mengombinasikan dengan beberapa warna lain yang lebih smooth. Sehingga lebih comfortable dalam memakainya. ’’Saya punya 10 setel pakaian hijab. Kalau khusus cadar, saya punya koleksi 30-an,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia