radarmojokerto
icon featured
Features
Muhammad Al Aziz

Buruh Pabrik Sulap Limbah Palet Jadi Kuade

15 Desember 2018, 14: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Muhammad Al Aziz mengerjakan limbah kayu palet untuk kuade di rumahnya.

Muhammad Al Aziz mengerjakan limbah kayu palet untuk kuade di rumahnya. (Iis Ulin Nuha/Radar Mojokerto)

Bagi sebagian anak muda, bekerja di suatu perusahaan dan mendapat penghasilan tetap setiap bulannya itu cukup. Tapi tidak bagi Muhammad Al Aziz.

Buruh pabrik ini mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah dari pemanfaatan limbah palet kayu. Dan tentunya membuat penghasilan setiap bulannya lebih dari cukup.

Rumah Aziz, panggilan akrab Muhammad Al Aziz, ada di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Menemukan rumahnya memang sedikit sulit.

Karena harus melewati gang-gang masuk yang sempit. Gang terakhir menuju rumahnya semakin sempit. Ada tumpukan kayu palet yang ditutupi plastik banner. Agar tidak terkena air hujan.

Di ruang tamu yang tidak sebegitu luas, Aziz meluapkan kreativitasnya. Di tangannya, limbah kayu palet menjadi bermanfaat. ’’Awalnya hanya membuat furniture seperti rak, meja, dan kursi.

Tapi sekarang, berkembang sampai pembuatan backdrop atau orang di sini menyebutnya kuade cilik,’’ ungkapnya. Remaja 21 tahun itu terinspirasi dari adat pernikahan di rumah mempelai pria.

Biasanya hanya menggunakan dekorasi simpel. Bahkan ada yang tanpa dekorasi. Ia berpikir kenapa tidak menggunakan limbah palet tersebut untuk backdrop.

’’Mengingat teman-teman saya juga banyak yang belum dan mau nikah. Mungkin ini akan menjadi peluang besar,’’ ujarnya. Dengan keyakinan penuh, ia memulai proses pembuatan backdrop itu di sela-sela waktunya sepulang kerja dan saat liburan.

Namun, ia menyadari jika dikerjakan seorang diri akan butuh waktu lama menyelesaikan. Dua pun mememinta beberapa teman untuk membantu. ’’Saya juga menggaet beberapa teman untuk membantu saya membuat semua backdrop ini. Ada juga dari Karang Taruna Desa Sanggrahan,’’ terangnya.

Dia melihat ada keunikan tersendiri dari limbah palet itu. ’’Kayu palet itu ringan, seratnya juga bagus. Jadi kelihatan klasik,’’ ungkapnya. Semua pengerjaan backdrop dikerjakan dengan ide-idenya yang bisa dibilang unik untuk anak muda sekarang.

Mulai dari pengukuran, penentuan model, perancangan, hingga finishing, ia lakukan dengan sempurna. Agar terlihat menarik dan bernilai estetika.

Dengan mengorbankan tabungan sebesar Rp 5 juta, dia mengembangkan ide membuat backdrop dari limbah palet kayu itu. Sekarang harga sewanya ditarif Rp 1,2 juta untuk sehari.

Usaha tersebut telah berjalan 5 bulan. ’’Jika musim nikah, jadwal penyewaan kami sampai penuh,’’ ujarnya. Siapa sangka palet kayu yang biasanya menumpuk bisa menghasilkan uang hingga jutaan rupiah.

Awalnya dia hanya punya palet. Orang sering berpikir negatif sebelumnya dengan palet-palet kayu yang menumpuk itu. Mau dibuat apa. Tidak ada yang tahu kalau mau dibuat backdrop.

’’Dan seiring berjalannya waktu ternyata labanya lumayan. Kemudian mulai banyak yang minat untuk ikut membuat usaha backdrop dari limbah palet ini,’’ ungkapnya. Bekerja di perusahaan swasta tak membuatnya berhenti untuk mencoba hal yang baru.

Ia juga berharap agar dapat mengembangkan idenya lebih jauh lagi. Aziz juga berpesan untuk para pemuda agar tidak berhenti mencoba hal baru. Berhasil atau tidak biar Allah yang menentukan.

’’Yang penting tidak merepotkan orang lain. Tapi malah membantu orang lain. Kalau tidak ada ruginya kenapa tidak dilakukan,’’ pungkasnya. (iis ulin nuha)

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia