Jumat, 22 Mar 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Musim Penghujan, Waspada DBD, Sudah Tembus 356 Kasus

14 Desember 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Petugas Dinkes Kabupaten Mojokerto melakukan fogging di Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Petugas Dinkes Kabupaten Mojokerto melakukan fogging di Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Memasuki awal musim penghujan ini, masyarakat harus lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Pasalnya, di Kabupaten Mojokerto jumlah kasus penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti mulai meningkat. Tercatat, sepanjang Januari-Desember ini jumlahnya mencapai 356 kasus.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto dr Langit Kresna Janitra mengungkapkan, kasus DBD memang berhubungan dengan musim.

Khususnya saat penghujan. Menurut Langit, kondisi itu dikarenakan banyaknya genangan air yang timbul akibat air hujan. ”Genangan air itu yang bisa menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk,” terangnya Kamis (13/12).

Dia mengatakan, perkembangbiakan nyamuk yang paling banyak terjadi adalah pada air yang tak mengalir. Pada umumnya, kondisi itu terjadi pada barang bekas yang mampu menampung air.

Selain itu, jentik nyamuk juga dapat berkembang di saluran drainase atau got yang mampet. ”Biasanya air di bak mandi sudah bersih, tapi penampungan air di luar rumah banyak ditemukan jentik,” paparnya.

Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat, saat penghujan lebih meningkatkan kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan. Terlebih, di awal musim penghujan ini, intensitas hujan belum rutin terjadi turun setiap hari.

Kondisi itu, papar Langit, bisa memicu perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti semakin pesat. Mantan Kepala Puskesmas Pacet ini menyatakan, pencegahan yang paling efektif adalah dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Kendati demikian, dinkes masih tetap mempertahankan fogging untuk menanggulangi jika terjadi kasus DBD. Seperti yang dilakukan di Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, kemarin.

”Tapi fogging hanya bisa memberantas nyamuk dewasa, untuk memutus mata rantai DBD harus dengan PSN,” tandasnya. Berdasarkan data dinkes, mulai Januari hingga pertengahan Desember ini sedikitnya tercatat 356 kasus DBD.

Dari jumlah tersebut, 68 kasus di antaranya terjadi pada masa peralihan dan awal musim penghujan periode Oktober-Desember. Jumlah kasus tahun ini lebih tinggi dibanding 2017 lalu yang tercatat hanya 320 kasus.

Langit menambahkan, warga yang tergigit aedes aegypti hampir merata di seluruh wilayah kecamatan. Jumlah kasus tertinggi terjadi di wilayah Kecamatan Puri dengan 64 warga tergigit aedes aegypti.

Kemudian di bawahnya disusul  Sooko (43 kasus), Trowulan (35 kasus), Bangsal (29 kasus), dan Mojosari (27 kasus). Dia menyatakan, selain pencegahan, upaya yang tak kalah penting adalah menghindari jatuhnya korban.

Sebab, penyakit DBD bisa membahayakan jiwa jika tidak segera tertangani  medis. Oleh karena itu, dia menyarankan warga untuk memeriksakan ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala atau keluhan sakit apa pun.

”Karena gejala panas saja bisa mengarah ke penyakit DBD. Dan sampai hari ini tidak sampai ada pasien yang meninggal akibat DBD,” pungkasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia