radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Ngaku Ajudan Ning Ita, Telepon Bank, Minta Ratusan Juta

13 Desember 2018, 11: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Wali Kota Ika Puspitasari saat mengikuti istighotsah di Pemkot Mojokerto.

Wali Kota Ika Puspitasari saat mengikuti istighotsah di Pemkot Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Tiga hari pasca dilantik, nama Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, dicatut seseorang untuk mengais keuntungan.

Rabu (12/12) pelaku yang mengaku sebagai ajudan wali kota itu, menghubungi sejumlah pucuk pimpinan bank dan meminta uang senilai ratusan juta rupiah.

Salah satu bank yang dibidik itu adalah Bank Jatim Cabang Mojokerto. Pelaku menghubungi nomor telepon dan mempertanyakan pemimpin Bank Jatim Agus Sastriono.

’’Ceritanya siang tadi (kemarin, Red). Saya sedang ada acara di luar kantor dan penelepon hanya menitip pesan,’’ ungkap pria yang akrab disapa Sas ini. Penelepon meminta agar pihak bank segera menghubungi ajudan Ning Ita.

Karena, Ning Ita tengah membutuhkan sejumlah uang. ’’Akhirnya saya mengontak ajudan. Dan, tidak ada apa-apa. Tidak ada perintah apa pun,’’ papar dia.

Sas meyakini, penelepon sengaja memanfaatkan momen peralihan kepemimpinan di Kota Mojokerto ini untuk mendapat keuntungan pribadi. Dan perbankan menjadi salah satu bidikan karena menjadi perusahaan milik daerah.

Tak hanya Bank Jatim. Sejumlah pejabat di lingkungan Kota Mojokerto menceritakan, pelaku juga membidik BPR UMKM Bank Jatim. Bank yang berdiri di Jalan Majapahit ini juga mengalami peristiwa serupa.

Di bank ini, penelepon terang-terangan meminta uang hingga Rp 150 juta. Mengaku sebagai orang suruhan wali kota, pelaku dengan nada suara yang sama meminta agar segera menyediakan uang tersebut.

’’Untungnya, belum ada yang mengeluarkan uang,’’ terang Kabag Humas Pemkot Mojokerto Khoirul Anwar, tadi malam. Ditegaskan Anwar, Wali Kota Mojokerto tak pernah memerintahkan siapa pun untuk menghubungi perbankan dan sejumlah pejabat untuk meminta sejumlah uang.

’’Sejak dilantik, beliau sangat sibuk dengan tugasnya. Saya mengimbau, jangan mudah percaya dengan penelepon gelap,’’ pungkas Anwar. Kasus penipuan dengan mencatut seorang kepala daerah, sebelumnya dialami Wakil Bupati Mojokerto Pungkasiadi, di pengujung tahun 2017 lalu.

Namanya dicatut seseorang yang menduplikasi akun media sosialnya lalu mengirim pesan ke sejumlah orang dan meminta sejumlah uang. Besarannya kisaran Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. 

(mj/ron/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia