Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Burung Pipit Serang Lahan Pertanian Padi

12 Desember 2018, 14: 59: 44 WIB | editor : Mochamad Chariris

Seorang petani memasang jaring di areal padi miliknya di Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Seorang petani memasang jaring di areal padi miliknya di Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. (Khudori/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Serangan hama burung pipit atau biasa dikenal dengan istilah emprit membuat sejumlah petani padi di wilayah Kabupaten Mojokerto resah.

Bahkan, mereka terancam mengalami kerugian. Berbagai upaya sudah dilakukan petani. Namun, serangan burung dengan istilah ilmiah estrildidae ini tetap tak bisa dibendung.

Seperti yang terpantau di areal pertanian padi di Kecamatan Mojoanyar. Pertanian yang mengandalkan pengairan Kali Sadar dan irigasi ini menjadi selalu sasaran burung emprit.

Akibat serangan hama burung tersebut, petani terpaksa menunggu pertanian mereka dari pagi hingga menjelang petang. Hal itu untuk mengantisipasi agar tanaman mereka tidak habis dimakan burung.

’’Jika dibiarkan, maka padi akan tidak berisi atau gabuk,’’ ungkap Suparman, salah satu petani. Para petani merasa waswas untuk meninggalkan lahan sawah miliknya sebelum menjelang petang.

Menyusul, serangan hama burung dari pagi hingga sore datang silih berganti dan berkelompok. Burung-burung ini lalu memakan padi yang mulai mengeluarkan bulir buah. Kata dia, pada usia tersebut memang masa-masa hama burung emprit menyerang.

Berbagai cara sudah dilakukan agar membuat burung emprit takut dan tidak menyerang atau menghisap sari padi. Semisal memasang umbul-umbul atau orang-orangan sawah. Namun, faktanya tidak memengaruhi.

’’Makanya, banyak petani memilih menjaga dengan memukul kentongan. Agar burung emprit tidak hinggap di padi dan meghisap sarinya,’’ jelasnya. Berbeda halnya dengan Bambang, 65, petani lainnya. Warga Dusun Damarsih, Desa Kepuhanyar, Kecamatan Mojonyar, ini memilih memasang jaring di lahan pertanian mereka.

Meski harus merogoh kocek lebih dalam, langkah itu dianggap mampu menekan kerugian. ’’Saya pakai jaring seperti ini, Alhamdulillah setiap musim tanam selalu panen,’’ ujarnya.

Dengan harga jaring Rp 85 ribu berukuran 5x100 meter tersebut, dia merasa tak mengalami kerugian di setiap musim panen. Apalagi, alat jaring itu bisa dimanfaatkan hingga tiga kali panen.

Artinya, dengan mengeluarkan modal lagi untuk membeli jaring, dia bisa menekan ancaman gagal panen. ’’Prinsipnya, saya mengeluarkan uang lagi untuk beli ini (jaring). Tapi, saat panen saya masih bisa dapat sampai 21 sak atau 2 ton lebih dengan lahan sepetak,’’ bebernya.

Berbeda dengan petani yang enggan memanfaatkan jaring. Dipastikan setiap musim panen akan mengalami kerugian. ’’Kadang penurunan hasil panen sampai 50 persen. Karena apa, umbul-umbul itu tidak maksimal atau membuat burung takut,’’ pungkasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia