radarmojokerto
icon featured
Politik

Jumlah Caleg di Kabupaten Mojokerto Berkurang

11 Desember 2018, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga melintas di depan banner DCT anggota dewan yang terpasang di depan Kantor KPU Kabupaten Mojokerto.

Warga melintas di depan banner DCT anggota dewan yang terpasang di depan Kantor KPU Kabupaten Mojokerto. (Moch. Chariris/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Jumlah calon legislatif (caleg) di pemilihan legislatif (Pileg) 2019 di Kabupaten Mojokerto dipastikan berkurang.

Semula, caleg yang ditetapkan melalui daftar calon tetap (DCT) anggota legislatif oleh KPU Kabupaten Mojokerto mencapai 500 orang. Namun, kini berkurang dua caleg. Sehingga jumlahnya turun menjadi 498 orang.

Hal itu menyusul terdapat dua caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang meninggal. Yakni, Siti Aisyah dan Mashuda. Siti Aisyah meninggal 5 Oktober lalu pasca menjalani proses persalinan yang berat.

Kader Fatayat NU asal Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto ini semula tercatat sebagai caleg dengan nomor urut 4 di daerah pemilihan (dapil) 1 (Mojosari, Pungging dan Ngoro). Sedangkan Mashuda meninggal dunia akibat terserang penyakit yang lama dideritanya.

Politisi asal Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto tersebut sebelumnya juga menyandang nomor urut 4 dari dapil 3 (Sooko, Puri dan Trowulan).

Ketua KPU Kabupaten Mojokerto menegaskan, perihal caleg meninggal atau mengundurkan diri, sesuai ketentuan memang ada perlakuan khusus. ”Terkait caleg meninggal dan mengundurkan diri memang ada perlakuan berbeda,” kata Yuhan, Selasa (11/12).

Dia menjelaskan, untuk caleg yang meninggal, sedianya, KPU akan menerbitkan berita acara (BA) yang ditentukan dalam rapat pleno. ”Intinya, dalam pleno itu dibahas tentang status caleg yang meninggal,” paparnya.

Dia menyatakan, sesuai ketentuan, caleg meninggal, KPU akan mengeluarkan nama almarhum atau almarhumah dari daftar calon tetap (DCT). ”Sehingga, dalam surat suara saat pencoblosan 17 April 2019 nanti, nama caleg meninggal sudah tidak ada lagi. Baik foto, nama, maupun nomor urutnya,” tandasnya.

”Artinya, ada pengosongan nama caleg karena meninggal,” imbuh Yuhan. Sementara itu, untuk kasus caleg mengundurkan diri, Yuhan mengaku KPU tidak akan melakukan pencoretan. Gambar caleg tersebut tetap ada dalam DCT.

Termasuk di surat suara. ”Kasus caleg mengundurkan diri tidak kita coret. Namanya tetap tercantum,” paparnya. Perlakuan berbeda ini, terang Yuhan, menyusul dalam PKPU No 20 Tahun 2018 tentang Pencalonan, caleg yang telah ditetapkan dilarang mengundurkan diri.

”Caleg tidak diperbolehkan mengundurkan diri setelah ditetapkan sebagai calon anggota legislatif,” pungkasnya.

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia