Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mata Lensa

Kesenian Bantengan Angkat Cerita Geger Alas Purwo

26 November 2018, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pelaku kesenian bantengan menampilkan atraksi di Lapangan Desa Sumengko, Kec. Jatirejo, Kab. Mojokerto.

Pelaku kesenian bantengan menampilkan atraksi di Lapangan Desa Sumengko, Kec. Jatirejo, Kab. Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

SUARA gendang bertalu-talu. Cambuk membahana. Wewangian semerbak di seluruh sudut penjuru. Uluk salawat tak henti-hentinya dikumandangkan.

Ribuan penonton terkesima melihat atraksi para pemain bantengan yang digelar di Lapangan Desa Sumengko, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Sabtu pagi (24/11).

Sebanyak tujuh grup seni bantengan bergantian unjuk kebolehan dalam acara Hari Jadi Ke-73 Pemprov Jatim. Bantengan merupakan kesenian tradisi khas Mojokerto.

Seperti awal mula ludruk. Yaitu, Ludruk Bandhan. Dalam penampilanya, bantengan menyajikan pertunjukan musik, tari-tarian, pencak silat, serta pertunjukan kanuragan.

Banyak lakon atau cerita yang disajikan dalam pertunjukan bantengan ini. Salah satunya adalah Geger Alas Purwo. Menceritakan tentang seseorang yang sedang menjalani ritual pertapaan di tengah hutan. Lalu diserang puluhan banteng dan memedi.

Dengan kekuatan yang didapat dari sang pencipta, seorang pertapa ini akhirnya memenangkan perkelahian dahsyat melawan puluhan banteng tersebut.

Urip Widodo salah satu pegiat seni bantengan mengatakan, sejatinya atraksi bantengan tersebut merupakan media dakwah di kalangan masyarakat pedesaan.

Pertunjukan ini menggambarkan bahwa kejahatan akan kalah dengan kebajikan. Sarat dengan lantunan salawat yang dibalut dengan musik tradisional.

”Artinya, sebagai seorang yang percaya dengan Tuhan dan pengikut Nabi Muhammad SAW akan selamat dunia akhirat,” ujarnya. 

(mj/fan/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia