Minggu, 16 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Hari Pahlawan Pertama di Mojokerto (1)

Beri Penghormatan dan Tabur Bunga di Makam Panggreman

15 November 2018, 23: 25: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pasangan veteran saat berziarah di TMP Gajah Mada Kota Mojokerto pada peringatan Hari Pahlawan 2018.

Pasangan veteran saat berziarah di TMP Gajah Mada Kota Mojokerto pada peringatan Hari Pahlawan 2018. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Dahsyatnya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya membuat pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai salah satu hari besar nasional.

Setiap tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang jasa sekaligus mendoakan pejuang yang telah gugur di medan pertempuran.

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, pada tahun 1946 atau setahun setelah proklamasi kemerdekaan, tidak banyak hari nasional yang diperingati.

Selain Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus, peringatan hanya dilakukan pada tanggal 5 Oktober sebagai HUT TNI dan 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Di Mojokerto, ada catatan khusus terkait peringatan Hari Pahlawan yang kali pertama digelar pada 1946. Sebab, pada saat itu, pemerintahan Karesidenan Surabaya masih berada di Mojokerto setelah terpukul mundur dari Kota Pahlawan.

”Setelah mundur dari Surabaya, Residen Sudirman memilih Mojokerto sebagai tempatnya mengurus pemerintahan,” terangnya. Dia menceritakan, pada awal November 1946, Residen Soedirman memanggil beberapa staf untuk menggelar rapat.

Rapat yang dihadiri pejabat sipil dan militer republik itu digelar di Kantor Karesidenan Surabaya yang kala itu menjadi satu dengan Kantor Kabupaten Mojokerto. ”Rapat itu membahas kegiatan peringatan Hari Pahlawan seperti yang diperintahkan oleh Presiden Soekarno,” paparnya.

Pertemuan itu digelar menyusul diterbitkannya surat pemerintah RI pada tanggal 31 Oktober 1946 nomor 9/OEM/1946 tentang penetapan 10 November 1945 sebagai Hari Pahlawan.

Surat yang ditandatangani Presiden Soekarno tersebut disebarkan pada pemerintah daerah agar mengadakan peringatan pada tanggal tersebut. Karena setahun sebelumnya telah terjadi pertempuran besar di Surabaya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyatakan, pemerintah Jawa Timur (Jatim) pada waktu itu belum bisa berjalan optimal. Penyelenggaraan pemerintahan lebih banyak ditangani oleh residen sebagai kepanjangan tangan gubernur.

Mojokerto dipilih sebagai pusat pemerintahan Karesidenan Surabaya oleh Residen Soedirman. ”Dengan begitu, maka peringatan Hari Pahlawan itu dilaksanakan di Mojokerto untuk skala Karesidenan Surabaya,” imbuhnya.

Sebagai tempat pelaksanaan dipilihlah Makam Pahlawan Panggreman. Tempat yang kini bernama Taman Makam Pahlawan (TMP) Gajah Mada itu merupakan lokasi dikebumikannya korban pertempuran di front pertahanan Surabaya Barat.

Menurutnya, garis pertahanan Krian-Legundi dulu merupakan medan pertempuran setelah jatuhnya Surabaya. Selama pertempuran berkecamuk, hampir setiap hari selalu ada korban yang dikubur di Taman Makam Panggreman.

Yuhan menambahkan, pemilihan lokasi tersebut karena Residen Soedirman ingin menegaskan bahwa peringatan Hari Pahlawan adalah mengenang mereka yang gugur di medan pertempuran. ”Hari Pahlawan identik dengan kesedihan dan kehilangan, bukan peringatan sebuah kemenangan,” tegasnya.

Oleh karena itu, peringatannya tidak dilakukan di lapangan dengan peserta besar-besaran demi menunjukkan kekuatan. Dalam pelaksanaannya, dilakukan penghormatan serta tabur bunga pada pusara yang berjajar di kompleks pemakaman Panggreman.


 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia